jump to navigation

Keinginan yang Membara… 25 November, 2007

Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.
Tags: , , , ,
add a comment

The difference between successful person and others it not a lack of strength,

not a lack of knowledge, but rather a lack of will”.

(Vince Lombardi)

~

Perbedaan antara orang yang sukses dengan yang tidak sukses bukanlah karena kekurangan kekuatan, bukan pula karena kekurangan pengetahuan, tetapi karena kekurangan hasrat keinginan”.

 

 

 

Sering kita merasa heran dan tercengang atas pencapaian orang-orang besar yang telah mengukir prestasi yang membanggakan dan mencapai sukses yang mengagumkan. Sering kita bertanya, apa yang menyebabkan mereka bisa menjadi sukses dan berhasil dalam bidang yang mereka geluti? Lantas, apakah kita bisa menjadi seperti mereka – orang-orang yang berhasil?

 

Ternyata terdapat kesamaan yang mutlak dimiliki oleh orang-orang yang meraih kesuksesan dalam hidupnya. Kesamaan tersebut tak pelak lagi menjadi ciri dan sifat yang dimiliki oleh mereka. Tahukah anda apa kesamaan mereka tersebut? Ya, kesamaan mereka terletak pada besarnya hasrat dan tingginya keinginan (motivasi) mereka untuk mewujudkan apa yang mereka cita-citakan. Bukan kecerdasan, bukan ketampanan, bukan pula keberlimpahan modal atau kekuatan badan. Tapi, orang-orang yang sukses sama-sama dicirikan oleh betapa kerasnya mereka berusaha, betapa tekunnya mereka bekerja, dan betapa masifnya cita-cita yang mereka perjuangkan.

 

Kita mengenal Thomas Alfa Edison yang dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap bodoh oleh gurunya. Ia lalu dididik langsung oleh ibunya, kemudian berhasil menjadi salah satu penemu (inventor) yang paling produktif di zamannya. Namun, itu tidaklah terjadi dengan tiba-tiba. Lewat beribu-ribu percobaan (kegagalan) barulah ia menemukan bola lampu yang fenomenal. Apa yang mengantarkan Thomas Edison kepada kesuksesannya itu? Tak lain adalah ketekunannya untuk bekerja, yang dilandasi oleh semangatnya yang terus terjaga membara.

 

Kita juga tahu, Ir. Soekarno yang harus melewatkan kesempatan untuk hidup mapan, keluar-masuk penjara dan diasingkan, namun tetap berjuang menyuarakan kebebasan dan kemerdekaan. Melalui proses yang panjang, setelah bekerja dan berjuang, ia pun kemudian menjadi salah satu orang yang paling berjasa bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Adalah semangatnya yang berapi-api dan keinginannya yang menjulang tinggi yang mampu membuatnya memimpin bangsa ini dan membawa kita ke gerbang kemerdekaan.

 

Lalu, contoh terakhir kita – dan yang paling sempurna – ialah Sang Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah seorang yang ummi (buta huruf – tidak ‘berpengetahuan’), namun merupakan tokoh nomor satu sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Berbekal “panggilan langit”, beliau lalu berjuang membawa manusia ke jalan yang benderang nan penuh cahaya kebaikan. Apakah perjuangan beliau langsung berhasil? Tidak. Bahkan pada awalnya beliau mendapatkan tekanan yang sangat berat, penolakan yang amat hebat, serta perlawanan dan kebencian yang begitu sarat, justeru dari orang-orang yang satu kaum dengannya. Lihatlah bagaimana paman-pamannya yang jahat bersekongkol untuk membunuhnya, bagaimana pemuka-pemuka Thaif – yang diseru oleh beliau kepada Risalah Tuhan – menyuruh anak-anak untuk melempari beliau dengan batu, lalu bagaimana gundah dan sedihnya perasaan beliau ketika ditinggalkan oleh orang-orang tercintanya yang selalu mendukungnya – kematian Khadijah, istrinya dan Abu Thalib, pamannya.

 

Akan tetapi, beliau tidak surut langkahnya hanya masalah yang demikian. Ketika beliau akan dibunuh, tak lama kemudian beliaupun berhijrah ke Madinah – dan dari sinilah kemenangan mulai ditampakkan. Ketika beliau terluka dan berdarah karena lemparan anak-anak Thaif, beliau terus berjuang menyuarakan kebenaran kepada siapa saja. Dan ketika duka sedih merundungnya akibat kepergian isteri dan pamanda tercintanya, beliau kemudian memeroleh pengalaman yang sangat mulia yang tak pernah dialami oleh satupun makhluk selainnya – Isra dan Mi’raj – untuk terus menjaga dan memompa semangatnya dalam berdakwah. Lalu, berangsur-angsur, setelah 13 tahun (3 tahun dengan diam-diam, 10 tahun terang-terangan) berdakwah di kampung halamannya, Makkah, lalu hijrah dan berjuang di Madinah selama 10 tahun, apa yang diusahakan olehnya pun mulai menuai hasil. Kemenangan demi kemenangan berhasil dicatatkan, kekuatan yang supreme kemudian terwujudkan.

 

Sekali lagi, dan terakhir kalinya, apa yang menyebabkan kemenangan itu datang? Adalah semangat yang kokoh, keinginan yang teguh dan hasrat yang selalu menyala, yang mampu membawa kita kepada apa yang kita cita-citakan. Barangsiapa yang memiliki semangat, keinginan dan hasrat yang tak pernah padam, maka kemenangan, kesuksesan dan kebahagiaan adalah suatu keniscayaan. Milikilah sifat ini, dan jangan melepaskannya. Sungguh inilah pembeda antara orang-orang yang gagal dan menang dalam berjuang.

WUJUDKAN MIMPI-MIMPI-MU… 25 November, 2007

Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.
Tags: , , , , ,
add a comment

Anything in life worth having is worth working for”.
(Andrew Carnegie)

~

 

Apapun yang dalam hidup berharga untuk dimiliki adalah pantas untuk didapatkan”.

Kita memiliki banyak impian dalam hidup ini, bukankah demikian? Bahkan banyak dari kita yang sudah memiliki impian sejak lama, sejak kita kecil dan masih bocah. Mungkin di antara kita ada yang bermimpi menjadi dokter, menjadi insinyur, tentara, atau, presiden. Lambat laun, kitapun diuji… Apakah kita adalah orang yang hanya cuma bisa bermimpi? Ataukah kita adalah orang yang berjuang demi mimpi-mimpi? Disinilah letak perbedaannya, antara para pecundang dan manusia-manusia pemenang.

 

Para pecundang adalah mereka yang terlalu cepat menyerah dalam setiap kesempatan. Mereka punya mimpi, tapi hanya sebatas mimpi, mimpi yang hanya menjadi cerita atau “dongeng” sebelum tidur… Mimpi yang mereka miliki tidak menjadi poros setiap usaha mereka. Alhasil, ketika mereka pun menemui berbagai kendala dalam upaya mewujudkan mimpinya, sedemikian mudah dan cepatnyalah mereka menyerah…

 

Adapun para pemenang adalah orang-orang yang tegar berdiri dalam keadaan apapun demi memperjuangkan mimpi-mimpi yang mereka miliki… Mereka memahami betul arti dan konsekuensi dari “bermimpi” atau menjadi “pemimpi”… Mereka punya mimpi, tapi bukan hanya sebatas mimpi, bukan mimpi yang menjadi bunga-bunga tidur. Bahkan, mimpi mereka hadir dalam realitas sehari-hari… Mimpi-mimpi mereka menjelma dalam setiap tindakan dan aksi yang mereka lakukan… Pun, ketika perjuangan mewujudkan mimpi dihadapkan pada berbagai masalah dan aral lainnya, mereka toh tetap berjuang menyongsong mimpi.. Bagi mereka, gugur dalam memperjuangkan mimpi jauh lebih baik dan terhormat daripada melepaskan mimpi yang mereka miliki…

 

Jelaslah, yang membedakan mengapa para pemenang selalu berhasil mewujudkan mimpinya – sedangkan para pecundang hanya sekadar bermimpi saja – adalah pandangan yang dimiliki para peemenang tersebut terhadap mimpi-mimpinya… Setiap mimpi pasti punya nilai, bobot dan orientasi tersendiri… Sehingga, hal yang tak kalah pentingnya dalam perspektif seorang pemimpi – yang menjadi pemenang – adalah upaya untuk memaknai dan merefleksikan mimpi-mimpi yang mereka tetapkan…

 

Dua orang yang memiliki pencapaian yang sama – berdasarkan mimpi yang berbeda – tidaklah dikatakan sama-sama pemenang… Misalnya, seorang anak dokter yang kemudian menjadi dokter –karena tuntutan dan mimpi orang tuanya– meskipun anak itu ingin menjadi insinyur, maka anak tersebut “gagal” mewujudkan mimpinya sendiri.. Ia hanya mewujudkan mimpi orangtuanya. Berbeda dengan, misalnya, seorang anak lain yang bermimpi menjadi dokter, kemudian ia berhasil menjadi dokter karena benar-benar bertekad untuk menjadi dokter – terlepas dari apakah sang anak adalah anak dari dokter atau bukan – maka kita katakan bahwa anak itu berhasil memenangkan mimpinya.

 

Akan tetapi, apabila si anak yang pertama tadi memaknai tuntutan orangtuanya sebagai “mimpi”nya sendiri, tentu lain halnya. Bisa jadi, si anak yang ingin menjadi insinyur lalu kenyataannya menjadi dokter tersebut lantaran menjadikan “ketaatan kepada tuntutan orang tua” sebagai mimpinya yang paling penting. Bahwa, membahagiakan orang tua dengan menuruti permintaan mereka adalah mimpinya yang sangat mendasar.. Maka, kita dapat memaknai keadaan anak itu dalam konteks kemenangan…

 

Oleh karena itu… jangan takut bermimpi… Soekarno bahkan pernah berkata : “Gantungkanlah cita-cita (impian)mu setinggi langit”… Dan, yang jangan sampai luput dari perhatian kita adalah pemaknaan kita terhadap mimpi-mimpi tersebut… Mimpi seharusnya bukanlah sesuatu yang muluk-muluk, bukan pula sesuatu yang mustahil untuk digapai… Meski demikian, mimpi tersebut sedapatnya mengandung nilai-nilai luhur, muatan spiritualitas dan misi kebaikan bagi sesama.

 

Hal yang harus ditetapkan sebelum bermimpi adalah mendeskripsikan keinginan-keinginan kita… Lalu, secara sadar ataupun tak sadar, memunculkan “impian” yang tersusun dan tergambar dengan jelas… Kemudian, saatnya mengevaluasi, apakah mimpi yang hadir itu pantas untuk diwujudkan (is it worthy)? Dan, apakah mimpi itu punya nilai/harga yang cukup tinggi sehingga pantas untuk diperjuangkan…? Jika demikian, saatnya bangun dari tidur lelap untuk mewujudkan impian tersebut – dan ini adalah cara yang terbaik. Bangunlah, bergerak dan bekerjalah sepenuh hati, sekuat tenaga, semaksimal mungkin untuk memperjuangkan mimpi-mimpi itu… Jangan menyerah, dan pantanglah untuk menyerah… Karena bagaimanapun juga, anda toh telah yakin dan pasti, mimpi yang anda perjuangkan itu memang layak untuk diperjuangkan – apapun hasilnya… Selamat mewujudkan mimpi…