jump to navigation

HATI yang MANDUL 25 November, 2007

Posted by Ahmad Arafat in Islamic Thoughts.
Tags: , , , , ,
add a comment

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,
lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu

mereka dapat memahami
atau mempunyai telinga yang dengan itu

mereka dapat mendengar?
Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta,
tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
~ QS. Al Hajj : 46 ~


Ketika saya berbicara tentang “hati”, ada sedikit perasaan yang mengganjal. Ternyata saya berbicara tentang sesuatu yang abstrak adanya. Anda tahu, saya tidak sedang membicarakan organ hati (liver) – organ kelenjar besar di dalam perut – yang berfungsi untuk melawan racun (toxin). Akan tetapi, apa yang saya maksud sebagai “hati” disini merujuk pada sebuah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:


“Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal darah/daging.
Bila segumpal daging itu baik, maka baiklah keseluruhannya.
Dan bila segumpal daging itu buruk, maka buruklah seluruhnya.
Ketahuilah, segumpal daging itu ialah al-Qalb (Hati)”
.


Itulah hati, sesuatu yang disebut oleh baginda nabi berwujud daging/darah, namun memiliki kekuasaan yang amat hebat dalam menentukan keadaan tubuh (diri) keseluruhan. Menakjubkan melihat hati sebenarnya adalah raja di singgasana jasad. Tak heran mengapa hakikat, substansi dan eksistensi hati sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang ramai dibicarakan. Sehingga demi kemudahan, saya tidak akan membahas perkara hati yang menyinggung hakikat, substansi dan eksistensinya. Saya hanya ingin sekadar membicarakan fungsi, peranan dan kinerja hati tersebut.

Manusia dibekali oleh Sang Pencipta dengan (hawa) nafsu, akal dan – tentunya – hati, dan inilah yang membedakannya dari makhluk yang lain. Kita mengenal nafsu sebagai kecenderungan yang negatif, berisi dorongan-dorongan yang bersifat “hewani”, meskipun secara mutlak tidak dapat dikatakan bahwa nafsu itu pasti buruk. Keberadaan nafsu adalah pendorong lestarinya dan berlanjutnya kehidupan anak cucu Adam di muka bumi ini. Nafsulah yang mendorong kita untuk memenuhi hajat akan makanan -melepas lapar dan dahaga; menikah -menyalurkan kebutuhan biologis-genetis; marah -menyatakan luapan emosi; dan seterusnya. Masalah yang seringkali dilekatkan pada nafsu tersebut adalah ketika upaya pemenuhan nafsu dilakukan secara serampangan (membabi buta) dan atau secara berlebihan (melewati batas kecukupan), inilah yang menyebabkan nafsu itu bertendensi buruk. Sesungguhnya nafsu itu laksana binatang tunggangan liar yang harus senantiasa dikekang dengan cerdik: jika tali kekangnya lepas maka ia akan menerkam kita, jika tali kekangnya terlalu kencang maka kita akan kehilangan tunggangan kita.

Kemudian akal, kita mengetahuinya sebagai “proses dan hasil berfikir”. Akallah yang membuat kita mampu bertahan dan berusaha memenuhi hajat hidup. Akallah yang menunjukkan bagaimana kita bertani dan beternak untuk memeroleh makanan; bagaimana kita melindungi diri dari kerasnya alam (cuaca, iklim, binatang buas, dan ancaman lainnya); bagaimana kita memperbaiki dan mengembangkan kuantitas dan kualitas hidup yang kita inginkan. Nafsu yang mendorong kita untuk berbuat, akallah yang menjadi penuntun apa dan bagaimana yang harus kita perbuat. Ibaratnya, jika nafsu adalah “gaya dorong” (thrust) yang dihasilkan oleh mesin jet pesawat terbang, maka akal adalah “sistem kendali terbang”[1]nya – yang akan mengarahkan perjalanan pesawat terbang itu.

Adapun hati (qalbu), sesungguhnya ia adalah sumber kebijaksanaan, poros kesadaran juga maqom perasaan dan keyakinan. Hati – terlepas dari segala kemisteriusan dan keanehannya – adalah tempat kita meletakkan kedamaian dan wadah kita memupuk cinta. Hati – meskipun terlalu abstrak dan sulit untuk difahami – seringkali menjadi pabrik inspirasi, gudang motivasi, dan pos ekspresi. Hati juga bisa menjadi absurd, mengingat betapa sering, mudah dan cepatnya kondisi hati berubah. Namun, hal itu sebenarnya wajar adanya, mengingat “hati” (al-Qalb) secara bahasa bermakna “yang berbolak-balik“.

Lalu, dimana posisi hati di antara dua komponen diri sebelumnya – yakni nafsu dan akal? Kembali ke permisalan pesawat terbang di atas: jika nafsu adalah “gaya dorong” pesawat, akal adalah “sistem kendali terbang”nya, maka hati adalah “sang pilot”nya. Dengan demikian, hati adalah penentu dan pengendali utama pada pesawat terbang tersebut. Hati – sebagai ‘pilot’ jasad – adalah unsur yang bertanggung jawab dalam menentukan keselamatan/kecelakaan sebuah “pesawat” diri. Bukan main vitalnya fungsi dan peranan sang raja itu.

Jika demikian adanya, apakah lantas kita meletakkan kedudukan “hati” di atas posisi “nafsu” dan “akal”? Sepintas bisa kita anggap demikian, mengingat kekhasan dan keutamaan hati. Namun, saya cenderung meletakkan ketiga komponen tersebut dengan peran dan fungsi tersendiri dalam suatu sistem dinamik-kompleks yang berproses dan memiliki siklus terbuka (open loop). Terjadi berbagai proses[2] antara nafsu, akal dan hati, dan proses itu dilengkapi dengan umpan-balik (feedback) -agar dapat mengantisipasi ‘gangguan’ dan perubahan. Adapun siklus disini dimaksudkan untuk menunjukkan kesinambungan kerja, interaksi serta saling keterkaitan antara satu pihak dengan yang lain. Saya katakan sebagai siklus terbuka sebab selalu ada kesempatan bagi “pihak luar” (faktor “X”) untuk “masuk” dan mengintervensi – atau minimal; berinteraksi – pada proses maupun unsur yang ada.

Terdapat pembagian tugas-kewenangan serta proporsi kekuasaan dan prioritas fungsi bagi tiap-tiap unsur nafsu-akal-hati tadi. Berangkat dari permisalan yang sudah saya berikan, kita melihat bahwa hati adalah unsur yang memiliki kewenangan yang paling besar, kekuasaan yang paling utama dan prioritas fungsi yang paling penting. Akal, berikutnya menjadi unsur yang kedua; disusul oleh nafsu pada prioritas dan kewenangan yang paling rendah. Inilah kondisi idealnya.

Masalah mulai muncul ketika ketiga unsur diri tersebut (nafsu-akal-hati, bisa juga disebut: body-mind-soul) tidak berfungsi sebagaimana mestinya atau tidak bekerja secara optimal. Bagaimanakah keadaan orang yang tidak lagi memiliki nafsu untuk makan? Bagaimanakah kondisi orang-orang yang tidak lagi waras (berakal)? Bagaimanakah status orang yang berbuat kejahatan? Itulah implikasi yang bisa terjadi ketika ketiganya tidak lagi normal (sehat). Masalah itu bisa bertambah parah lagi jika hubungan dan interaksi yang menjalin proses antar-unsur tadi terputus atau terpecah; bisa juga terjadi isolasi sepihak yang menjadikan suatu unsur resisten terhadap unsur lain; atau, terjadi perubahan komposisi penguasaan (kedudukan) dan wewenang serta prioritas masing-masing unsur.

Mungkin keterangan di atas masih sulit untuk dicerna. Saya akan memberi suatu contoh.

Ada seseorang yang sangat kelaparan, namun ia tidak memiliki makanan sedikitpun. Nafsunya mendorongnya untuk memenuhi hajatnya itu, maka akalpun bekerja untuk menunjukkan jalan pemenuhan yang memungkinkan. Akal lalu hadir memberikan alternatif pemenuhan kebutuhan makanan yang diinginkan. Alternatif tersebut adalah; mencuri makanan orang lain, menodong/merampas harta orang lain untuk membeli makanan, mengemis dengan mengharapkan belas-kasih orang lain, atau bekerja demi mendapatkan upah untuk membeli makanan. Kini, yang tersisa hanyalah pilihan mana yang akan dilakukan? Maka keduanya (nafsu dan akal) menyerahkan pilihan tersebut pada sang hati. Hatilah yang menimbang-nimbang, sampai akhirnya memutuskan pilihan yang akan dibuat. Hati yang terang lagi sehat tentunya akan memilih pilihan yang baik dan benar - yakni bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dengan terhormat. Adapun hati yang sakit lagi gelap, maka ia hanya berputar menjatuhkan pilihan pada alternatif-alternatif yang buruk lagi salah, lalu dilakukan secara kalap untuk memenuhi kebutuhannya dengan singkat.

Contoh tersebut di atas menekankan berharganya peranan dan fungsi hati. Hati yang “sehat” akan menjadi sebab keselamatan dan kebahagiaan – meskipun nafsu dan akal belum tentu “puas”. Sebaliknya, terlalu menurutkan nafsu ataupun akal – tanpa mengindahkan hati – akan membuat hati “sakit” atau “mati”, yang akan menjadi sebab kecelakaan dan kerugian. Nafsu senantiasa dicirikan dengan ketidak-puasan dan tuntutan untuk memenuhi keinginan yang membara. Akal selalu diwarnai keingin-tahuan yang sangat besar dan tanda tanya atas setiap perkara. Adalah hati, yang mengemban tugas untuk mengekang “nafsu” dan membatasi “akal”, tanpa melupakan hak keduanya. Semuanya harus diarahkan secara benar dan didaya-gunakan dengan tepat dalam rangka menjalani kehidupan. Inilah tugas berat yang dimiliki oleh hati sehingga menjadikannya unggul dan ‘lebih’ dari yang lainnya.

 

Sebenarnya Tuhan menganugerahkan kepada manusia ketiga unsur diri tersebut (akal, nafsu dan hati) sebagai alat untuk menjaga kehidupan manusia, mengelola keadaan di bumi, serta melestarikan penghambaan yang bersih hanya kepadaNya. Masing-masing dari ketiga unsur itu memiliki peran yang jelas, tegas dan krusial. Tak akan pernah bahagia orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai pemimpin bagi akal dan hatinya. Tiada pula akan tenang, diri yang mengangkat akalnya sebagai dewa di atas segala-galanya. Adalah hati, yang dijadikan olehNya tempat bersemayamnya segala keindahan rasa, kesucian jiwa dan kekuatan semangat (spirit). Hati adalah ”oase” jiwa. Ketika nafsu merengek manja untuk dipenuhi, di saat akal membujuk rayu untuk diikuti, maka di saat itulah seharusnya “sang raja” hati mengambil keputusan yang terbijak dan terbaik untuk semuanya.

 

Semoga Tuhan memberikan kita hati yang superior, akal yang ‘cukup’ jenius, dan nafsu yang serba komplit. Agar kehidupan yang senantiasa terfragmentasi ini dapat dijalani dengan khidmat dalam nuansa harmoni yang bermakna. Amin...

 

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran
bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”
~ QS. Ali ‘
Imraan : 13 ~


^ ~ ^


[1] Dalam dunia dirgantara, sistem kendali terbang suatu pesawat udara (konvensional) terdiri dari Aileron
untuk bergerak putar (roll) pesawat, Elevatoruntuk gerakan naik-turun (pitch) pesawat, dan Rudderuntuk gerakan belok (yaw) pesawat.

[2] Proses yang bisa terjadi pada domain nafsu, misalnya: rangsangan (stimulus), aktivasi, dan aksi. Proses pada domain akal, antara lain: berfikir (bernalar), analisis, sintesis, dan imajinasi (daya cipta). Sedangkan proses pada hati, contohnya: intuisi, inspirasi, motivasi, refleksi dan proyeksi.


BERMIMPI YANG TINGGI… 25 November, 2007

Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.
Tags: , , , , ,
add a comment

Shoot for the moon.

Even if you miss, you will land among the stars”.

(Les Brown)

~

Arahkan sasaranmu ke bulan. Bahkan jika engkau meleset,

engkau akan mendarat di antara bintang-bintang”.

 

 

Mungkin ada yang bertanya-tanya, seberapa pentingnya kita memiliki cita-cita yang tinggi? Bukankah cita-cita yang terlalu tinggi hanya akan mengganggu pikiran kita, dan membuat kita merasa terbebani? Bukankah jauh lebih baik jika hanya memiliki mimpi sederhana, tetapi tak sulit untuk diwujudkan?

 

Well, saya akan memberikan sebuah ilustrasi. Ada dua buah kebun. Satu kebun yang sangat luas, satunya lagi kebun yang kecil dan sederhana. Isi dua kebun tersebut juga berbeda. Kebun yang kecil dipenuhi oleh berbagai pohon rindang yang berbuah lebat, bermacam tumbuhan dapat ditemui di dalamnya, sungguh menggiurkan bagi mereka yang ingin menghilangkan lapar dengan mudah. Sedangkan kebun yang lainnya, kebun yang sangat luas tersebut, tidak banyak memiliki pohon berbuah atau tumbuh-tumbuhan. Namun, di dalam kebun yang luas itu tersimpan banyak harta karun berupa emas permata juga logam berharga. Dan, kebun tersebut dijaga oleh beberapa binatang buas yang ganas. Nah, jika dua kebun tersebut kita hadapkan pada orang-orang, yang mana yang akan mereka pilih untuk dimasuki?

Orang-orang yang berkemauan rendah tentu akan mencari aman dan sudah merasa puas bisa berada di kebun kecil yang dipenuhi pepohonan tersebut –cukup untuk memberi mereka makanan berhari-hari. Nampaknya lebih banyak orang yang memilih kebun yang kecil tersebut, sehingga tak lama kemudian kebun itupun menjadi penuh sesak dengan orang-orang, lalu persediaan makanan di dalamnya menjadi menipis dan terus berkurang. Maka, orang-orang di dalam kebun kecil tersebut saling bersaing berebut makanan yang tersisa. Entah seberapa keras persaingan dan seberapa ganas perkelahian yang mungkin terjadi di dalam kebun kecil itu. Hanya hukum rimbalah yang berlaku; yang kuat bertahan, yang lemah tertawan.

Kemudian, adakah orang yang memilih kebun yang luas dan kaya namun berbahaya tersebut? Mungkin jumlahnya sedikit, tapi selalu ada orang-orang yang berkemauan tinggi untuk menjamah kebun luas tersebut. Mungkin kebun luas itu memiliki binatang buas yang menjaganya, akan tetapi luasnya kebun itu sendiri memberikan kesempatan bagi pendatangnya untuk menjelajah dengan leluasa. Bahkan, bisa jadi, karena orang-orang yang mendatangi kebun tersebut lebih sedikit, maka mereka justeru akan berkolaborasi, bekerja sama, saling membantu untuk mencapai tujuan mereka yang sama; mengambil harta karun yang berharga. Maka, mulailah orang-orang itu bekerja mencari apa yang mereka cari. Selang waktunya mungkin cukup lama, sebab mereka berada dalam kebun yang sangat luas. Pencariannya mungkin bisa menjadi sangat melelahkan, dan juga mendebarkan. Begitulah, pencarian harta karun itu penuh teka teki. Bahkan ketika mereka telah bekerja sama, bisa jadi, mereka harus berhadapan dengan sang binatang buas penjaga kebun itu. Namun, setelah berusaha dengan mantap, masing-masing orang yang memasuki kebun itu berhasil membawa pulang bagian dari harta karun yang sangat berharga itu. Merekapun kembali dengan perasaan senang karena berhasil mendapatkan apa yang selama ini mereka cari.

Itulah permisalan antara orang-orang yang memiliki cita-impian yang rendah dan mereka yang bercita-cita mulia. Demikianlah perbandingan keadaan antara orang-orang yang bekerja hanya demi kebutuhan yang sesaat, dan mereka yang berjuang demi sesuatu yang jauh lebih berharga dan bermakna. Dan, sungguh berbeda pulalah akhir dan akibat yang diperoleh oleh kedua jenis manusia tersebut.

Orang yang bercita-cita rendah, hanya demi memenuhi nafsunya, akan mendapati dirinya berada di tengah-tengah ‘padang gersang’ yang dipenuhi oleh manusia ‘berhati serigala’. Mereka akan saling bertarung demi memperebutkan persediaan yang meskipun banyak, namun terbatas. Ingat, hanya ada hukum rimba yang berlaku di antara mereka.

 

Sedangkan orang-orang yang bercita-cita tinggi lagi mulia, mereka berjuang demi memperoleh sesuatu yang lebih berharga dan demi memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Mereka kemudian mendapati dirinya berada dalam medan perjuangan yang sarat tantangan bersama orang-orang lain yang serupa. Mereka lalu bekerja sama, bersatu, saling membantu dan mendukung demi meraih tujuan mereka bersama. Tak ada hukum rimba yang berlaku, meskipun mereka sedang berada di tengah rimba yang tak tentu. Hukum yang berlaku di tengah-tengah mereka adalah hukum kooperatif, kolaboratif, dan konstruktif. Mereka terus berjuang tanpa gentar, apapun yang mungkin terjadi. Bahkan ketika tujuan mereka belum tercapai, atau hasil yang diperoleh belum sesuai dengan yang diharapkan, mereka tak kecewa dan berputus asa. Sebab, mereka tahu, mereka telah mendapatkan “hal lain” yang tak kalah berharganya: “kebersamaan”.


Menciptakan KESEMPATAN 25 November, 2007

Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.
Tags: , , ,
add a comment

You will never find time for anything. You must make it”.

(Charles Buxton)

~

Kamu tidak akan pernah memperoleh waktu untuk (melakukan) sesuatu.

Kamu harus membuatnya”.

 

Manusia – sehebat dan sekuat apapun ia – tetaplah makhluk yang lemah. Mereka tidak memiliki kekuasaan apapun untuk menentukan takdir, mengetahui rahasia kehidupan dan mewujudkan semua keinginannya. Manusia adalah makhluk yang terbatas, karena ia tunduk di bawah aturan hukum alam yang tak mungkin dapat ditentangnya. Manusia tak dapat merubah hukum alam tersebut, mereka hanya dapat memanfaatkannya untuk mengelola kehidupannya.

 

Salah satu parameter kehidupan manusia yang sifatnya terbatas adalah usia/umur – kita dapat menyebutnya juga dengan istilah “waktu”. Semua manusia diberi jatah umur yang niscaya akan habis pada waktunya. Meskipun usia manusia tersebut bervariasi, terdapat kesamaan mengenai proses dan tahapan hidup yang dijalani oleh manusia dalam rentang waktunya. Semua manusia umumnya mengalami jenjang hidup yang serupa; lahir-muda-tua-mati. Sekilas hal ini membawa kita pada asumsi bahwa – jika demikian – maka keadaan manusia itupun sama saja pada akhirnya. Ternyata tidak demikian, justeru dari sini kita temui beragam perbedaan “kualitas” manusia yang menjalani kehidupannya.

 

Sesungguhnya hakekat umur tidaklah terletak pada panjang atau pendeknya usia seseorang. Akan tetapi, ia ditentukan dari seberapa berharga waktu itu dilaluinya. Usia hanyalah lembaran-lembaran dari “buku kehidupan”, amal perbuatanlah yang menjadi “goresan tinta”nya, yang mengukir sejarah. Kualitas dan derajat kemuliaan seseorang tidaklah ditentukan dari tebalnya “buku kehidupan” tersebut, namun dari seberapa berharganya “tulisan” yang terdapat di dalamnya.

 

Itulah sebabnya salah satu ciri dari orang yang sukses adalah penghargaannya yang amat tinggi terhadap waktu. Mereka selalu tidak suka menghabiskan usianya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan berguna. Mereka pun memandang detik, menit, jam, hingga tahun yang berganti adalah sangat berarti, karena ia tak akan pernah kembali lagi. Alhasil, mereka selalu bersemangat menjalani kehidupannya. Antusiasme mereka menjadi motivasi untuk terus berkarya dan berdedikasi. Mereka tak pernah pasif menunggu, bahkan selalu aktif berusaha. Bagi mereka, waktu bukan hanya “bagaikan uang” (time is money), pun bukan hanya “bagaikan pedang” (al-waqtu ka as-saifun), tapi juga “modal pinjaman” (capital debt) yang harus dibayar dengan amalan kebaikan nan berharga…

 

Kondisi orang-orang mulia di atas sangat berkebalikan dengan keadaan orang-orang yang lemah tak berdaya yang dicirikan dengan sifat kemalasannya. Mereka adalah orang yang jarang sekali menggoreskan “tinta emas” dalam lembaran “buku hidup”nya. Mereka tenggelam dalam lena dunia yang menghanyutkan. Mereka termakan angan-angan palsu, selalu meragu, dan suka menunda-nunda amal kebaikan. Mereka bukan tidak melihat keuntungan dan kemuliaan dari melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk dirinya ataupun orang lain. Akan tetapi, ketika mereka dihadapkan pada itu semua, mereka hanya berkata: “Tunggulah… kelak aku akan melakukannya.. tapi jangan sekarang… sekarang aku hanya ingin beristirahat dan menikmati hidupku yang singkat ini…”. Itulah pendirian mereka.

 

Perumpaan orang-orang tersebut bagaikan seorang hamba sahaya yang diperintahkan oleh sang Raja untuk mengumpulkan kayu bakar dari hutan di luar kerajaan. Si hamba itupun pergi ke hutan tersebut, lalu ia terpesona dan terlena oleh keindahan pemandangan di tempat itu.. Lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang, memakan buahnya, lalu tertidur beberapa lama… Ketika ia terbangun, hari sudah malam, ia harus kembali ke kerajaan… Ia pun kembali dengan tangan hampa sehingga mendatangkan kemarahan sang Raja. Ia pun dihukum dan disiksa akibat kelalaiannya sendiri… Bahkan ketika si hamba tadi memohon untuk diberi kesempatan kembali lagi ke hutan tersebut untuk menunaikan titah sang rajanya, dikatakan kepadanya: “Apakah jika engkau dikembalikan ke tempat itu engkau tidak akan terlena dan berleha-leha lagi? Celakalah engkau yang telah membuang kesempatanmu (dulu) yang berharga.”