JANGAN PERNAH BERHENTI ! 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Akhir, Berhenti, Proses, Sukses
add a comment
“Success is never ending. Failure is never final”.
(Robert Schuller)
~
“Sukses tidak akan pernah berakhir.
Kegagalan bukanlah sebuah akhir”.
Banyak orang mengira kesuksesan adalah tujuan akhir maupun pencapaian dari suatu hasrat keinginan. Ketika kita mampu meraih pekerjaan –menyisihkan pesaing lainnya, kita menganggap kita telah sukses. Ketika kita mampu menempati posisi yang terhormat dan ekslusif, kita pun berbangga akan hal itu. Atau, ketika kita berhasil lulus ujian, mendapatkan kekasih pujaan, memperoleh kenaikan pangkat dan gaji yang gila-gilaan, dan seterusnya, kita selalu ingin menepuk dada kita dan mengatakan pada dunia: “Aku berhasil!”.
Sukses adalah lawannya kegagalan. Jika kesuksesan dimaknai sebagai tujuan akhir ataupun hasil pencapaian, maka kegagalanpun dimaknai demikian. Orang yang gagal mencari pekerjaan, gagal meraih jabatan, gagal dalam ujian, gagal dalam cinta, dan seterusnya, menganggap itu adalah hasil untuk mereka, dan merasa bahwa itu adalah yang terbaik untuk mereka dapatkan. Lalu, orang-orang tersebut senantiasa murung dan termenung, terpekur pada dirinya sendiri, selalu menyiapkan beribu-ribu alasan untuk menjelaskan kenapa mereka “gagal”, seraya mengelus dadanya dan berkata: “Aku hanya seorang pecundang”.
Penafsiran terhadap makna “Sukses” vs. “Gagal” tersebut di atas cenderung memandang “Sukses” ataupun “Gagal” sebagai “status of condition”. Memandang Sukses/Gagal sebagai “status kondisi” adalah kurang bijak. Hal ini dikarenakan “status keadaan” tersebut hanya diperoleh di bagian akhir saja, yang berarti bahwa ia berorientasi pada hasil –bukan pada proses. Apakah adil jika kita menilai kesuksesan/kegagalan usaha seseorang hanya dengan melihat kondisi/hasil akhirnya saja? Jika anda mendapat nilai ujian yang buruk dalam suatu pelajaran, apakah otomatis itu berarti anda gagal dalam pelajaran tersebut? Kiranya tidak demikian. Memandang Sukses/Gagal sebagai “pencapaian” menunjukkan pemahaman kita masih berorientasi pada hasil – bukan proses.
Sekarang, bagaimana jika kita memandang “Sukses” dan “Gagal” sebagai suatu “proses”? Ya, “proses” dan bukan “hasil”. Atau dengan kata lain, “characteristic of condition” –bukan “status of condition”. Ini berarti bahwa kita menilai kesuksesan atau kegagalan seseorang bukan dari hasil akhirnya saja, tetapi berdasarkan pengamatan terhadap sifat/ciri yang kita dapati selama proses itu terjadi. Kembali ke contoh ujian di atas. Jika kita gagal dalam ujian (mendapat nilai yang buruk) pada suatu pelajaran disebabkan oleh kita memang malas, tidak berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dan tidak mempersiapkan ujian dengan baik, maka itu adalah sebenar-benarnya kegagalan (absolute failure). Sedangkan, jika kita telah menjalani proses pembelajaran dengan tekun, berperan serta dan telah mempersiapkan diri sebaik mungkin, kemudian kita gagal dalam ujian hanya karena suatu faktor “X” –yang diluar kehendak dan kekuasaan kita– tentunya ia tidak dipandang sebagai kegagalan yang mutlak (absolute failure), melainkan hanya merupakan kegagalan yang sifatnya relatif (relative failure). Disinilah letak perbedaannya, antara memandang sukses/gagal sebagai “hasil” dan “proses”.
Prinsip yang sama juga berlaku untuk menentukan “absolute success” dan “relative success”. Kesuksesan yang sebenarnya (“absolute success”) adalah kesuksesan yang lahir dan berakar dari kesuksesan lain, yakni kesuksesan yang saling mendukung dan memengaruhi; kesuksesan yang konstruktif dan produktif. Adapun kesuksesan yang relatif (“relative success”) adalah kesuksesan parsial yang hanya menyentuh aspek-aspek tertentu saja. Kita tentu mengatakan bahwa seorang yang menjadi CEO di sebuah perusahaan besar namun menjadi (burung) “BEO” di tengah keluarganya sendiri, bukanlah orang yang sukses dengan sesungguhnya. Yang kita inginkan, kita senantiasa sukses dimana saja dan kapan saja, entah itu di lingkungan keluarga, masyarakat (sosial), dan pekerjaan (profesional). Dan inilah yang dimaksud dengan kesuksesan yang hakiki.
Apakah untuk meraih kesuksesan yang hakiki itu terasa berat dan mustahil? Apakah anda menganggap tak akan mungkin bisa menjadi orang yang sukses secara absolut? Disitulah tantangannya. Dan kembali lagi, mari kita pandang kesuksesan itu sebagai “proses”. Tantangan yang kita hadapi adalah bagaimana kita sebaik mungkin menjadi “sukses” dengan menempuh “jalan-jalan kesuksesan itu sendiri” –menjalani prosesnya dengan benar. Tetap tatap tujuan anda, tapi jangan abaikan bagaimana cara anda sampai ke tujuan tersebut. Dengan demikian, saya yakin, apapun hasil akhirnya, kita percaya, itu adalah hasil yang benar-benar terbaik (truly the best) untuk anda. Sehingga dengan demikian, tak ada salahnya mengatributkan “kesuksesan” di pundak anda. Kiranya benar jika dikatakan bahwa : “Kesuksesan itu tidak pernah berakhir –karena ia tidak dilihat pada bagian akhirnya, melainkan pada prosesnya. Dan Kegagalan juga bukan sebuah akhir, karena tak ada kata “gagal” bagi seorang yang telah berusaha sungguh-sungguh melalui proses yang “bersih”, meskipun hasilnya belum sesuai yang diharapkan”. Maka, jangan pernah berhenti menjadi sukses…