HATI yang MANDUL 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Islamic Thoughts.Tags: Akal, Hati, Nafsu, Permisalan, Pesawat, Qalb
add a comment
“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,
lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu
mereka dapat memahami
atau mempunyai telinga yang dengan itu
mereka dapat mendengar?
Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta,
tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
~ QS. Al Hajj : 46 ~
Ketika saya berbicara tentang “hati”, ada sedikit perasaan yang mengganjal. Ternyata saya berbicara tentang sesuatu yang abstrak adanya. Anda tahu, saya tidak sedang membicarakan organ hati (liver) – organ kelenjar besar di dalam perut – yang berfungsi untuk melawan racun (toxin). Akan tetapi, apa yang saya maksud sebagai “hati” disini merujuk pada sebuah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal darah/daging.
Bila segumpal daging itu baik, maka baiklah keseluruhannya.
Dan bila segumpal daging itu buruk, maka buruklah seluruhnya.
Ketahuilah, segumpal daging itu ialah al-Qalb (Hati)”.
Itulah hati, sesuatu yang disebut oleh baginda nabi berwujud daging/darah, namun memiliki kekuasaan yang amat hebat dalam menentukan keadaan tubuh (diri) keseluruhan. Menakjubkan melihat hati sebenarnya adalah raja di singgasana jasad. Tak heran mengapa hakikat, substansi dan eksistensi hati sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang ramai dibicarakan. Sehingga demi kemudahan, saya tidak akan membahas perkara hati yang menyinggung hakikat, substansi dan eksistensinya. Saya hanya ingin sekadar membicarakan fungsi, peranan dan kinerja hati tersebut.
Manusia dibekali oleh Sang Pencipta dengan (hawa) nafsu, akal dan – tentunya – hati, dan inilah yang membedakannya dari makhluk yang lain. Kita mengenal nafsu sebagai kecenderungan yang negatif, berisi dorongan-dorongan yang bersifat “hewani”, meskipun secara mutlak tidak dapat dikatakan bahwa nafsu itu pasti buruk. Keberadaan nafsu adalah pendorong lestarinya dan berlanjutnya kehidupan anak cucu Adam di muka bumi ini. Nafsulah yang mendorong kita untuk memenuhi hajat akan makanan -melepas lapar dan dahaga; menikah -menyalurkan kebutuhan biologis-genetis; marah -menyatakan luapan emosi; dan seterusnya. Masalah yang seringkali dilekatkan pada nafsu tersebut adalah ketika upaya pemenuhan nafsu dilakukan secara serampangan (membabi buta) dan atau secara berlebihan (melewati batas kecukupan), inilah yang menyebabkan nafsu itu bertendensi buruk. Sesungguhnya nafsu itu laksana binatang tunggangan liar yang harus senantiasa dikekang dengan cerdik: jika tali kekangnya lepas maka ia akan menerkam kita, jika tali kekangnya terlalu kencang maka kita akan kehilangan tunggangan kita.
Kemudian akal, kita mengetahuinya sebagai “proses dan hasil berfikir”. Akallah yang membuat kita mampu bertahan dan berusaha memenuhi hajat hidup. Akallah yang menunjukkan bagaimana kita bertani dan beternak untuk memeroleh makanan; bagaimana kita melindungi diri dari kerasnya alam (cuaca, iklim, binatang buas, dan ancaman lainnya); bagaimana kita memperbaiki dan mengembangkan kuantitas dan kualitas hidup yang kita inginkan. Nafsu yang mendorong kita untuk berbuat, akallah yang menjadi penuntun apa dan bagaimana yang harus kita perbuat. Ibaratnya, jika nafsu adalah “gaya dorong” (thrust) yang dihasilkan oleh mesin jet pesawat terbang, maka akal adalah “sistem kendali terbang”[1]nya – yang akan mengarahkan perjalanan pesawat terbang itu.
Adapun hati (qalbu), sesungguhnya ia adalah sumber kebijaksanaan, poros kesadaran juga maqom perasaan dan keyakinan. Hati – terlepas dari segala kemisteriusan dan keanehannya – adalah tempat kita meletakkan kedamaian dan wadah kita memupuk cinta. Hati – meskipun terlalu abstrak dan sulit untuk difahami – seringkali menjadi pabrik inspirasi, gudang motivasi, dan pos ekspresi. Hati juga bisa menjadi absurd, mengingat betapa sering, mudah dan cepatnya kondisi hati berubah. Namun, hal itu sebenarnya wajar adanya, mengingat “hati” (al-Qalb) secara bahasa bermakna “yang berbolak-balik“.
Lalu, dimana posisi hati di antara dua komponen diri sebelumnya – yakni nafsu dan akal? Kembali ke permisalan pesawat terbang di atas: jika nafsu adalah “gaya dorong” pesawat, akal adalah “sistem kendali terbang”nya, maka hati adalah “sang pilot”nya. Dengan demikian, hati adalah penentu dan pengendali utama pada pesawat terbang tersebut. Hati – sebagai ‘pilot’ jasad – adalah unsur yang bertanggung jawab dalam menentukan keselamatan/kecelakaan sebuah “pesawat” diri. Bukan main vitalnya fungsi dan peranan sang raja itu.
Jika demikian adanya, apakah lantas kita meletakkan kedudukan “hati” di atas posisi “nafsu” dan “akal”? Sepintas bisa kita anggap demikian, mengingat kekhasan dan keutamaan hati. Namun, saya cenderung meletakkan ketiga komponen tersebut dengan peran dan fungsi tersendiri dalam suatu sistem dinamik-kompleks yang berproses dan memiliki siklus terbuka (open loop). Terjadi berbagai proses[2] antara nafsu, akal dan hati, dan proses itu dilengkapi dengan umpan-balik (feedback) -agar dapat mengantisipasi ‘gangguan’ dan perubahan. Adapun siklus disini dimaksudkan untuk menunjukkan kesinambungan kerja, interaksi serta saling keterkaitan antara satu pihak dengan yang lain. Saya katakan sebagai siklus terbuka sebab selalu ada kesempatan bagi “pihak luar” (faktor “X”) untuk “masuk” dan mengintervensi – atau minimal; berinteraksi – pada proses maupun unsur yang ada.
Terdapat pembagian tugas-kewenangan serta proporsi kekuasaan dan prioritas fungsi bagi tiap-tiap unsur nafsu-akal-hati tadi. Berangkat dari permisalan yang sudah saya berikan, kita melihat bahwa hati adalah unsur yang memiliki kewenangan yang paling besar, kekuasaan yang paling utama dan prioritas fungsi yang paling penting. Akal, berikutnya menjadi unsur yang kedua; disusul oleh nafsu pada prioritas dan kewenangan yang paling rendah. Inilah kondisi idealnya.
Masalah mulai muncul ketika ketiga unsur diri tersebut (nafsu-akal-hati, bisa juga disebut: body-mind-soul) tidak berfungsi sebagaimana mestinya atau tidak bekerja secara optimal. Bagaimanakah keadaan orang yang tidak lagi memiliki nafsu untuk makan? Bagaimanakah kondisi orang-orang yang tidak lagi waras (berakal)? Bagaimanakah status orang yang berbuat kejahatan? Itulah implikasi yang bisa terjadi ketika ketiganya tidak lagi normal (sehat). Masalah itu bisa bertambah parah lagi jika hubungan dan interaksi yang menjalin proses antar-unsur tadi terputus atau terpecah; bisa juga terjadi isolasi sepihak yang menjadikan suatu unsur resisten terhadap unsur lain; atau, terjadi perubahan komposisi penguasaan (kedudukan) dan wewenang serta prioritas masing-masing unsur.
Mungkin keterangan di atas masih sulit untuk dicerna. Saya akan memberi suatu contoh.
Ada seseorang yang sangat kelaparan, namun ia tidak memiliki makanan sedikitpun. Nafsunya mendorongnya untuk memenuhi hajatnya itu, maka akalpun bekerja untuk menunjukkan jalan pemenuhan yang memungkinkan. Akal lalu hadir memberikan alternatif pemenuhan kebutuhan makanan yang diinginkan. Alternatif tersebut adalah; mencuri makanan orang lain, menodong/merampas harta orang lain untuk membeli makanan, mengemis dengan mengharapkan belas-kasih orang lain, atau bekerja demi mendapatkan upah untuk membeli makanan. Kini, yang tersisa hanyalah pilihan mana yang akan dilakukan? Maka keduanya (nafsu dan akal) menyerahkan pilihan tersebut pada sang hati. Hatilah yang menimbang-nimbang, sampai akhirnya memutuskan pilihan yang akan dibuat. Hati yang terang lagi sehat tentunya akan memilih pilihan yang baik dan benar - yakni bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dengan terhormat. Adapun hati yang sakit lagi gelap, maka ia hanya berputar menjatuhkan pilihan pada alternatif-alternatif yang buruk lagi salah, lalu dilakukan secara kalap untuk memenuhi kebutuhannya dengan singkat.
Contoh tersebut di atas menekankan berharganya peranan dan fungsi hati. Hati yang “sehat” akan menjadi sebab keselamatan dan kebahagiaan – meskipun nafsu dan akal belum tentu “puas”. Sebaliknya, terlalu menurutkan nafsu ataupun akal – tanpa mengindahkan hati – akan membuat hati “sakit” atau “mati”, yang akan menjadi sebab kecelakaan dan kerugian. Nafsu senantiasa dicirikan dengan ketidak-puasan dan tuntutan untuk memenuhi keinginan yang membara. Akal selalu diwarnai keingin-tahuan yang sangat besar dan tanda tanya atas setiap perkara. Adalah hati, yang mengemban tugas untuk mengekang “nafsu” dan membatasi “akal”, tanpa melupakan hak keduanya. Semuanya harus diarahkan secara benar dan didaya-gunakan dengan tepat dalam rangka menjalani kehidupan. Inilah tugas berat yang dimiliki oleh hati sehingga menjadikannya unggul dan ‘lebih’ dari yang lainnya.
Sebenarnya Tuhan menganugerahkan kepada manusia ketiga unsur diri tersebut (akal, nafsu dan hati) sebagai alat untuk menjaga kehidupan manusia, mengelola keadaan di bumi, serta melestarikan penghambaan yang bersih hanya kepadaNya. Masing-masing dari ketiga unsur itu memiliki peran yang jelas, tegas dan krusial. Tak akan pernah bahagia orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai pemimpin bagi akal dan hatinya. Tiada pula akan tenang, diri yang mengangkat akalnya sebagai “dewa” di atas segala-galanya. Adalah hati, yang dijadikan olehNya tempat bersemayamnya segala keindahan rasa, kesucian jiwa dan kekuatan semangat (spirit). Hati adalah ”oase” jiwa. Ketika nafsu merengek manja untuk dipenuhi, di saat akal membujuk rayu untuk diikuti, maka di saat itulah seharusnya “sang raja” hati mengambil keputusan yang terbijak dan terbaik untuk semuanya.
Semoga Tuhan memberikan kita hati yang superior, akal yang ‘cukup’ jenius, dan nafsu yang serba komplit. Agar kehidupan yang senantiasa terfragmentasi ini dapat dijalani dengan khidmat dalam nuansa harmoni yang bermakna. Amin...
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran
bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”
~ QS. Ali ‘Imraan : 13 ~
^ ~ ^
[1] Dalam dunia dirgantara, sistem kendali terbang suatu pesawat udara (konvensional) terdiri dari Aileron – untuk bergerak putar (roll) pesawat, Elevator – untuk gerakan naik-turun (pitch) pesawat, dan Rudder – untuk gerakan belok (yaw) pesawat.
[2] Proses yang bisa terjadi pada domain nafsu, misalnya: rangsangan (stimulus), aktivasi, dan aksi. Proses pada domain akal, antara lain: berfikir (bernalar), analisis, sintesis, dan imajinasi (daya cipta). Sedangkan proses pada hati, contohnya: intuisi, inspirasi, motivasi, refleksi dan proyeksi.
Manusia Pelopor… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Alan Ashley Pitt, Pelopor, Pemenang, Pioner
add a comment
“The man who follows the crowd will usually get no further than the crowd. The man who walks alone is likely to find himself in place no one has ever been”.
(Alan Ashley-Pitt)
~
“Orang yang mengikuti orang kebanyakan umumnya selalu tidak jauh dari orang kebanyakan. Seseorang yang berani berjalan sendirian kemungkinan besar akan mendapati dirinya berada di tempat yang belum pernah didatangi orang lain.”
Salah satu karakter yang juga dimiliki oleh “orang-orang besar” dalam sejarah umat manusia adalah sifat kepeloporan (pioneerity). Sifat kepeloporan ini digambarkan sebagaimana dalam kutipan di atas, yakni “seseorang yang berani berjalan sendirian, yang kemudian akan mendapati dirinya berada pada tempat (status) yang belum pernah dicapai oleh orang lain”. Sifat kepeloporan inilah yang membuat mereka menonjol dan dikenal sebagai orang yang spesial dan bermartabat.
Mengapa “kepeloporan” tersebut sedemikian pentingnya sebagai salah satu parameter karakter orang-orang sukses? Jawabnya ialah karena sifat kepeloporan itu mengandung setidaknya tiga karakter lain dari orang yang sukses, yaitu : “keberanian”, “pengetahuan”, dan “ketekunan/keteguhan hati”. Ya, sifat kepeloporan sejatinya lahir dari relasi-kompleks di antara ketiga karakter tersebut.
Pertama, orang yang menjadi pelopor tentunya adalah orang yang berani. Ia berani mengambil resiko dan juga berani berusaha. Ketika orang-orang dulu percaya bahwa bumi adalah datar – sehingga mereka takut berlayar di lautan terlalu jauh – maka para pionir terjun dengan gagah beraninya berlayar ke ujung samudera untuk menguji kebenaran kepercayaan tersebut –dan ternyata diketahuilah bahwa bumi sebenarnya berbentuk bulat, tidak datar.
Kedua, orang yang menjadi pelopor adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki akan menjadi “jalan terang” dan bekal berharga bagi usaha yang sedang dipeloporinya. Lihatlah bagaimana dasar-dasar ilmu mekanika fluida (aerodinamika), hukum-hukum fisika, dan konsep kalkulasi matematis telah menuntun Wright bersaudara untuk menjadi pelopor dalam pembuatan pesawat terbang. Mereka tak langsung berhasil, tapi setidaknya mereka telah menjadi pembuka gerbang ‘penemuan’ yang fenomenal – besi yang dapat melayang di udara.
Ketiga, orang yang menjadi pelopor pastilah seorang yang tekun lagi teguh hati. Cukuplah anda melihat kepada ketekunan Thomas Alfa Edison dalam menciptakan bola lampu yang pertama, atau kepada kerja keras Alexander Graham Bell yang berhasil menciptakan pesawat telepon, atau Bill Gates yang menciptakan PC, atau pada berbagai penemuan spektakuler lainnya. Tak ada yang terjadi dengan tiba-tiba dalam waktu yang sangat singkat, namun penemuan itu dicapai setelah percobaan (eksperimen) yang berulang-ulang, pengerjaan yang melelahkan, dalam waktu yang cukup lama. Adalah ketekunan dan keteguhan hati yang membuat para pelopor itu mampu bertahan dan terus berusaha melanjutkan karyanya.
Dengan demikian, kepeloporan dapat dipandang sebagai perpotongan (pertemuan) antara sifat keberanian, pengetahuan dan ketekunan dalam bekerja. Ini kemudian menjadikan para pelopor adalah orang yang selalu berani mencoba berbagai hal-hal baru dan berbeda, mengetahui ‘celah-celah’ yang belum tereksplorasi oleh orang-orang sebelumnya, dan mampu stick (tetap) pada pekerjaan mereka secara kontinu (berkesinambungan) dan menyeluruh.
Atau dengan kata lain, para pelopor bukanlah seperti orang-orang kebanyakan yang hanya mengikuti commonness (keumuman/kelaziman) yang terjadi di tengah masyarakat. Para pelopor juga bukanlah orang-orang penakut dan pengecut yang takut akan resiko dan ancaman dalam pekerjaan. At last, para pelopor adalah orang yang mampu bekerja terus menerus dengan semangat yang terjaga, bukan para pemalas atau orang keras kepala yang berfikiran sempit dan kolot.
Para pelopor adalah pemenang yang berani menempuh (dan membuka) ‘jalan baru’ tanpa harus menjadi tersesat, mengetahui ‘jalan’ menuju tujuannya dengan benar, dan terus berjalan tanpa kenal lelah. Alhasil, merekapun lalu mendapati dirinya berada di ‘tempat baru’ yang sangat eksotis, menyenangkan sekaligus mengherankan. Mengherankan melihat mengapa hanya mereka saja yang baru tiba di ‘tujuan’ itu, sedangkan orang-orang kebanyakan tertinggal jauh di belakang. Maka, ketika anda berharap menemukan kesenangan baru dan warna cemerlang dalam hidup ini, jadilah pelopor itu….
DIA yang SEMPURNA… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Islamic Thoughts.Tags: Adam, Atribut, Fir'aun, Iblis, Khidir, Musa, Sempurna, Sifat, Tuhan
add a comment
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia,
dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.
< QS. Asy Syuura : 11 >
Saya ingin memulai tulisan ini dengan mengetengahkan asumsi atau pendapat sebagian orang yang meyakini bahwa Tuhan itu hanya memiliki satu sifat mutlak, tidak bisa memiliki dua sifat yang berlawanan. Mereka mengatakan bahwa Tuhan itu tidak pernah – dan tidak akan pernah – marah, karena Dia Maha Pemurah dan Pengampun. Mereka juga menafikan bahwa Dia tertawa dan bersedih. Mereka pun merasa janggal ketika menerima kabar bahwa Dia itu bisa berlari, punya jari, dan bersemayam. Mereka merasa risih dengan sifat-sifat dan nama-namaNya yang ”menyeramkan” : Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya, Maha Cepat AdzabNya, dan sejenisnya. Saya jelas tidak setuju dengan pandangan ini.
Namun, sebelumnya saya ingin menegaskan bahwa konteks sifat keTuhanan disini adalah yang berkonotasi positif. Hal ini berangkat dari keyakinan saya sebagai seorang muslim, bahwa sesungguhnya Dia itu Maha Baik, dan disifati dengan segala kebaikan. Artinya, kejelekan, cacat dan cela tidak bisa dialamatkan kepada Tuhan – dan ini mutlak adanya. Adapun sifat yang berlawanan yang saya sebutkan diatas adalah sifat yang menunjukkan kepada variasi keadaan/kondisi ataupun perbuatan.
Kembali ke masalah di atas. Saya melihat, sebetulnya orang-orang yang mengingkari beberapa sifat, nama dan perbuatan Tuhan bermaksud baik dan mengagungkanNya dengan berusaha menjauhkan Dia dari atribut yang jelek (negatif). Mereka menyangka bahwa derajat keTuhanan akan berkurang jika Dia memiliki atribut yang mereka pandang tidak pantas dimiliki olehNya – berdasarkan persepsi akal. Tapi jelas, ini tidak bisa dibenarkan. Maksud yang baik harus dicapai (dan dilaksanakan) dengan cara yang benar pula. Dan, apa yang mereka yakini dan sangkakan telah bertentangan dengan keadaanNya.
Siapakah yang lebih mengetahui tentang keadaan Tuhan, selain Dia – diriNya sendiri? Dan siapakah yang berhak mengabarkan tentang keadaanNya itu kalau bukan Dia juga? Dan sungguh Dia telah memberi berita tentang diriNya sendiri, lewat wahyu yang diturunkan, yang dibawa oleh malaikat yang dipercaya, kepada RasulNya yang disucikan, hingga tertulis dalam kitab suci. Maka jika demikian adanya, tiada pilihan lain bagi kita – ketika mendapati kabar tentang keadaan, sifat, nama dan perbuatan Tuhan dari kitab suci yang kita baca – selain tunduk, patuh seraya mengimaninya, bukan mengingkarinya. Agama adalah wahana risalah Tuhan. Dia menurunkan kabar dan kalamNya secara simultan dengan begitu terjaga. Ini adalah alasan pertama kesalahan golongan tersebut di atas; yakni bahwa keadaanNya harus merujuk pada pengabaranNya yang tertera dalam kitab suci yang murni – yang diriwayatkan secara teliti. Mereka telah melangkahi legitimasi agama yang lebih berhak menjelaskan perkara di atas.
Alasan kedua adalah mereka telah terjebak dalam upaya penyerupaan, penakwilan (interpretasi) bahkan pengingkaran sifat, nama dan perbuatan Ilahiyah, karena terlalu mengikuti akal dan persepsi mereka sendiri yang terbatas. Mampukah lobang yang kecil untuk menampung air laut? Mampukah otak manusia – yang lebih kecil dari otak hewan primata lainnya – meng-indera-Nya yang Maha Besar? Adalah kesalahan besar – teramat besar – bagi manusia yang dengan begitu sombongnya merasa pantas dan mampu untuk menjangkau (memahami) setiap aspek keDirian Sang Pencipta. Mereka bersandar pada otak (akal)nya untuk melakukan itu semua, sehingga seakan-akan akal mereka itulah yang menjadi tuhannya. Sungguh berani mereka menilai Tuhan dengan pandangan akal yang lemah. Bandingkanlah, apakah pantas seorang sahabat menilai sahabatnya sendiri lalu menganggap penilaiannya sudah benar? Harusnya kita berkata ”tidak”. Maka bagaimanakah menurut anda keadaan beberapa orang – makhluk ciptaan – yang merasa setara denganNya sehingga berani memberikan penilaian kepadaNya? Tidakkah mereka sadar akan siapa diri mereka sebenarnya? Mereka hanyalah makhluk ciptaan, hamba yang hina, manusia yang lemah. Mereka bukanlah yang pertama mengusung hal ini, dan mereka juga tak akan menjadi yang terakhir. Orang-orang bani Israil dulu pernah menunjukkan kelancangannya:
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa,
kami tidak akan beriman kepadamu
sebelum kami melihat Allah dengan terang[1],
karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya[2]“.
< QS. Al Baqarah : 55 >
Tidaklah seorang manusia berhasrat untuk mengetahui seluk beluk Tuhan, melainkan ia adalah seorang yang sombong lagi ingkar. Dan sifat mereka tak kurang dari kecongkakan Fir’aun:
Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku,
aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.
Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat[3]
kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi
supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa,
dan sesungguhnya aku benar-benar yakin
bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.”
< QS. Al Qashash : 38 >
Sungguh tak pantas bagi kita untuk mencoba menggapaiNya dengan apa yang kita tidak punyai. Tak akan pernah bisa manusia untuk mengilmuiNya sepenuhnya, bahkan untuk level nabi sekalipun, sebagaimana yang pernah terjadi pada Nabi Musa:
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[4], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”
< QS. Al A’raaf : 143 >
Sungguh demikianlah adanya. Tuhan itu mengetahui keadaan seluruh makhluk ciptaanNya, namun tak seorang pun makhlukNya yang mengetahui seluruh keadaan diriNya. Kasus-kasus di atas barulah berkenaan dengan sifat fisik (zat) Tuhan yang tak mungkin dijangkau oleh manusia. Apalagi dengan sifat nama dan kehendak perbuatanNya, maka kita tak akan pernah bisa memahaminya dengan benar dan sempurnya, kecuali menurut sebatas apa yang Dia kabarkan. Sehingga, adalah tidak valid bin mustahil, upaya untuk memahami dan menilai Tuhan Yang Maha Sempurna melalui pandangan manusia yang penuh cacat lagi terbatas. Sikap selamat yang seharusnya kita ikuti adalah mengimani setiap kabar yang menerangkan tentang diri Tuhan yang datang melalui wahyuNya, karena sekali lagi, hanya Dia sendirilah yang lebih mengetahui hakikat diriNya.
Masalah penyimpangan di atas nampaknya juga dipicu oleh keinginan manusia untuk mampu mengerti dan memahami makna setiap perbuatan Tuhan. Mereka selalu mencari-cari apa alasan Tuhan melakukan ini dan itu? Tak jarang pula mereka mencoba meraba masa depan yang ditentukan olehNya, meskipun hal tersebut tersembunyi adanya.
Mengapa demikian? Jawaban yang mungkin diajukan adalah bahwasanya mereka telah termakan godaan hawa nafsunya, atau mereka menentang takdirNya, atau mereka – sekali lagi - menggunakan akalnya untuk mencapai Sang Pencipta. Sungguh orang-orang yang terjebak dalam kesalahan yang demikian bukanlah hamba yang mengenal Tuhannya dengan baik.
Patut ditanyakan kepada mereka yang sakit jiwanya tersebut: “Bukankah Dia – Allah – yang telah menciptakan alam semesta ini dan segala isinya, menciptakan ayah kita – Adam, lalu akhirnya menghidupkan kita?”. ”Bukankah Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu dan Maha Berkuasa untuk melakukan semua kehendakNya?”.
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya
dan merekalah yang akan ditanyai.
< QS. Al Anbiyaa’ : 23 >
Sungguh benar Engkau ya Allah, dengan segala kalamMu. Sungguh bodoh manusia yang menyibukkan dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar perbuatanNya, namun lupa dan lalai untuk mengevaluasi perbuatan diri mereka sendiri. Sungguh kebodohan dan kesombonganlah yang membuat kita mengingkari perbuatanNya dan buta akan hikmahNya.
Tidak cukupkah kisah si Iblis menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal? Iblis adalah makhluk pembangkang pertama akibat mengandalkan akalnya. Ketika diperintahkan sujud kepada Nabi Adam, ia mempertanyakan perintah itu kepada Allah. Ia bertanya, mengapa Allah berbuat demikian? Mulailah akalnya mengeluarkan anggapan-anggapan. Ia melihat bahwa tanah – bahan penciptaan Adam – lebih rendah mutunya daripada api – bahan penciptaan si Iblis. Akibatnya, Iblis pun terjatuh pada penentangan terhadap titahNya. Andaikata Iblis tidak mencari-cari tahu alasan dan sebab-musabab perbuatan Tuhan, dan hanya tunduk pada perintahNya, tentu Iblis tidak akan menjadi penghuni neraka yang abadi.
Mari kita bandingkan dengan kejadian antara Nabi Musa dan Nabi Khidir ‘alaihumassalam. Ketika Nabi Musa menemani Nabi Khidir dalam suatu perjalanan, kemudian Nabi Khidir melakukan hal-hal – yang dalam pandangan Nabi Musa – sangat aneh dan tidak masuk akal[5], maka Nabi Musa pun mengingkari dan memprotes perbuatan Nabi Khidir. Nabi Musa lupa bahwa Ia telah berjanji untuk tidak mengomentari setiap perbuatan Nabi Khidir, dan Ia lupa bahwa Khidir telah memperoleh ilmu dari sisi Allah. Maka ketika Khidir menjelaskan maksud setiap perbuatannya, barulah Musa mengerti dan menerima. Dan tidaklah beliau memahami makna perbuatan Khidir melainkan karena telah mendapatkan penjelasan darinya. Inilah contoh bahwa di antara sesama manusia pun, perbuatan seseorang tidak dapat sepenuhnya dipahami dan diterima oleh orang lain. Maka terlebih lagi antara hamba dan Tuhannya. Sungguh seorang hamba tak akan pernah mengetahui maksud perbuatan Rabbnya, kecuali setelah ia diberi hikmah untuk mengetahuinya.
Maka hendaklah orang-orang yang berilmu berusaha memahami perbuatan Allah tanpa harus mempertanyakan motifnya dan memaksakan akal untuk menjawabnya. Orang yang selamat adalah mereka yang menyerahkan perbuatanNya kepadaNya sendiri. Mereka menggunakan akal-mata bathin untuk berserah diri padaNya seraya mengakui bahwa Dialah Yang Maha Sempurna dan Maha Bijaksana. Mereka bersyukur jika Dia menyibakkan beberapa rahasia hikmahNya atas suatu perkara, namun jika tidak, mereka pun berdiam tenang karena telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Hal ini sungguh sangat penting, sebab dengan demikian, manusia akan dapat terhindar dari kekufuran kepadaNya, dan juga memberikan ketenangan serta mendatangkan keridhaan atas segala takdir peristiwa yang menimpa. Inilah indikator keimanan yang benar lagi kuat, dan solusi yang lebih selamat.
(Maka) Dialah Allah, Tuhan Yang Sempurna. Dialah yang mengetahui segala Yang Ghaib (tersembunyi) dan Yang Tampak, lagi Maha Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagiNya atas segala yang dilakukanNya, atas segala yang dikaruniakanNya, dan atas segala yang disempurnakanNya. Maha Suci Dia dengan segenap kekudusan dan keagunganNya. Maha Suci Dia yang menyifati Dirinya dengan segala kebaikan. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selainNya. Aku memohon ampun kepadaNya atas segala dosaku, dan kami berlindung kepadaNya dari berbagai kejahatan dan keburukan. Amin
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar.
< QS. Al Waaqi’ah : 74 dan 96 >
~^*^~
[1] Maksudnya: melihat Allah dengan mata kepala.
[2] Karena permintaan yang semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai azab dari Tuhan.
[3] Maksudnya: membuat batu bata.
[4] Para mufassirin (ahli tafsir) ada yang mengartikan yang nampak oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah, dan ada pula yang menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah. Bagaimanapun juga penampakan Tuhan itu bukanlah penampakan [seperti halnya] makhluk, hanyalah penampakan yang sesuai sifat-sifat Tuhan yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.
[5] Perbuatan tersebut adalah : Nabi Khidir melubangi perahu yang mereka tumpangi, membunuh seorang anak kecil yang tak berdosa, dan membangun tembok rumah anak yatim. Kisahnya terdapat dalam Al Qur’an surah Al Kahfi.
KETIKA GILIRAN TAK LAGI BERSISA… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Islamic Thoughts.Tags: Giliran, Hidup, Kejayaan, Perbuatan, Polar, Sejarah
add a comment
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan
di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)
< QS. Ali – Imraan : 140 >
Hidup ini sejarah. Dan sejarah, seperti kata sebagian orang, selalu berulang. Ya, mungkin tidak berulang secara persis sama, akan tetapi esensinya selalu tidak berbeda. Dan itu adalah perjuangan (pilihan) untuk berada di salah satu keadaan dari dua status: menang/kalah, benar/salah, baik/buruk, kaya/miskin, dan, bahagia/celaka. Yang namanya manusia, seringkali bolak-balik di antara dua keadaan dimaksud. Kadang kita berbuat benar, tak jarang juga berlaku salah. Hari ini menang dijelang, esok hari kalah yang datang. Begitu banyaknya orang yang dulunya miskin, kini menjadi kaya raya, juga sebaliknya. Dan begitulah seterusnya, kehidupan manusia diwarnai perubahan, perubahan yang senantiasa berputar pada dua keadaan yang berbeda.
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan [jalan kebajikan dan jalan kejahatan].
< QS. Al Balad : 10 >
Kalau kita melihat lebih dalam, sejatinya manusia dihadapkan pada bi-polar (dua kutub) pilihan yang berlawanan. Dan manusia benar-benar bebas untuk memilih salah satu dari dua kutub pilihan tersebut – beserta konsekuensi logisnya. Adapun nilai dari tiap-tiap pilihan tersebut sebetulnya tergantung pada persepsi masing-masing. Sebagai contoh, pejabat yang dihadapkan pada pilihan untuk melakukan korupsi atau tidak. Pejabat yang bersih tentunya memandang bahwa korupsi adalah perbuatan yang buruk, jahat dan tidak pantas dia lakukan – sehingga ia akan memilih untuk tidak melakukan korupsi. Sebaliknya, pejabat yang kotor akan menilai korupsi sebagai peluang dan jalan pintas untuk memeroleh keuntungan – maka diapun tenggelam dalam perbuatan yang tercela. Dari sini, kita mengetahui pentingnya memiliki persepsi (pandangan) yang benar dalam menilai suatu masalah. Persepsi yang tepat akan menuntun kita mengambil sikap yang benar yang patut dipilih.
Kebanyakan orang terjebak pada kesalahan memilih bukan karena tidak melihat akibat (konsekuensi) dari perbuatannya. Akan tetapi, mereka keliru dalam menginterpretasikan nilai/sifat yang dimuat oleh beragam pilihan yang ada. Selain itu, ada juga orang yang salah memilih karena ingin segera memenuhi kebutuhannya, atau memuaskan keinginannya yang membara. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak memiliki prinsip dan orientasi kehidupan yang jelas.
Kembali ke bagian awal, bahwa kadangkala kita hanya bolak-balik dari satu keadaan ke keadaan yang lain, tanpa bisa –bermukim- pada kondisi tertentu – yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, seringkali begitu mudahnya kita berubah, dari yang tadinya orang yang baik dan taat, menjadi orang yang nakal dan pembangkang. Atau, dalam kacamata personal yang lebih dalam, mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri, seberapa sering kita menjadi ”munafik” dengan menjadi orang yang baik dan jahat sekaligus? Beruntunglah orang-orang yang kisah hidupnya didominasi oleh kebaktian kepadaNya dan kebaikan pada makhlukNya. Sungguh, manusia itu benar-benar tempatnya salah dan lalai.
Apakah yang menyebabkan kita begitu sulitnya menjadi satu pribadi yang konsisten? Mengapa kehidupan kita lebih banyak berwarna ’abu-abu’ daripada berwarna tegas; hitam atau putih? Jawabannya mungkin tak akan anda temui disini. Tapi, apa yang ingin saya tekankan adalah pentingnya kita memiliki standar nilai, acuan prinsip dan orientasi hasil/tujuan dalam menghadapi berbagai pilihan.
Mungkin sudah kodratnya, yang namanya manusia itu selalu terombang-ambing di antara kebenaran dan kebathilan, kebaikan dan keburukan; dipengaruhi oleh bisikan-bisikan syaithan dan seruan-seruan malaikat. Namun, hal itu tidak berarti lantas membuat kita menjadi bimbang dan ragu dalam mengambil sikap dan menentukan pendirian. Di depan sudah saya singgung mengenai pentingnya persepsi yang tepat. Maka, yang berikutnya menjadi penting adalah berusaha sekuat tenaga untuk stick (tetap) berada pada pilihan keadaan yang terbaik, bagaimanapun dinamikanya. Hal ini senada dengan hadits Qudsi yang menceritakan keadaan seorang hamba yang berbuat salah, kemudian ia bertobat – dan diampuni, lalu ia berbuat salah lagi, kemudian ia kembali bertobat – maka ia diampuni, dan seterusnya. Ini menandaskan bahwa orang yang telah memegang prinsip akan selalu mengikuti prinsipnya, meskipun ia sering melanggar prinsip itu sendiri. Perumpamaannya seperti kereta yang ”keluar rel” yang selalu akan kembali ke atas ”relnya”, karena memiliki tujuan yang ingin dicapai. Kereta tersebut tahu, hanya dengan kembali dan berada di atas relnyalah yang akan mengantarkannya ke tujuannya.
Kini, sangat penting untuk diingat bahwa yang menentukan keadaan kita berikutnya adalah akhir-nya. Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu itu ada masa (batas)nya. Waspadalah jika kita berakhir pada keadaan yang salah-buruk-celaka. Disinilah pentingnya prinsip tadi, agar kita selalu mau berusaha terus berada pada koridor yang menyelamatkan, hingga ke akhirnya. Jadi, yang penting bukanlah keadaan kita yang berubah (bolak-balik) tersebut, akan tetapi bagaimana kita terus-menerus berjuang mencapai keadaan baik yang kita inginkan, seraya berusaha menetapi keadaan tersebut sampai waktu yang ditentukan. Saya ingin memberikan analogi: sebuah bandul yang pada awalnya disimpangkan ke kanan, kemudian bandul itu dilepas, maka diapun berayun (berosilasi) ke kiri dan ke kanan berulang kali. Sampai ketika waktu telah habis dan bandul tak lagi berayun, diharapkan bandul itu berada condong ke kanan (sebagamana posisi awalnya). Sehingga dengan demikian, dapat dikatakan, bahwa bandul itu telah berhenti/kembali pada tempatnya (baca: fitrahnya). Minimal, ia menduduki posisi netral (di tengah-tengah) yang seimbang. Bukan sebaliknya, menyimpang (ke kiri) jauh dari kedudukannya yang semula.
Inilah kehidupan. Kehidupan yang akan menjadi sejarah setiap pelakunya. Sejarah yang akan dipergilirkan di antara manusia. Pergiliran yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk mengajari hambaNya. Bahwa kehidupan ada sebagai ujian; manusia selalu diberi pilihan; dan di akhir zaman nanti hanya akan ada dua tempat kedudukan – surga atau neraka! Maka, bersikap ridhalah atas semua takdir yang ditetapkan; bertindak bijaklah terhadap setiap pergiliran keadaan; dan berusahalah mewujudkan impian kemenangan. Karena, waktulah yang akan memutuskan kehidupan, waktu pulalah yang menjadi penghenti pergiliran. Kelak, semuanya pasti, tak ada perubahan, hanya ada satu keadaan untuk satu nyawa, sepanjang masa. Oleh karenanya, pergunakanlah waktu anda sebaik mungkin untuk membawa diri anda ke status yang mulia. Karena, jika telah habis waktu, ketika giliran tak lagi tersisa untuk anda, yang dinantikan hanyalah keputusan dan balasanNya. Semoga hidup kita berakhir di saat kita mendapatkan giliran yang baik nan bahagia. Amin…
Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
< QS. Thaha : 132 >
NB. : Tulisan ini juga dimuat di Kota Santri dot com
Karya Ketekunan… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Batu, ibnu Hajar, Ketekunan, Pelajar, Samuel Johnson
add a comment
“Great works are performed not by strength but by perseverance”.
(Samuel Johnson)
~
“Maha karya-Maha karya diwujudkan bukan oleh kekuatan,
tetapi oleh ketekunan”.
Dahulu ada seorang pelajar yang pergi untuk menuntut ilmu. Pelajar itu adalah seorang lelaki yang sudah berumur. Ia mendatangi tempat-tempat belajar untuk memeroleh ilmu yang ia inginkan. Setelah berselang masa, ia mendapati dirinya tidak cukup “cerdas” untuk mampu menyerap semua pelajaran yang ia ikuti. Ia merasa tidak mampu untuk mengikuti pelajaran di sekolahnya. Ia menjadi frustasi, merasa depresi lalu memutuskan untuk berhenti dari aktivitas belajarnya.
Ia pun beranjak pergi. Ia ingin lari membawa kegagalannya. Ia berjalan tak tentu membawa dirinya sendiri. Di tengah perjalanan, langit menurunkan sang hujan membasahi bumi. Lelaki itu terpaksa menghentikan perjalanannya, lalu berteduh di bawah atap sebuah rumah. Selama hujan terus mengguyur tempat tersebut, lelaki itu menangkap sebuah fenomena yang mengesankan…
Dari atas atap rumah tempat ia berteduh, mengalirlah air hujan dari pancoran yang jatuh ke tanah. Salah satu air hujan yang melalui pancoran tersebut jatuh tepat mengenai sebuah batu yang cukup besar dan keras. Tetesan air hujan tersebut terus mengalir dan jatuh pada batu itu. Lama kelamaan, tetesan air hujan yang terus menerpanya membuat lubang di atas batu tersebut yang semakin lama semakin membesar dan dalam. “Sungguh menakjubkan”, pikir sang lelaki, “batu yang keras dan besar ini saja bisa bocor, takluk oleh tetesan demi tetesan air yang menimpanya”.
Ia kemudian mengambil i’tibar (pelajaran berharga) dari fenomena tersebut. Ia membandingkan keadaan sang batu yang keras itu –yang menjadi bolong diterobos tetesan air hujan yang berulang-ulang– dengan keadaan dirinya yang dianggapnya bebal. Batu yang besar dan keras saja bisa terlobangi oleh tetesan air yang kecil dan ringan. “Mengapa aku tidak melakukan hal yang semisalnya? Meskipun otakku sulit menyerap pelajaran, namun jika aku belajar terus-menerus, dari waktu ke waktu, tentu pelajaran tersebut akan menempel di ingatanku”. Maka, lelaki itu kemudian kembali ke jalannya, menjadi penuntut ilmu yang tekun. Lelaki itu terus belajar dengan giat dan rajin, hingga ia tercatat sebagai salah seorang ulama yang masyhur. Lelaki tersebut kemudian dikenal dengan nama ibnu Hajar (“si anak batu”) al-Atsqolani, seorang ulama papan atas dalam khazanah sejarah Islam.
Sukses SPMB-ku 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Kontemplasi & Refleksi.Tags: Bandung, Colin Powell, ITB, JILC, Makassar, Pelajaran, SPMB, Sukses, Try-Out
1 comment so far
“There are no secrets to success. It is the result of
preparation, hard work and learning from failure”.
(Colin Powell)
~
“Tidak ada rahasia untuk menjadi sukses. (Sukses) itu adalah hasil dari persiapan, kerja keras dan belajar dari (pengalaman) kegagalan”.
Membaca kutipan di atas, saya teringat masa-masa menjelang SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dulu di Makassar. Bagaimana “keberhasilan” saya lolos dalam SPMB tersebut membawa saya pada kesempatan menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi yang membanggakan, ITB, Bandung. Yah, keberhasilan itu memang bukan sesuatu yang diperoleh dengan cepat, melainkan melalui serangkaian persiapan yang matang, perjuangan dan usaha yang ekstra keras, serta memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.
Kisah ini dimulai sejak saya duduk di bangku SMU, di akhir-akhir kelas II. Saat itu saya sudah mulai menapaki jalan “kesuksesan” saya dengan mengikuti sebuah lembaga bimbingan belajar yang berasal dari Bandung, dan notabene para pengajar (tentor –tenaga tutor)nya konon adalah alumni ITB. Saya tidak ingat pasti apa alasan saya memilih lembaga bimbel tersebut. Yang jelas, saya terkesan dan tertarik setelah mengikuti sebuah acara yang diadakan oleh bimbel itu yang bertajuk “strategi sukses SPMB”. Saya pun menyisihkan waktu untuk belajar ekstra di luar jam sekolah pada lembaga bimbel itu. Sebenarnya saya tidaklah dalam keadaan “sangat butuh” mengikuti bimbel, tetapi nampaknya jika tidak demikian, pasti saya akan sulit “siap” karena sangat jarangnya saya menyisihkan waktu khusus untuk belajar di luar jam sekolah secara mandiri.
Hal tersebut terus saya jalani hingga saya naik ke kelas III (IPA), masa-masa yang paling genting dalam SMU terkait dua hal penting; Ujian Akhir Nasional (UAN) dan SPMB. Beranjak ke kelas III, saya memutuskan untuk pindah tempat bimbel, yakni pada lembaga bimbel lokal namun cukup terkenal di Makassar – Jakarta Intensive Learning Centre (JILC). Alasan kepindahan tempat bimbel tersebut utamanya karena tempat bimbel yang saya tuju itu terkenal dengan tingginya intensitas belajar dan persiapan SPMB yang dilakukan. Alhasil, orang tua saya mendaftarkan saya pada tempat bimbel tersebut dengan program 1 tahun penuh.
Saya pun mengikuti kegiatan belajar di JILC dengan semangat dan intensif. Jarang sekali saya ‘bolos’ dari jadwal bimbel. Saya bahkan berhasil masuk ke dalam kelas khusus, kelas VIP-A, untuk persiapan super-intensif menjelang SPMB. Saya juga getol mengikuti tiap Try Out (Uji Coba), baik yang dilakukan oleh JILC maupun oleh lembaga bimbel lainnya. Dan yang benar-benar sangat saya sukai dari belajar di lembaga tersebut ialah tingginya frekuensi belajar yang disediakan bagi para siswanya. Lembaga tersebut setiap hari Sabtu malam hingga Minggu dini hari menggelar “try out” kecil-kecilan bagi para siswanya yang mau. Acaranya dimulai setiap pukul 22.00 malam Minggu. 2 jam-an pertama digunakan oleh para siswa untuk menyelesaikan soal-soal latihan SPMB yang telah disiapkan oleh para tentor. 2 jam-an berikutnya adalah pembahasan (jawaban) soal-soal tersebut. Praktis, acara tersebut sering berakhir pada pukul 02-an Minggu dini hari. Acara tersebut sangat saya gemari karena saya rasa sangat bermanfaat bagi “persiapan” diri saya menjelang SPMB nanti. Jarang saya melewatkan agenda tersebut, kecuali jika memang keadaan tidak memungkinkan. Berkurangnya jatah tidur dan capek yang dirasa tidak menjadi penghalang bagi saya untuk tetap mengikuti acara tersebut dengan seksama.
Begitulah, “malam mingguan di tempat bimbel” menjadi acara rutin yang selalu saya ikuti. Dari situ, keyakinan saya semakin tinggi, kepercayaan diripun ikut bertambah. Momen SPMB yang terasa semakin dekat dijelang dengan semangat membara. “Try Out Akbar” yang sering saya ikuti, kegiatan “belajar ekstra-mandiri” baik dilakukan sendiri atau bersama teman-teman – di sekolah maupun di rumah – disamping rutinitas tersebut di atas telah mematangkan persiapan diri saya dalam menghadapi SPMB yang mendebarkan.
Tidak terasa SPMB tinggal dalam hitungan hari… Diri ini berada di antara “keyakinan dan persiapan diri” yang sudah terpupuk dan “keraguan dan ketakutan menemui kegagalan” yang menyerang. Namun, semuanya diserahkan kepada Yang Di Atas, karena toh saya telah berusaha sebaik mungkin. Strategi pun disusun semaksimalnya, agar SPMB yang hanya berlangsung 2 hari bisa dijalani dengan pasti. Mulai dari pengurusan berkas-berkas pendaftaran, pengecekan lokasi ujian, sampai antisipasi teknis perihal pengisian lembar jawaban yang diperiksa oleh komputer.
Dan, tibalah saatnya, SPMB tersebut akan dilangsungkan pada esok harinya. Sungguh aneh, malamnya saya hampir saja tidak tidur. Rasa gelisah, penasaran, was-was dan gugup menyelimuti. Mau tidur, susah – mau belajar, sudah tak bisa. Ini terjadi sampai dini hari, sampai akhirnya saya pun bisa terlelap.
Pagi itu pun tiba… Berbekal persiapan yang telah ditempuh sekian lama sebelumnya, usaha dan pengorbanan yang mati-matian, diiringi do’a restu dari orang tua tercinta plus do’a kepada-Nya, SPMB dijalani dengan rasa tenang dan percaya diri. Alhamdulillah, kelancaran dan kemudahan pun saya temui. Bahkan, saya masih sempat memberi contekan jawaban kepada seorang teman yang membutuhkan, bad…
2 hari pelaksanaan SPMB yang menegangkan pun terlewat sudah. Lepas dari satu kekhawatiran, kekhawatiran lain datang menghadang. Bagaimana kalau saya tidak lulus? Ah, soal hasil, mengutip perkataan Ayah saya – yang menyitir sebuah ayat; “kalau engkau sudah berazzam, maka bertawakkallah kepada Allah”… Saya hanya bisa berserah diri padaNya setelah berusaha semaksimal mungkin, karena telah yakin, apapun hasilnya, itulah yang terbaik untuk diri saya dan kehidupan saya…
Waktu pengumuman SPMB pun tiba… Deg-degan rasanya ingin mengetahui apa hasilnya… Saya yang menjatuhkan pilihan pertama pada jurusan Teknik Penerbangan ITB dan pilihan kedua Kedokteran UNHAS pun bertanya-tanya, tercapaikah keinginan saya? Ketika surat kabar yang memberitakan pengumuman SPMB pun terbit, saya mencari-cari nama dan nomor ujian saya.. Dan, jrengg… nama saya pun terdapat di pengumuman tersebut (dan inilah kali pertama nama saya masuk koran, hehe..) yang mengabarkan keberhasilan saya menembus SPMB dan lulus menjadi (calon) mahasiswa ITB… Berita gembira ini lalu saya teruskan ke keluarga saya. Tak lupa, beberapa teman saya juga memberi ucapan selamat dan salut atas keberhasilan tersebut. Alhamdulillaaah…
**
Demikianlah, kisah “kesuksesan” saya yang sangat berkesan bagi diri saya sendiri. Kisah tersebut mengandung hikmah dan pelajaran berharga betapa “persiapan yang matang”, “kerja/usaha yang anteng” dibarengi “kemauan untuk terus memperbaiki diri dan belajar dari kesalahan” telah mengantarkan saya kepada impian yang telah saya tetapkan. Sebenarnya saya tidak menganggap “kisah sukses” di atas sebagai sesuatu yang besar –karena kesuksesan yang sesungguhnya adalah di akhir sana. Tetapi, ketika hati ini jemu, ketika perasaan menjadi jenuh, di saat semangat meredup, di saat perjuangan mewujudkan mimpi-mimpi berselimutkan kabut… sejenak melihat ke masa silam mengenai kisah di atas mampu memberi saya semangat baru untuk terus maju, dan melaju.
Ketika saya mengingat kisah manis ini… saya mampu berkata kepada diri sendiri : “bersabarlah dalam menempuh perjalanan.. memang begitulah jalan mencapai kesuksesan… persiapan, ketekunan dan keyakinan seperti itulah yang harus dipertahankan, jika engkau benar-benar menginginkan kejayaan…”. [Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal…]
Mendapatkan Apa Yang Dibayangkan… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Akal, Bayangan, Napoleon Hill
add a comment
“What the mind of man can believe and conceive, it can achieve”.
(Napoleon Hill)
~
“Hal-hal apa yang bisa dipercaya dan dibayangkan oleh akal seseorang,
maka hal tersebut bisa dicapai”.
Hal yang paling menakjubkan dari kehidupan manusia adalah kemampuannya untuk beradaptasi dalam mengatasi tantangan dan memenuhi tuntutan hidupnya. Secara fisiologi-anatomi, manusia hanyalah makhluk yang tidak lebih kuat dari singa, tidak lebih cepat dari kuda, dan tidak lebih tangkas dari kijang… Yang sedikit membedakan manusia dari makhluk tersebut adalah karakter manusia sebagai “hewan yang berakal” –dan inilah yang mengunggulkannya dari makhluk lainnya.
Jadilah manusia sebagai “penguasa” dunia yang mendominasi kehidupan alam. Manusia tidak memiliki bulu yang tebal untuk menghangatkan badan – seperti halnya beruang – tetapi mereka mampu membuat pakaian yang menutup aurat dan terasa nyaman di badan. Manusia tidak mampu menghasilkan makanannya sendiri – sebagaimana tumbuhan memproduksi makanan dari fotosintesis – namun mereka mampu bertani, bercocok tanam dan melaut untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Manusia tidak dapat berenang seperti ikan, berlari seperti kuda, dan terbang seperti burung; meskipun demikian, mereka telah berhasil membuat mobil, kapal laut, dan pesawat terbang untuk mengantarkannya pergi dari satu tempat ke tempat lain –kemana pun mereka mau.
Darimana semua kemampuan aneh itu berasal? Kemampuan itu datang dari potensi rasa-karsa-cipta manusia –yang diberikan oleh Sang Pencipta. Manusia diberi rasa untuk memahami, karsa untuk bekerja, dan cipta untuk mewujudkan keinginan dan gagasan. Luar biasa, hanya berbekal akal, manusia mampu mengubah hidupnya, dan memengaruhi kehidupan orang lain serta lingkungannya.
Akan tetapi, akal tanpa motif (dorongan) hanyalah bak hewan tunggangan yang tak bertuan, atau ladang subur yang tak terjamah. Adalah keinginan, cita-cita, harapan dan mimpi yang memberi alasan kepada akal untuk bekerja dan tetap hidup. Kombinasi keduanya lalu menghadirkan berbagai hal yang eksentrik; mulai dari khayalan, imajinasi, konsepsi, teorema, dogma, keyakinan, dan, keluhuran/kebijaksanaan. Kehidupan manusia pun menjadi kian dinamis dan berwarna, penuh dengan romantika dan nuansa, sarat dengan berbagai peristiwa beserta makna dan pelajaran berharga.
Dan, kini.. kita tengah hidup di tengah dunia yang senantiasa berubah dan berkembang dengan cepat, dipenuhi arus dan muatan informasi yang padat, lengkap dengan kecanggihan dan kemajuan (pengetahuan) teknologi yang mencengangkan… Apa yang dulunya hanya sebatas bayangan angan-angan, kini sudah menjadi kenyataan… Bukankah orang-orang dulu tidak pernah menyangka bahwa manusia akan bisa pergi ke bulan?
Demikianlah, berbekal akal, motif (keinginan) ditambah kerja keras dan keyakinan yang pas, manusia terus mengukir kisah-kisah mengagumkan dan mencengangkan dalam sejarah kehidupan dunia yang fana… Sebuah epik dalam panggung semesta yang tersusun sedemikian rupa… Berjalan menurut takdir yang Maha Kuasa.
Hari masih berganti, dan waktu tetap akan bergulir… Kita sepatutnya tak lagi menjadi objek cerita, penonton peristiwa dan pemeran figuran… Hari ini adalah milik kita; kitalah yang harus menjadi subjek, pelaku dan tokoh utama dalam setiap babakan hidup kita… Kewajiban kitalah untuk membuatnya bermakna dan mencatatkan sejarah cemerlang, dengan kerja nyata dan keyakinan sepenuh jiwa… Karena, hanya dengan demikianlah kehidupan dan keadaan kita menjadi bermakna dan patut dikenang dalam sejarah – sebagaimana mereka telah mendahului kita dengan berbagai pencapaiannya…
Menjadi Bermanfaat 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Earhart, Macam-macam, Manusia, Perbedaan
add a comment
“Some of us have great runways already built for us. If you have one, take off. But if you don’t have one, realize it is your responsibility to grab a shovel and build one for yourself and for those who will follow after you”.
(Amalia Earhart)
~
“Beberapa di antara kita telah memiliki landasan terbang yang sudah disiapkan. Jika engkau punya landasan itu, terbanglah. Tapi jika engkau tidak punya satupun landasan, sadarilah bahwa tanggungjawabmu untuk mengambil sekop dan membangun satu landasan, untukmu sendiri dan untuk mereka yang akan mengikuti jejakmu”.
Kita melihat manusia itu bermacam-macam keadaannya. Ada yang terlahir dari keluarga kaya, ada yang berasal dari keluarga miskin. Ada yang tampan rupawan/cantik jelita, ada yang pula yang buruk rupa. Ada yang cerdas, ada yang bodoh. Begitu seterusnya dalam berbagai hal yang mewarnai kehidupan manusia.
Apa maksud dari semua itu? Apakah Dia –Yang Maha Kuasa– tidak berlaku adil? Mengapa harus ada orang yang terlahir cacat, hidup penuh derita, sementara orang lain terlahir “sempurna”, hidup dalam kesenangan? Sungguh banyaknya perbedaan kondisi di antara manusia kadang membuat kita frustasi dan tak bisa memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi…
Perbedaan status, kemampuan, dan keadaan di antara kita bukanlah sebab bagi kita untuk saling bermusuhan dan berperang. Justeru disitulah letak hikmah-Nya agar manusia hidup berdampingan dalam harmoni; saling membantu sesama, dan saling melengkapi satu sama lain. Yang kaya berderma dengan kekayaannya untuk membantu mereka yang kekurangan. Yang cerdas mengamalkan ilmunya untuk membimbing yang bodoh. Yang kuat melindungi dan menyayangi yang lemah. Bukankah hidup yang demikian akan terasa indah?
Tiap-tiap insan beramal sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Ketika seseorang sadar memiliki suatu kelebihan (potensi), iapun berusaha untuk mengolah dan memaksimalkan potensi tersebut demi kepentingan dirinya dan orang lain. Ketika ia juga melihat bahwa banyak orang lain tak seberuntung dirinya, iapun tergugah untuk mengulurkan tangannya, memberikan bantuan semampunya untuk mengangkat dan memperbaiki derajat kehidupan mereka. Itulah potret orang yang selalu memberi manfaat bagi orang disekitarnya.
BERMIMPI YANG TINGGI… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Bintang, Bulan, Cita-cita, Kebersamaan, Les Brown, Permisalan
add a comment
“Shoot for the moon.
Even if you miss, you will land among the stars”.
(Les Brown)
~
“Arahkan sasaranmu ke bulan. Bahkan jika engkau meleset,
engkau akan mendarat di antara bintang-bintang”.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, seberapa pentingnya kita memiliki cita-cita yang tinggi? Bukankah cita-cita yang terlalu tinggi hanya akan mengganggu pikiran kita, dan membuat kita merasa terbebani? Bukankah jauh lebih baik jika hanya memiliki mimpi sederhana, tetapi tak sulit untuk diwujudkan?
Well, saya akan memberikan sebuah ilustrasi. Ada dua buah kebun. Satu kebun yang sangat luas, satunya lagi kebun yang kecil dan sederhana. Isi dua kebun tersebut juga berbeda. Kebun yang kecil dipenuhi oleh berbagai pohon rindang yang berbuah lebat, bermacam tumbuhan dapat ditemui di dalamnya, sungguh menggiurkan bagi mereka yang ingin menghilangkan lapar dengan mudah. Sedangkan kebun yang lainnya, kebun yang sangat luas tersebut, tidak banyak memiliki pohon berbuah atau tumbuh-tumbuhan. Namun, di dalam kebun yang luas itu tersimpan banyak harta karun berupa emas permata juga logam berharga. Dan, kebun tersebut dijaga oleh beberapa binatang buas yang ganas. Nah, jika dua kebun tersebut kita hadapkan pada orang-orang, yang mana yang akan mereka pilih untuk dimasuki?
Orang-orang yang berkemauan rendah tentu akan mencari aman dan sudah merasa puas bisa berada di kebun kecil yang dipenuhi pepohonan tersebut –cukup untuk memberi mereka makanan berhari-hari. Nampaknya lebih banyak orang yang memilih kebun yang kecil tersebut, sehingga tak lama kemudian kebun itupun menjadi penuh sesak dengan orang-orang, lalu persediaan makanan di dalamnya menjadi menipis dan terus berkurang. Maka, orang-orang di dalam kebun kecil tersebut saling bersaing berebut makanan yang tersisa. Entah seberapa keras persaingan dan seberapa ganas perkelahian yang mungkin terjadi di dalam kebun kecil itu. Hanya hukum rimbalah yang berlaku; yang kuat bertahan, yang lemah tertawan.
Kemudian, adakah orang yang memilih kebun yang luas dan kaya namun berbahaya tersebut? Mungkin jumlahnya sedikit, tapi selalu ada orang-orang yang berkemauan tinggi untuk menjamah kebun luas tersebut. Mungkin kebun luas itu memiliki binatang buas yang menjaganya, akan tetapi luasnya kebun itu sendiri memberikan kesempatan bagi pendatangnya untuk menjelajah dengan leluasa. Bahkan, bisa jadi, karena orang-orang yang mendatangi kebun tersebut lebih sedikit, maka mereka justeru akan berkolaborasi, bekerja sama, saling membantu untuk mencapai tujuan mereka yang sama; mengambil harta karun yang berharga. Maka, mulailah orang-orang itu bekerja mencari apa yang mereka cari. Selang waktunya mungkin cukup lama, sebab mereka berada dalam kebun yang sangat luas. Pencariannya mungkin bisa menjadi sangat melelahkan, dan juga mendebarkan. Begitulah, pencarian harta karun itu penuh teka teki. Bahkan ketika mereka telah bekerja sama, bisa jadi, mereka harus berhadapan dengan sang binatang buas penjaga kebun itu. Namun, setelah berusaha dengan mantap, masing-masing orang yang memasuki kebun itu berhasil membawa pulang bagian dari harta karun yang sangat berharga itu. Merekapun kembali dengan perasaan senang karena berhasil mendapatkan apa yang selama ini mereka cari.
Itulah permisalan antara orang-orang yang memiliki cita-impian yang rendah dan mereka yang bercita-cita mulia. Demikianlah perbandingan keadaan antara orang-orang yang bekerja hanya demi kebutuhan yang sesaat, dan mereka yang berjuang demi sesuatu yang jauh lebih berharga dan bermakna. Dan, sungguh berbeda pulalah akhir dan akibat yang diperoleh oleh kedua jenis manusia tersebut.
Orang yang bercita-cita rendah, hanya demi memenuhi nafsunya, akan mendapati dirinya berada di tengah-tengah ‘padang gersang’ yang dipenuhi oleh manusia ‘berhati serigala’. Mereka akan saling bertarung demi memperebutkan persediaan yang meskipun banyak, namun terbatas. Ingat, hanya ada hukum rimba yang berlaku di antara mereka.
Sedangkan orang-orang yang bercita-cita tinggi lagi mulia, mereka berjuang demi memperoleh sesuatu yang lebih berharga dan demi memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Mereka kemudian mendapati dirinya berada dalam medan perjuangan yang sarat tantangan bersama orang-orang lain yang serupa. Mereka lalu bekerja sama, bersatu, saling membantu dan mendukung demi meraih tujuan mereka bersama. Tak ada hukum rimba yang berlaku, meskipun mereka sedang berada di tengah rimba yang tak tentu. Hukum yang berlaku di tengah-tengah mereka adalah hukum kooperatif, kolaboratif, dan konstruktif. Mereka terus berjuang tanpa gentar, apapun yang mungkin terjadi. Bahkan ketika tujuan mereka belum tercapai, atau hasil yang diperoleh belum sesuai dengan yang diharapkan, mereka tak kecewa dan berputus asa. Sebab, mereka tahu, mereka telah mendapatkan “hal lain” yang tak kalah berharganya: “kebersamaan”.
Melangkah dengan Pasti… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Langkah, Puncak, TQM
add a comment
“There is no one giant step that does it. It’s a lot of little steps”.
(Peter A. Cohen)
~
“Tak ada satu langkah besar untuk melakukan sesuatu. (Tetapi) itu semua merupakan kumpulan dari banyak langkah-langkah kecil”
Pepatah Cina mengatakan bahwa langkah yang ke-1000 dimulai dengan langkah yang pertama, lalu diikuti langkah berikutnya. Apa maksud dari perkataan ini? Maksudnya ialah langkah yang besar jumlahnya (entah itu 1000, 10000, atau satu juta) tidak akan pernah tercapai jika kita tidak mau memulainya – dengan langkah yang pertama. Langkah yang pertama – meskipun sudah dilakukan – juga tak ada artinya jika tidak disusul dengan langkah-langkah berikutnya. Semuanya adalah sistem berantai yang saling berkaitan dan menentukan. Jika –misalnya– anda menjadikan 1000 langkah sebagai patokan (tujuan), maka anda membutuhkan benar-benar 1000 tahapan melangkah untuk sampai di tujuan tersebut. Meskipun anda telah melakukan 999 langkah, lalu berhenti, maka sungguh anda masih terhitung sebagai orang yang gagal mencapai tujuan anda sendiri.
Apa pelajaran yang bisa kita petik? Jika kita memandang kesuksesan/keberhasilan sebagai sebuah unisystem (sistem yang menyeluruh), maka kesuksesan tersebut merupakan akumulasi dan interaksi dari sub-system-sub-system yang ada. Keberhasilan yang terbesar sejatinya adalah kumpulan dari berbagai keberhasilan-keberhasilan kecil. Tak ada keberhasilan besar yang dapat dicapai dengan spontan atau tiba-tiba.
Mari kita melihat contoh, misalnya, pada sebuah perusahaan. Keberhasilan suatu perusahaan tentunya tak dapat dilihat secara global (menyeluruh) saja, namun harus ditinjau secara “differensial” (lokal) pada berbagai unit-unit kerja yang ada dibawahnya. Keberhasilan kerja di unit-unit kerja dalam perusahaan, itulah yang menjadi penentu kualitas keberhasilan kinerja perusahaan tersebut. Dengan kata lain, keberhasilan perusahaan adalah fungsi dari keberhasilan kolektif unit-unit kerjanya. Hal inilah yang memicu munculnya konsep semisal “Total Quality Management” untuk memberikan fokus yang menyeluruh dalam pengembangan aktivitas organisasi.
Dalam konteks individu juga demikian halnya. Keberhasilan puncak seseorang merupakan fungsi kolektif dari keberhasilan-keberhasilan kecil yang dicapainya. Seseorang dianggap benar-benar sukses jika berhasil meraih kesuksesan dalam berbagai dimensi kehidupannya. Seseorang yang sukses dalam lingkup keluarga, lingkungan masyarakat, dunia kerja, dan dalam bidang hidup lainnya adalah orang yang sukses tulen. Dari sinilah kita mengenal paradigma “integritas pribadi’, yakni di saat seseorang berhasil mengumpulkan kesuksesan-kesuksesan kecil yang mengantarkannya pada tingkatan kesuksesan yang lebih tinggi. Paradigma “integritas” menandaskan bahwa sebagai manusia multi-dimensional, kita dituntut untuk meraih kesuksesan semaksimal mungkin dalam tiap bidang yang kita terlibat di dalamnya.
Sayangnya, masih banyak orang yang berpandangan keliru. Mereka tidak menganggap bahwa kesuksesan di satu bidang berkaitan erat dengan kesuksesan pada bidang lainnya. Mereka tidak melihat urgensi dan keutamaan menjadi sukses secara komprehensif. Mereka cenderung menilai tiap kesuksesan sebagai substansi yang berdiri sendiri dan bebas dari pengaruh hal-hal lainnya. Alhasil, kita melihat orang-orang seperti itu adalah mereka yang seringkali menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan yang mereka inginkan. Mereka ingin langsung mencapai langkah yang ke-1000 tanpa mau meniti langkah-langkah ke-1, ke-2, dan seterusnya. Mereka selalu berfikiran bagaimana caranya untuk sampai ke puncak, tanpa harus lelah mendaki. Mereka selalu ingin “potong kompas” untuk segera meraih keinginannya. Kalaupun mereka ternyata berhasil meraih apa yang mereka inginkan, tak jarang itu terjadi akibat mengorbankan prinsip, norma-norma, nilai-nilai kehormatan dan harga diri, serta melalui cara-cara yang kotor dan licik. Hal ini banyak contohnya dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun orang yang cerdas adalah ia yang senantiasa sabar meniti jalan kesuksesannya dengan bertahap, penuh kehati-hatian dan pertimbangan yang matang. Ia tidak mengharapkan hasil yang instant, melainkan hasil yang melalui proses yang melelahkan, penuh perjuangan dan sarat cobaan. Namun, itu semua dijalaninya dengan teguh hati, karena ia sudah menyadari bahwa tak ada “jalan tol yang lurus” dalam mencapai kesuksesan yang ditujunya. Semuanya harus dilalui pada jalan yang berliku-liku, mendaki terjal, menurun curam, dan tak selalu mulus. Tapi di balik itu, ia sadar sepenuhnya, bahwa dengan cara itulah ia bisa menikmati perjuangannya, menggembleng dirinya sendiri, hingga akhirnya mencapai cita-citanya dengan berlapis-lapis kesuksesan. Sungguh mengesankan.
GAGAL BUKAN PILIHAN ! 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Gagal, Joan Lunden, Pilihan
add a comment
“Remove failure as an option”.
(Joan Lunden)
~
“Singkirkan kegagalan sebagai suatu pilihan”.
Kita selalu dihadapkan pada berbagai pilihan yang harus ditentukan. Masing-masing pilihan tersebut mengandung konsekuensi tersendiri. Pilihan hadir sebagai opsi/alternatif yang memiliki peluang untuk terjadi. Berhadapan dengan pilihan bukanlah perkara mudah. Diperlukan pemahaman, pertimbangan dan penilaian yang tepat terhadap berbagai pilihan yang ada –untuk mengambil “pilihan” yang benar-benar tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Kita tidak akan yakin “pilihan” yang kita ambil tersebut benar-benar tepat sampai kita memastikan bahwa “pilihan-pilihan” yang tersedia adalah alternatif yang positif. Sebab, pilihan itu ada dua; pilihan yang baik dan pilihan yang buruk. Ketika kita memutuskan mengambil “pilihan” yang buruk, tentu hasilnya akan sangat mengecewakan. Ketika kita memilih buah-buahan untuk kita beli, kita hanya mau memilih buah-buah yang baik dan segar saja, bukan? Tentu tak ada orang yang ketika dihadapannya terpajang buah-buahan, lalu dia melihat ada buah yang busuk dan buruk, kemudian dia mengambil buah busuk tersebut. Hal ini terjadi karena kita tahu, tak ada guna dan untungnya kita memilih buah yang busuk tadi.
Demikian pula halnya, untuk meraih kesuksesan, anda hanya harus terfokus padanya. Jangan dialihkan oleh kegagalan. Kesuksesan dan kegagalan adalah hal yang berlawanan, bagaikan barat dan timur yang tak akan pernah bertemu. Ketika anda menoleh pada “kegagalan”, anda pasti sedang berpaling dari “kesuksesan”. Terkait dengan “pilihan”, sering kita menganggap bahwa “sukses” dan “gagal” masing-masing adalah suatu pilihan. Dengan kata lain, pilihan itu ada dua: “menjadi sukses” atau “gagal sama sekali”. Sebenarnya tidak demikian.. Sukses bukan pilihan… Gagal, apalagi, jangan dipandang sebagai pilihan. Apa gunanya anda menjadikan “gagal” sebagai pilihan? Sukses itu patokan. Sukses adalah ukuran. Jalan menuju sukses, itu yang bermacam-macam. Disinilah pilihannya. Anda hanya harus memilih di antara berbagai pilihan –yang positif– mana pilihan yang terbaik bagi anda untuk menjadi sukses? Tentukanlah, kesuksesan apa yang ingin anda raih, lalu ambillah pilihan yang tepat dari berbagai opsi pilihan yang tersedia –dalam rangka menuju ke kesuksesan tersebut. Sekali lagi, jangan menoleh pada “kegagalan” itu. Jangan pernah memandang “kegagalan” sebagai sebuah opsi…
Menciptakan KESEMPATAN 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Charles Burton, Kesempatan, Permisalan, Waktu
add a comment
“You will never find time for anything. You must make it”.
(Charles Buxton)
~
“Kamu tidak akan pernah memperoleh waktu untuk (melakukan) sesuatu.
Kamu harus membuatnya”.
Manusia – sehebat dan sekuat apapun ia – tetaplah makhluk yang lemah. Mereka tidak memiliki kekuasaan apapun untuk menentukan takdir, mengetahui rahasia kehidupan dan mewujudkan semua keinginannya. Manusia adalah makhluk yang terbatas, karena ia tunduk di bawah aturan hukum alam yang tak mungkin dapat ditentangnya. Manusia tak dapat merubah hukum alam tersebut, mereka hanya dapat memanfaatkannya untuk mengelola kehidupannya.
Salah satu parameter kehidupan manusia yang sifatnya terbatas adalah usia/umur – kita dapat menyebutnya juga dengan istilah “waktu”. Semua manusia diberi jatah umur yang niscaya akan habis pada waktunya. Meskipun usia manusia tersebut bervariasi, terdapat kesamaan mengenai proses dan tahapan hidup yang dijalani oleh manusia dalam rentang waktunya. Semua manusia umumnya mengalami jenjang hidup yang serupa; lahir-muda-tua-mati. Sekilas hal ini membawa kita pada asumsi bahwa – jika demikian – maka keadaan manusia itupun sama saja pada akhirnya. Ternyata tidak demikian, justeru dari sini kita temui beragam perbedaan “kualitas” manusia yang menjalani kehidupannya.
Sesungguhnya hakekat umur tidaklah terletak pada panjang atau pendeknya usia seseorang. Akan tetapi, ia ditentukan dari seberapa berharga waktu itu dilaluinya. Usia hanyalah lembaran-lembaran dari “buku kehidupan”, amal perbuatanlah yang menjadi “goresan tinta”nya, yang mengukir sejarah. Kualitas dan derajat kemuliaan seseorang tidaklah ditentukan dari tebalnya “buku kehidupan” tersebut, namun dari seberapa berharganya “tulisan” yang terdapat di dalamnya.
Itulah sebabnya salah satu ciri dari orang yang sukses adalah penghargaannya yang amat tinggi terhadap waktu. Mereka selalu tidak suka menghabiskan usianya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan berguna. Mereka pun memandang detik, menit, jam, hingga tahun yang berganti adalah sangat berarti, karena ia tak akan pernah kembali lagi. Alhasil, mereka selalu bersemangat menjalani kehidupannya. Antusiasme mereka menjadi motivasi untuk terus berkarya dan berdedikasi. Mereka tak pernah pasif menunggu, bahkan selalu aktif berusaha. Bagi mereka, waktu bukan hanya “bagaikan uang” (time is money), pun bukan hanya “bagaikan pedang” (al-waqtu ka as-saifun), tapi juga “modal pinjaman” (capital debt) yang harus dibayar dengan amalan kebaikan nan berharga…
Kondisi orang-orang mulia di atas sangat berkebalikan dengan keadaan orang-orang yang lemah tak berdaya yang dicirikan dengan sifat kemalasannya. Mereka adalah orang yang jarang sekali menggoreskan “tinta emas” dalam lembaran “buku hidup”nya. Mereka tenggelam dalam lena dunia yang menghanyutkan. Mereka termakan angan-angan palsu, selalu meragu, dan suka menunda-nunda amal kebaikan. Mereka bukan tidak melihat keuntungan dan kemuliaan dari melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk dirinya ataupun orang lain. Akan tetapi, ketika mereka dihadapkan pada itu semua, mereka hanya berkata: “Tunggulah… kelak aku akan melakukannya.. tapi jangan sekarang… sekarang aku hanya ingin beristirahat dan menikmati hidupku yang singkat ini…”. Itulah pendirian mereka.
Perumpaan orang-orang tersebut bagaikan seorang hamba sahaya yang diperintahkan oleh sang Raja untuk mengumpulkan kayu bakar dari hutan di luar kerajaan. Si hamba itupun pergi ke hutan tersebut, lalu ia terpesona dan terlena oleh keindahan pemandangan di tempat itu.. Lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang, memakan buahnya, lalu tertidur beberapa lama… Ketika ia terbangun, hari sudah malam, ia harus kembali ke kerajaan… Ia pun kembali dengan tangan hampa sehingga mendatangkan kemarahan sang Raja. Ia pun dihukum dan disiksa akibat kelalaiannya sendiri… Bahkan ketika si hamba tadi memohon untuk diberi kesempatan kembali lagi ke hutan tersebut untuk menunaikan titah sang rajanya, dikatakan kepadanya: “Apakah jika engkau dikembalikan ke tempat itu engkau tidak akan terlena dan berleha-leha lagi? Celakalah engkau yang telah membuang kesempatanmu (dulu) yang berharga.”
JANGAN TAKUT MELAWAN ARUS 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: John Crowe, Melawan Arus, Pelari, Roger Bannister, Yunani
add a comment
“It takes a strong fish to swim against the current.
Even a dead one can float with it”.
(John Crowe)
~
“Dibutuhkan ikan yang kuat yang dapat berenang melawan arus.
Bahkan ikan yang mati pun dapat mengapung”.
Sampai pada pertengahan abad ke-20, para ilmuwan, dokter, atlet dan pelatih percaya bahwa tidak mungkin bagi manusia untuk berlari satu mil dalam waktu kurang dari empat menit (kurang lebih 24 km/jam). Orang-orang telah berusaha untuk mencapai hal ini sejak zaman Yunani kuno. Konon, orang-orang Yunani melepaskan singa-singa untuk mengejar para pelari, dengan harapan mereka akan berlari lebih cepat. Selama berpuluh-puluh tahun (bahkan mungkin jauh lebih lama dari itu) orang-orang telah mencoba memecahkan batas tersebut tanpa hasil. Oleh sebab itu, mereka pun sampai pada kesimpulan bahwa tidak mungkin bagi manusia untuk berlari satu mil dalam waktu empat menit atau kurang dari itu.
Menurut pengetahuan konvensional, secara fisiologis tubuh manusia tidak akan sanggup untuk berlari dengan kelajuan sebesar itu. Struktur tulang kita tidak menunjang. Hambatan (drag) akibat angin terlalu besar. Kekuatan paru-paru pun tidak memadai. Sistem jantung akan collapse sebelum batas empat menit ini dicapai. Dan segudang alasan lainnya…
Kemudian ada satu individu, seorang diri, yang membuktikan bahwa para ilmuwan, dokter, pelatih, atlet, serta jutaan pelari sebelumnya yang telah mencoba dan gagal, salah dalam pendapat mereka. Pada tanggal 6 Mei 1954, Roger Bannister berlari sejauh satu mil dalam waktu 3 menit 59.4 detik. Ia menembus batas 4 menit itu karena ia percaya dan yakin bahwa ia bisa. Dan, aneh bin ajaibnya, setelah dia berhasil melakukannya, berbondong-bondong orang kemudian percaya bahwa hal itu dapat juga mereka raih.
Pada tahun tersebut, setelah Roger Bannister menembus batas satu mil empat menit, 37 pelari lainnya menembus batas itu juga. Pada tahun berikutnya, 300 pelari menembus batas tersebut. Kini, setelah satu orang berhasil melakukannya, telah ribuan orang yang dapat berlari satu mil dalam waktu kurang dari empat menit. Apa yang menyebabkan itu terjadi? Tidak ada terobosan besar dalam bentuk latihan. Tidak ada yang menemukan cara melawan hambatan angin. Struktur tulang dan fisiologi manusia tidak mengalami perubahan dan kemajuan secara tiba-tiba. Tetapi, sikap dan persepsi manusia telah berubah secara drastis.
Roger Bannister adalah ‘ikan yang melawan arus’. Ia mendobrak stereotype batasan kemampuan tubuh manusia dalam berlari secepat mungkin. Ia menepis keraguan dan menghancurkan ketidak-percayaan orang-orang yang lamban. Ia berjuang sendirian, berbekal keyakinan, bahwa ia mampu mewujudkan apa yang diyakininya bisa untuk diwujudkan – meskipun dalam pandangan orang lain hal itu mustahil dilakukan. Roger bukanlah orang yang bermodal nekat saja, tetapi ia adalah orang yang punya tekad untuk memberikan semua yang ia punya demi tujuan yang diyakininya bisa diraih. Dan, ia pun berhasil. Ia menjadi pioneer (perintis) yang kemudian mengubah pandangan buta orang lain, dan menjadikan banyak orang lain mengikuti jejaknya – jejak yang telah dibuatnya sendirian.
Sebelum Roger Bannister tampil, orang-orang selalu hanya percaya pada “pakar”. Dan para “pakar” itulah yang terus menghambat orang lain untuk memenuhi potensinya. Setelah Roger berkibar, terjadi perubahan dalam “rasa percaya”. Orang-orang kemudian mengganti rasa percaya yang membatasi (negatif) dengan rasa percaya yang menyanggupkan (positif).
Anda lihat? Tak ada salahnya berjalan sendirian melawan kelaziman, jika anda sadar apa yang sedang anda lakukan, dan tahu kemana anda menuju. Greatness (kejayaan) hanya diperoleh oleh orang-orang yang berani berbuat, berani mendobrak kekangan stereotype, dan mampu membuktikan bahwa dia berada di track yang benar, serta sanggup menunjukkannya kepada dunia. Jadilah ikan yang kuat dan “hidup”, yang berani menantang arus demi sampai pada tujuannya. Sebab, sekali lagi, sungguh hanya ikan yang benar-benar “hidup” sajalah yang dapat bergerak ‘melawan arus’. Karena kalau hanya untuk ‘mengapung’ saja, ikan yang matipun bisa melakukannya.
[Note : Kisah Roger Bannister di atas disadur dari modul “Pelatihan Psikologi Kepemimpinan” – Oleh Dinas Psikologi Angkatan Darat, Bandung]
Be “POSITIVE” On What You’re Aiming For… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Akrobat, Henry Ford, Karl Wallenda, NLP, Positif, Puerto Rico
add a comment
“Obstacles are those frightful things you can see
when you take your eyes off your goal”.
(Henry Ford)
~
“Halangan/rintangan adalah hal-hal yang menakutkan
yang hanya terlihat ketika engkau berpaling dari tujuanmu”.
Karl Wallenda adalah seorang pendiri akrobat di atas kawat tinggi “Flying Wallendas”. Dia adalah salah satu dari keluarga akrobat di atas kawat yang terbesar sepanjang sejarah, berjalan di atas kawat adalah kehidupannya.
Pada 22 Maret 1978, Walenda yang berumur 73 tahun dijadwalkan untuk melakukan serangkaian pertunjukan berjalan di atas kawat yang direntangkan di antara dua hotel di tepi pantai San Juan, Puerto Rico. Disaksikan ratusan orang, sang maestro ini berjalan berhati-hati pada kawat setinggi 120 kaki (= 36.6 meter) dari atas tanah, dengan keterampilan yang selalu dia tampilkan ribuan kali sebelumnya. Namun kali ini, di tengah-tengah perjalanannya, Karl Wallenda tiba-tiba kehilangan keseimbangannya, ia pun terjatuh ke tanah dan tewas seketika.
Mengherankan ketika melihat mengapa Wallenda bisa terjatuh padahal pertunjukannya itu telah dilakoninya selama bertahun-tahun. Informasi yang diperoleh dari isterinya menjelaskan bahwa “selama 3 bulan sebelum peristiwa tersebut Karl hanya memikirkan jatuh. Ini adalah pertama kalinya ia memikirkan hal itu (dalam pertunjukannya). Ia lebih mengerahkan semua energinya untuk tidak terjatuh daripada berjalan menyeberang di atas kawat”. Hal tersebut sangat aneh sebab sebelumnya – selama karirnya – Karl tidak pernah menjadi sangat cemas. Menurut istrinya, sebelum pertunjukan nahas itu, Karl – untuk pertama kalinya – bermimpi melihat dirinya sendiri terjatuh dari kawat. Oleh sebab itu, Karl kemudian secara khusus mengawasi pemasangan kawat, penopang yang mengikat kawat rentangan di antara dua hotel, dan memeriksanya berkali-kali. Hal ini menurut istrinya “(sebelumnya) tidak pernah terpikirkan oleh Karl untuk melakukannya”, dan Karl mengatakan bahwa berjalan di atas kawat saat itu menakutkan.
Pada berbagai pertunjukan sebelumnya, Karl selalu mendapati dirinya berhasil menyeberang di atas kawat. Ia selalu berfokus pada tujuannya, yaitu menyeberangi kawat dengan selamat. Ketika Karl menemui kematiannya saat melakukan pertunjukan, pada saat itu fokus tujuannya adalah agar tidak jatuh. Alhasil, Karl Wallenda tewas ketika ia menggeser fokus tujuannya, dari “berjalan ke seberang kawat” menjadi “menghindari untuk terjatuh”.
Kisah tersebut di atas adalah contoh tragis bagaimana “fokus negatif” yang ingin kita hindari justeru menarik kita kepada hal tersebut. Ketika “fokus positif” mulai terabaikan dan teralihkan dari pandangan kita, maka disaat itu kita terarah pada “kegagalan”. Berfokus pada “menghindari kegagalan” hanya akan membuat kita “menemui kegagalan”.
Janganlah dirisaukan oleh kemungkinan kegagalan yang akan terjadi. Hal itu hanya akan membuat kita merugi. Perhatikanlah tujuan anda, fokus padanya, dan teruslah berorientasi pada tujuan-tujuan tersebut, apapun yang terjadi. Kegagalan memang sesuatu yang selalu terbentang di hadapan kita, tapi, apa yang kita peroleh jika kita selalu ‘menghadap’ pada kegagalan itu? Maka tak heran ketika kita ‘hanya’ melihat kepada kegagalan yang menghadang, seringkali di saat itulah kita benar-benar menjadi gagal, dan jauh dari tujuan yang seharusnya.
Dalam Neuro linguistic programming (NLP) disebutkan bahwa jika kita mengatakan “saya tidak bodoh”, maka otak akan menyerap informasi berupa “saya bodoh”. Jika kita meyakini bahwa “saya tidak boleh gagal”, maka otak menganggap sebaliknya, “saya boleh gagal”. Itulah mengapa kita melihat orang-orang barat selalu bersikap optimis. Ketika mereka gagal menyelesaikan sesuatu, mereka terus berbisik pada dirinya sendiri, “aku bisa.. aku pasti bisa..!”. Sikap positif inilah yang akan membuat kita pantang menyerah dan dan tidak berfokus pada kegagalan, melainkan berfokus pada tujuan.
Singkirkan rasa was-was dan prasangka negatif yang senantiasa menghantui. Hilangkan kemungkinan menemui kegagalan dari benak anda, sebab –sekali lagi– itu sungguh tak ada gunanya bagi anda, bahkan bisa berbahaya. Kuatkan keinginan, bulatkan tekad, dan kokohkan kemauan menjelang tujuan. Be positive. Be positive. And be positive! (Ingat, saya tidak mengatakan “jangan berfikiran negatif”, tetapi dengan ungkapan “jadilah positif”!).
[Note : Kisah Karl Wallendas di atas disadur dari modul “Pelatihan Psikologi Kepemimpinan” – Oleh Dinas Psikologi Angkatan Darat, Bandung]
Perbuatan yang BERKESAN 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Aksi, Emily P. Bissel, Engineer, Hitler, Inventor, Mussolini, Scientist
add a comment
“Great thoughts speak only to the thoughtful mind.
But great actions speak to all mankind”.
(Emily P. Bissel)
~
“Pemikiran/gagasan yang hebat hanya dapat berbicara
pada akal yang berpikir.
Tapi, aksi-aksi yang hebat berbicara pada semua manusia”.
Kita melihat manusia lahir dan mati, lalu datang dan pergi, semuanya silih berganti… Sejarah manusia telah ditorehkan dengan panjang sekali, sejak Nabi Adam (manusia pertama) diciptakan, hingga saat Kiamat menjelang… Beragam kisah mewarnai kehidupan panjang manusia dan kemanusiaan… Sebagian kisah hilang tertelan jaman, sebagian lagi tetap hidup seolah-olah berada dalam keabadian…
Lalu, apa yang membuat kisah beberapa manusia yang spesial itu tetap tak lekang oleh perjalanan sang waktu? Bukankah manusia itu umumnya keadaannya sama saja; lahir-tumbuh-dewasa-tua-mati? Bukankah mereka juga melakukan perbuatan yang kurang lebih sama; berjalan-berbicara-makan-tidur-bekerja-dan seterusnya? Apa yang membuat mereka (beserta kisah hidupnya) menjadi begitu berharga sehingga tetap dikenang oleh orang-orang yang datang sesudahnya…?
Jawabnya; mereka telah melakukan aksi-aksi (tindakan) yang hebat, yang bernilai dan berharga bagi diri mereka, orang lain dan kehidupannya… Mereka tetap dikenang – dan akan dikenang – karena telah meninggalkan bekas-bekas perjuangan dan usaha yang penuh keberanian dalam keyakinan yang tak meragukan… Merekalah manusia-manusia yang sejarahnya bertuliskan tinta emas karena lebih mendahulukan “perbuatan” dari “perkataan”. Ternyata sejarah pun membuktikan, manusia yang berharga bukanlah mereka yang hanya gemar berkata-kata, tanpa berbuat apa-apa… Amat sedikit kalangan manusia yang menjadi terkenal hanya karena untaian kata-katanya.. Kalaupun ada, maka mereka adalah dari kalangan penyair dan para Nabi… Penyair menjadi terkenal dengan kata-katanya yang mengandung keindahan untaian bahasa, sedangkan para Nabi menjadi terangkat kedudukannya dengan kata-kata, karena menyampaikan wahyu (kalam) dari-Nya.
Sejarah lebih banyak menempatkan orang yang berkarya nyata sebagai orang yang berharga… Lihatlah bagaimana nama-nama para Ilmuwan (scientist), Perekayasa (engineer) dan Penemu (inventor) tetap dikenang hingga saat ini, oleh beribu-ribu bahkan berjuta-juta manusia… Semua itu karena mereka telah berbuat dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak…
Contoh yang paling baik sebagai perbandingan terhadap kualitas orang-orang seperti tersebut sebelumnya adalah para politikus… Mereka tercatat dalam lembaran sejarah umumnya dalam lembaran yang hitam kelam… Ini terjadi karena mereka lebih mengutamakan “berkata-kata” daripada “berbuat”, mereka hanya pandai “beretorika” tanpa mengedepankan “moral dan etika”, mereka pandai bersilat lidah dan bermanis kata, meskipun perilakunya bejad dan nista… Alhasil, kita mengenal tokoh seperti Mussolini, Hitler, dan para diktator sejenisnya sebagai manusia yang berakhir sengsara… Na’udzubillah…
Orang akan terkesan dengan bagusnya tutur-kata anda, namun mereka akan lebih terkesan dan terkenang lagi berdasarkan perilaku dan tindak-tanduk anda… Orang yang salah ucap adalah lumrah, namun orang yang salah berbuat, bisa fatal akibatnya… Demikianlah adanya, perbuatan-perbuatan luhur, tindakan-tindakan terpuji, dan aksi-aksi yang benar lagi berani akan selalu terekam dalam memori manusia dan menduduki tempat yang terpandang dalam sejarah… Tidaklah seseorang melakukan hal tersebut, melainkan namanya akan dicatat bersama orang-orang yang telah lestari namanya dan panjang umurnya… Adapun manusia yang paling mulia adalah mereka yang berbuat baik bagi orang lain dimana perbuatan mereka itu didasari oleh pertimbangan akal yang jernih, nurani yang bersih ditunjang dengan niat (motivasi) yang benar… Karena, tidaklah perbuatan baik itu lahir melainkan berasal dari jiwa yang suci, pikiran yang kuat dan sifat (akhlaq) yang terpuji…
Menjadi ‘TULI’ 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Katak, Ted Turner, Tuli
add a comment
“I just love when people say I can’t do something
because all my life people said I wasn’t going to make it”.
(Ted Turner)
~
“Saya paling suka ketika orang-orang berkata bahwa saya tidak dapat melakukan sesuatu, karena sepanjang hidup saya orang-orang selalu berkata bahwa saya tidak akan mampu melakukannya”.
Ada sebuah kisah yang mengandung hikmah yang berkaitan dengan kutipan perkataan Ted Turner di atas. Kisahnya tentang dua ekor katak yang terjerembab ke dalam kubangan lumpur yang cukup dalam. Para kawanan katak yang ada disekitarnya lalu mengamati dan mengomentari keadaan kedua katak yang nahas itu. Mereka berseru, “sudahlah, menyerah sajalah, tidak mungkin engkau akan berhasil naik dari kubangan yang dalam itu… tak ada gunanya bagimu… engkau tak akan bisa.. engkau tak mungkin bisa melakukannya…”. Kawanan katak tersebut mengatakan hal yang demikian dan terus mengulang-ulangnya kepada kedua katak yang terjatuh tadi. Mendengar celotehan mereka, salah satu katak yang berada di kubangan tersebut menjadi keder, pesimis lalu pasrah tiada berdaya… Rupanya provokasi dan propaganda yang dilontarkan kawanan katak itu berhasil mematikan semangat dan meruntuhkan harapan hidupnya… Lain halnya dengan katak yang satu lagi… Kabar negatif dari kawanan katak yang ada di atasnya dianggapnya sebagai sorakan pemberi semangat dan motivasi baginya untuk terus berusaha naik ke permukaan. Celotehan mereka dipandangnya sebagai sumber kekuatan dan pendorong untuk terus berjuang dengan berani… Akhirnya, katak tersebut berhasil naik ke permukaan; dan katak yang sebelumnya terperangkap dalam kubangan, tetap berada di kubangan itu, dan mati.
Tahukah anda mengapa katak yang kedua berhasil selamat? Jawabannya adalah karena katak yang kedua itu TULI… Katak yang kedua itu tidak bisa mendengar apa yang sesungguhnya dikatakan oleh sekumpulan katak yang lain yang berada di atasnya.. Dia hanya bisa mengira-ngira, bahwa pada saat itu dia sedang didukung dan diberi semangat untuk berusaha selamat dari kubangan, padahal sebenarnya kawanan katak itu justeru mengatakan yang sebaliknya… Namun, oleh sebab itulah katak tersebut selamat dan berhasil…
Apa pelajaran dari kisah ini…? Seringkali kita menjadi “gagal” hanya karena terlalu risih dengan komentar pedas, kritikan dan celotehan orang-orang lain yang ingin menjegal langkah kita, dan tidak ingin melihat kita berhasil… Seringkali kita tidak berhasil hanya karena kita tidak tahan dengan pandangan miring, sikap sinisme dan pesimisme orang lain terhadap usaha yang kita lakukan… Dan, kita termakan olehnya.. maka kita pun gagal dan menjadi pecundang… Mengapa kita tidak bisa bersikap seperti katak yang kedua tadi, yang berhasil selamat dari masalahnya? Mengapa kita tidak berlagak “tuli” terhadap semua rongrongan yang mereka lemparkan…? Dan, jauh lebih hebat dari itu, mengapa kita tidak menjadikan provokasi mereka sebagai kekuatan kita, sumber motivasi dan dorongan untuk lebih keras berusaha, hingga akhirnya kita berhasil, dan menjadi pemenang…?!
Disitulah masalahnya, kadang-kadang kita terlalu aware dan lebih mengindahkan perasaan/pendapat orang lain daripada prinsip dan keyakinan diri kita sendiri… Kita terlalu percaya “apa kata mereka” dibandingkan “apa kata hatiku”… Kita terlalu peka dengan itu semua, yang membuat semangat kita padam, motivasi kita berkurang, dan usaha kita terhambat…
Sadarlah teman, dunia itu tidak dipenuhi oleh pemenang semuanya… Akan tetapi sebagian adalah pemenang, sebagian yang lain adalah pecundang… Orang-orang yang kita hadapi bukanlah musuh kita seluruhnya, tetapi sebagian kawan, sebagian juga lawan… Itulah sebabnya mengapa kita ditekankan untuk berfikir positif, bersikap optimis dan selalu realistis. Tak ada gunanya kita tenggelam oleh serangan badai orang-orang yang tidak mendukung kita… Tak perlu kita menanggapi segala macam penolakan, ketidaksetujuan, dan penilaian dari orang-orang yang tidak berlaku adil dan sportif… Berpalinglah dari itu semua..! Sesungguhnya mereka hanya melakukan itu untuk menjadikan anda bagian dari kelompok mereka – kelompok orang-orang yang gagal dan kalah dalam persaingan.
Maka, sungguh gagah orang yang berani berdiri di atas keyakinan dan prinsip yang dianutnya dengan percaya diri… Sungguh perkasa orang yang tetap kokoh berjuang dan tak mudah patah arang, meskipun ia hanya sendirian melawan deraan yang datang… Dan, sungguh beruntunglah orang yang mampu menjadikan provokasi-provokasi negatif menjadi sugesti-sugesti positif.. Dia mengetahui dengan pasti, kapan harus “mendengarkan” perkataan orang lain, dan kapan harus menjadi “tuli”… Dengan demikian, kondisi apapun yang terjadi, komentar apapun yang meracuni, tetap ditanggapi dengan mawas diri dan wajah berseri, seraya terus berjuang mengukir prestasi mengunggulkan pribadi…
JANGAN PERNAH BERHENTI ! 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Akhir, Berhenti, Proses, Sukses
add a comment
“Success is never ending. Failure is never final”.
(Robert Schuller)
~
“Sukses tidak akan pernah berakhir.
Kegagalan bukanlah sebuah akhir”.
Banyak orang mengira kesuksesan adalah tujuan akhir maupun pencapaian dari suatu hasrat keinginan. Ketika kita mampu meraih pekerjaan –menyisihkan pesaing lainnya, kita menganggap kita telah sukses. Ketika kita mampu menempati posisi yang terhormat dan ekslusif, kita pun berbangga akan hal itu. Atau, ketika kita berhasil lulus ujian, mendapatkan kekasih pujaan, memperoleh kenaikan pangkat dan gaji yang gila-gilaan, dan seterusnya, kita selalu ingin menepuk dada kita dan mengatakan pada dunia: “Aku berhasil!”.
Sukses adalah lawannya kegagalan. Jika kesuksesan dimaknai sebagai tujuan akhir ataupun hasil pencapaian, maka kegagalanpun dimaknai demikian. Orang yang gagal mencari pekerjaan, gagal meraih jabatan, gagal dalam ujian, gagal dalam cinta, dan seterusnya, menganggap itu adalah hasil untuk mereka, dan merasa bahwa itu adalah yang terbaik untuk mereka dapatkan. Lalu, orang-orang tersebut senantiasa murung dan termenung, terpekur pada dirinya sendiri, selalu menyiapkan beribu-ribu alasan untuk menjelaskan kenapa mereka “gagal”, seraya mengelus dadanya dan berkata: “Aku hanya seorang pecundang”.
Penafsiran terhadap makna “Sukses” vs. “Gagal” tersebut di atas cenderung memandang “Sukses” ataupun “Gagal” sebagai “status of condition”. Memandang Sukses/Gagal sebagai “status kondisi” adalah kurang bijak. Hal ini dikarenakan “status keadaan” tersebut hanya diperoleh di bagian akhir saja, yang berarti bahwa ia berorientasi pada hasil –bukan pada proses. Apakah adil jika kita menilai kesuksesan/kegagalan usaha seseorang hanya dengan melihat kondisi/hasil akhirnya saja? Jika anda mendapat nilai ujian yang buruk dalam suatu pelajaran, apakah otomatis itu berarti anda gagal dalam pelajaran tersebut? Kiranya tidak demikian. Memandang Sukses/Gagal sebagai “pencapaian” menunjukkan pemahaman kita masih berorientasi pada hasil – bukan proses.
Sekarang, bagaimana jika kita memandang “Sukses” dan “Gagal” sebagai suatu “proses”? Ya, “proses” dan bukan “hasil”. Atau dengan kata lain, “characteristic of condition” –bukan “status of condition”. Ini berarti bahwa kita menilai kesuksesan atau kegagalan seseorang bukan dari hasil akhirnya saja, tetapi berdasarkan pengamatan terhadap sifat/ciri yang kita dapati selama proses itu terjadi. Kembali ke contoh ujian di atas. Jika kita gagal dalam ujian (mendapat nilai yang buruk) pada suatu pelajaran disebabkan oleh kita memang malas, tidak berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dan tidak mempersiapkan ujian dengan baik, maka itu adalah sebenar-benarnya kegagalan (absolute failure). Sedangkan, jika kita telah menjalani proses pembelajaran dengan tekun, berperan serta dan telah mempersiapkan diri sebaik mungkin, kemudian kita gagal dalam ujian hanya karena suatu faktor “X” –yang diluar kehendak dan kekuasaan kita– tentunya ia tidak dipandang sebagai kegagalan yang mutlak (absolute failure), melainkan hanya merupakan kegagalan yang sifatnya relatif (relative failure). Disinilah letak perbedaannya, antara memandang sukses/gagal sebagai “hasil” dan “proses”.
Prinsip yang sama juga berlaku untuk menentukan “absolute success” dan “relative success”. Kesuksesan yang sebenarnya (“absolute success”) adalah kesuksesan yang lahir dan berakar dari kesuksesan lain, yakni kesuksesan yang saling mendukung dan memengaruhi; kesuksesan yang konstruktif dan produktif. Adapun kesuksesan yang relatif (“relative success”) adalah kesuksesan parsial yang hanya menyentuh aspek-aspek tertentu saja. Kita tentu mengatakan bahwa seorang yang menjadi CEO di sebuah perusahaan besar namun menjadi (burung) “BEO” di tengah keluarganya sendiri, bukanlah orang yang sukses dengan sesungguhnya. Yang kita inginkan, kita senantiasa sukses dimana saja dan kapan saja, entah itu di lingkungan keluarga, masyarakat (sosial), dan pekerjaan (profesional). Dan inilah yang dimaksud dengan kesuksesan yang hakiki.
Apakah untuk meraih kesuksesan yang hakiki itu terasa berat dan mustahil? Apakah anda menganggap tak akan mungkin bisa menjadi orang yang sukses secara absolut? Disitulah tantangannya. Dan kembali lagi, mari kita pandang kesuksesan itu sebagai “proses”. Tantangan yang kita hadapi adalah bagaimana kita sebaik mungkin menjadi “sukses” dengan menempuh “jalan-jalan kesuksesan itu sendiri” –menjalani prosesnya dengan benar. Tetap tatap tujuan anda, tapi jangan abaikan bagaimana cara anda sampai ke tujuan tersebut. Dengan demikian, saya yakin, apapun hasil akhirnya, kita percaya, itu adalah hasil yang benar-benar terbaik (truly the best) untuk anda. Sehingga dengan demikian, tak ada salahnya mengatributkan “kesuksesan” di pundak anda. Kiranya benar jika dikatakan bahwa : “Kesuksesan itu tidak pernah berakhir –karena ia tidak dilihat pada bagian akhirnya, melainkan pada prosesnya. Dan Kegagalan juga bukan sebuah akhir, karena tak ada kata “gagal” bagi seorang yang telah berusaha sungguh-sungguh melalui proses yang “bersih”, meskipun hasilnya belum sesuai yang diharapkan”. Maka, jangan pernah berhenti menjadi sukses…
JANGAN TAKUT BERTINDAK… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Berani, Jawaharlal Nehru, Soekarno-Hatta, Sukses, Takut
add a comment
“Success often comes to those who dare to act.
It seldom goes to the timid who are ever afraid of the consequences”.
(Jawaharlal Nehru)
~
“Sukses seringkali diraih oleh mereka
yang berani untuk bertindak.
Sukses jarang sekali berpihak pada mereka yang penakut
yang selalu takut pada konsekuensi-konsekuensi”.
Kita seringkali terpaku pada berbagai pertimbangan-pertimbangan yang memberatkan. Kitapun terfokus pada pertimbangan-pertimbangan tersebut, yang membuat kita kian jauh dari tujuan yang kita inginkan.. Parahnya lagi, seringkali usaha yang telah dan sedang kita lakukan terpaksa putus di tengah jalan, lalu berhenti dan mati. Semua itu disebabkan oleh kondisi yang dipenuhi keragu-raguan, was-was serta ketakutan untuk berjuang.
Apa yang bisa diharapkan dari keadaan seperti tersebut di atas? Jawabnya, tidak ada. Keadaan yang demikian halnya hanya akan membuat kita merugi, dan terus merugi. Bayangkan misalnya, anda memutuskan untuk membuka usaha restoran, anda sudah membangun gedungnya, sudah menyiapkan pekerjanya, juga sudah mengalokasikan dana untuk berbagai kebutuhan lainnya. Kemudian, di tengah jalan, rasa takut mulai menyerang. Anda ingat, disana-sini ternyata sudah banyak restoran yang berdiri –yang jauh lebih mapan dan telah eksis; lalu anda dihantui oleh rendahnya daya beli konsumen –yang membuat restoran anda sepi pengunjung; dan seabrek-abrek alasan lainnya… Alhasil, ketika anda baru memulai usaha tersebut, tak lama kemudian anda memutuskan untuk menutupnya. Merugikan bukan?
Itulah yang orang akan peroleh jika senantiasa membiarkan dirinya dibayangi oleh rasa was-was dan takut berusaha. Singkirkan itu semua! Jadilah petarung, yang mempertaruhkan apa yang dimilikinya untuk meraih apa yang diinginkannya. Ambil resiko itu, tapi tetaplah berkalkulasi. Munculkanlah percaya diri, namun tetaplah rendah hati. Jangan takut untuk berkompetisi, meskipun kolaborasi mungkin terjadi. Toh keberanianlah yang menjadi ujung tombak usaha kita, sehingga keberanian pulalah yang akan membawa kemenangan ke sisi kita. Bukankah kemerdekaan negara kita diputuskan hanya dalam waktu yang singkat? Apa jadinya jika saat itu Soekarno-Hatta tidak berani memproklamirkan kemerdekaan RI? Sungguh celaka orang yang takut berusaha…!
WUJUDKAN MIMPI-MIMPI-MU… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.Tags: Andrew Carnegie, Inspirasi, Mimpi, Motivasi, Pemenang, Soekarno
add a comment
“Anything in life worth having is worth working for”.
(Andrew Carnegie)
~
“Apapun yang dalam hidup berharga untuk dimiliki adalah pantas untuk didapatkan”.
Kita memiliki banyak impian dalam hidup ini, bukankah demikian? Bahkan banyak dari kita yang sudah memiliki impian sejak lama, sejak kita kecil dan masih bocah. Mungkin di antara kita ada yang bermimpi menjadi dokter, menjadi insinyur, tentara, atau, presiden. Lambat laun, kitapun diuji… Apakah kita adalah orang yang hanya cuma bisa bermimpi? Ataukah kita adalah orang yang berjuang demi mimpi-mimpi? Disinilah letak perbedaannya, antara para pecundang dan manusia-manusia pemenang.
Para pecundang adalah mereka yang terlalu cepat menyerah dalam setiap kesempatan. Mereka punya mimpi, tapi hanya sebatas mimpi, mimpi yang hanya menjadi cerita atau “dongeng” sebelum tidur… Mimpi yang mereka miliki tidak menjadi poros setiap usaha mereka. Alhasil, ketika mereka pun menemui berbagai kendala dalam upaya mewujudkan mimpinya, sedemikian mudah dan cepatnyalah mereka menyerah…
Adapun para pemenang adalah orang-orang yang tegar berdiri dalam keadaan apapun demi memperjuangkan mimpi-mimpi yang mereka miliki… Mereka memahami betul arti dan konsekuensi dari “bermimpi” atau menjadi “pemimpi”… Mereka punya mimpi, tapi bukan hanya sebatas mimpi, bukan mimpi yang menjadi bunga-bunga tidur. Bahkan, mimpi mereka hadir dalam realitas sehari-hari… Mimpi-mimpi mereka menjelma dalam setiap tindakan dan aksi yang mereka lakukan… Pun, ketika perjuangan mewujudkan mimpi dihadapkan pada berbagai masalah dan aral lainnya, mereka toh tetap berjuang menyongsong mimpi.. Bagi mereka, gugur dalam memperjuangkan mimpi jauh lebih baik dan terhormat daripada melepaskan mimpi yang mereka miliki…
Jelaslah, yang membedakan mengapa para pemenang selalu berhasil mewujudkan mimpinya – sedangkan para pecundang hanya sekadar bermimpi saja – adalah pandangan yang dimiliki para peemenang tersebut terhadap mimpi-mimpinya… Setiap mimpi pasti punya nilai, bobot dan orientasi tersendiri… Sehingga, hal yang tak kalah pentingnya dalam perspektif seorang pemimpi – yang menjadi pemenang – adalah upaya untuk memaknai dan merefleksikan mimpi-mimpi yang mereka tetapkan…
Dua orang yang memiliki pencapaian yang sama – berdasarkan mimpi yang berbeda – tidaklah dikatakan sama-sama pemenang… Misalnya, seorang anak dokter yang kemudian menjadi dokter –karena tuntutan dan mimpi orang tuanya– meskipun anak itu ingin menjadi insinyur, maka anak tersebut “gagal” mewujudkan mimpinya sendiri.. Ia hanya mewujudkan mimpi orangtuanya. Berbeda dengan, misalnya, seorang anak lain yang bermimpi menjadi dokter, kemudian ia berhasil menjadi dokter karena benar-benar bertekad untuk menjadi dokter – terlepas dari apakah sang anak adalah anak dari dokter atau bukan – maka kita katakan bahwa anak itu berhasil memenangkan mimpinya.
Akan tetapi, apabila si anak yang pertama tadi memaknai tuntutan orangtuanya sebagai “mimpi”nya sendiri, tentu lain halnya. Bisa jadi, si anak yang ingin menjadi insinyur lalu kenyataannya menjadi dokter tersebut lantaran menjadikan “ketaatan kepada tuntutan orang tua” sebagai mimpinya yang paling penting. Bahwa, membahagiakan orang tua dengan menuruti permintaan mereka adalah mimpinya yang sangat mendasar.. Maka, kita dapat memaknai keadaan anak itu dalam konteks kemenangan…
Oleh karena itu… jangan takut bermimpi… Soekarno bahkan pernah berkata : “Gantungkanlah cita-cita (impian)mu setinggi langit”… Dan, yang jangan sampai luput dari perhatian kita adalah pemaknaan kita terhadap mimpi-mimpi tersebut… Mimpi seharusnya bukanlah sesuatu yang muluk-muluk, bukan pula sesuatu yang mustahil untuk digapai… Meski demikian, mimpi tersebut sedapatnya mengandung nilai-nilai luhur, muatan spiritualitas dan misi kebaikan bagi sesama.
Hal yang harus ditetapkan sebelum bermimpi adalah mendeskripsikan keinginan-keinginan kita… Lalu, secara sadar ataupun tak sadar, memunculkan “impian” yang tersusun dan tergambar dengan jelas… Kemudian, saatnya mengevaluasi, apakah mimpi yang hadir itu pantas untuk diwujudkan (is it worthy)? Dan, apakah mimpi itu punya nilai/harga yang cukup tinggi sehingga pantas untuk diperjuangkan…? Jika demikian, saatnya bangun dari tidur lelap untuk mewujudkan impian tersebut – dan ini adalah cara yang terbaik. Bangunlah, bergerak dan bekerjalah sepenuh hati, sekuat tenaga, semaksimal mungkin untuk memperjuangkan mimpi-mimpi itu… Jangan menyerah, dan pantanglah untuk menyerah… Karena bagaimanapun juga, anda toh telah yakin dan pasti, mimpi yang anda perjuangkan itu memang layak untuk diperjuangkan – apapun hasilnya… Selamat mewujudkan mimpi…
Perjalanan Mengantar Kepergian “Dua Pahlawan”… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Hayaatiy (Kisah Hidupku).Tags: Cerita Kehidupan, Jakarta, Keluarga, Kisah Nyata, Perjalanan
add a comment
Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan melakukan perjalanan ke Jakarta demi sebuah urusan.. Selama di Jakarta kurang lebih empat hari, saya mengalami beberapa peristiwa dan melalui berbagai kisah / cerita … Menganggap bahwa perjalanan yang telah saya lewati tersebut berkesan, saya pun memutuskan untuk menuliskannya layaknya kisah dalam cerpen ataupun novelet…
Ini, adalah kisah nyata yang saya alami dan saya rasakan sendiri…
Bagi Anda yang mau membaca dan sudi menyimak deskripsi cerita tersebut, bersama ini saya sajikan kisahnya, yang dapat Anda download (unduh) dengan meng-klik / save-as link file PDF di bawah ini…
Selamat Menikmati… Dan mohon tanggapannya bila berkenan…
File-nya :
Perkenalan… 23 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Sesirih Kapur.Tags: Intro, Mukaddimah, Pengantar
add a comment
Bismillahirrahmaanirrahiim…
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Segala Puji Bagi Allah yang menciptakan “pena” (Al-Qalam) sebagai ciptaanNya yang mula-mula…
Segala puji bagi-Nya yang menurunkan kitab-kitab suci yang mulia…
Segala puji bagi-Nya yang telah berbicara, menuturkan kalam pada Rasul-Nya…
Salam dan Shalawat tak lupa kuhamburkan dalam semesta rinduku yang membara kepada junjungan tercinta, pribadi yang mulia lagi sempurna, Nabi yang Ummiy namun begitu fasihnya, Rasul yang teramat besar kasih-sayangnya kepada ummat-Nya: Muhammad “Al-Amin” shalllallahu ‘alaihi wa sallama…
Wa ba’du…
***
Inilah domain blog ketigaku (setelah blog di Friendster dan di blogspot) yang tengah kubangun dan kutata… Aku bermaksud menghimpun dan merangkum tulisan-tulisanku yang tercecer (baik di dalam blog-blog sebelumnya, maupun bahan-bahan yang belum sempat ke-publish) di dalam blog yang ketiga ini…
Blog ini kuberi nama “penaarafat” untuk menunjukkan bahwa “pena” yang kumiliki itu tetap ‘tajam dan terasah’, dan semoga senantiasa digunakan untuk menggoreskan tinta-tinta kebenaran dan kebijaksanaan… Mengingat, “pena” merupakan alat (sekaligus) senjata yang begitu ampuh (juga bisa berbahaya) dalam mengungkapkan maksud ataupun setiap ide-ide yang ada di kepala… Maka, inilah “pena”-nya sang Arafat, seorang anak muda yang sedang bergelut dengan masa… Seorang anak muda yang punya begitu banyak mimpi dan obsesi, memikirkan begitu luas ide-ide dan konsepsi, sembari mencari jati diri (juga belahan hati) – dan itu semua akan tertuang dalam lembaran halaman blog ini…
Semoga semua usaha dan jerih payah ini, dilandasi oleh niat suci, hingga akhirnya berbuah manis dan beroleh pahala yang berlapis-lapis… Amiin…
Â
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
With Love,
Ahmad Arafat Aminullah.