HATI yang MANDUL 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Islamic Thoughts.Tags: Akal, Hati, Nafsu, Permisalan, Pesawat, Qalb
add a comment
“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,
lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu
mereka dapat memahami
atau mempunyai telinga yang dengan itu
mereka dapat mendengar?
Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta,
tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
~ QS. Al Hajj : 46 ~
Ketika saya berbicara tentang “hati”, ada sedikit perasaan yang mengganjal. Ternyata saya berbicara tentang sesuatu yang abstrak adanya. Anda tahu, saya tidak sedang membicarakan organ hati (liver) – organ kelenjar besar di dalam perut – yang berfungsi untuk melawan racun (toxin). Akan tetapi, apa yang saya maksud sebagai “hati” disini merujuk pada sebuah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal darah/daging.
Bila segumpal daging itu baik, maka baiklah keseluruhannya.
Dan bila segumpal daging itu buruk, maka buruklah seluruhnya.
Ketahuilah, segumpal daging itu ialah al-Qalb (Hati)”.
Itulah hati, sesuatu yang disebut oleh baginda nabi berwujud daging/darah, namun memiliki kekuasaan yang amat hebat dalam menentukan keadaan tubuh (diri) keseluruhan. Menakjubkan melihat hati sebenarnya adalah raja di singgasana jasad. Tak heran mengapa hakikat, substansi dan eksistensi hati sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang ramai dibicarakan. Sehingga demi kemudahan, saya tidak akan membahas perkara hati yang menyinggung hakikat, substansi dan eksistensinya. Saya hanya ingin sekadar membicarakan fungsi, peranan dan kinerja hati tersebut.
Manusia dibekali oleh Sang Pencipta dengan (hawa) nafsu, akal dan – tentunya – hati, dan inilah yang membedakannya dari makhluk yang lain. Kita mengenal nafsu sebagai kecenderungan yang negatif, berisi dorongan-dorongan yang bersifat “hewani”, meskipun secara mutlak tidak dapat dikatakan bahwa nafsu itu pasti buruk. Keberadaan nafsu adalah pendorong lestarinya dan berlanjutnya kehidupan anak cucu Adam di muka bumi ini. Nafsulah yang mendorong kita untuk memenuhi hajat akan makanan -melepas lapar dan dahaga; menikah -menyalurkan kebutuhan biologis-genetis; marah -menyatakan luapan emosi; dan seterusnya. Masalah yang seringkali dilekatkan pada nafsu tersebut adalah ketika upaya pemenuhan nafsu dilakukan secara serampangan (membabi buta) dan atau secara berlebihan (melewati batas kecukupan), inilah yang menyebabkan nafsu itu bertendensi buruk. Sesungguhnya nafsu itu laksana binatang tunggangan liar yang harus senantiasa dikekang dengan cerdik: jika tali kekangnya lepas maka ia akan menerkam kita, jika tali kekangnya terlalu kencang maka kita akan kehilangan tunggangan kita.
Kemudian akal, kita mengetahuinya sebagai “proses dan hasil berfikir”. Akallah yang membuat kita mampu bertahan dan berusaha memenuhi hajat hidup. Akallah yang menunjukkan bagaimana kita bertani dan beternak untuk memeroleh makanan; bagaimana kita melindungi diri dari kerasnya alam (cuaca, iklim, binatang buas, dan ancaman lainnya); bagaimana kita memperbaiki dan mengembangkan kuantitas dan kualitas hidup yang kita inginkan. Nafsu yang mendorong kita untuk berbuat, akallah yang menjadi penuntun apa dan bagaimana yang harus kita perbuat. Ibaratnya, jika nafsu adalah “gaya dorong” (thrust) yang dihasilkan oleh mesin jet pesawat terbang, maka akal adalah “sistem kendali terbang”[1]nya – yang akan mengarahkan perjalanan pesawat terbang itu.
Adapun hati (qalbu), sesungguhnya ia adalah sumber kebijaksanaan, poros kesadaran juga maqom perasaan dan keyakinan. Hati – terlepas dari segala kemisteriusan dan keanehannya – adalah tempat kita meletakkan kedamaian dan wadah kita memupuk cinta. Hati – meskipun terlalu abstrak dan sulit untuk difahami – seringkali menjadi pabrik inspirasi, gudang motivasi, dan pos ekspresi. Hati juga bisa menjadi absurd, mengingat betapa sering, mudah dan cepatnya kondisi hati berubah. Namun, hal itu sebenarnya wajar adanya, mengingat “hati” (al-Qalb) secara bahasa bermakna “yang berbolak-balik“.
Lalu, dimana posisi hati di antara dua komponen diri sebelumnya – yakni nafsu dan akal? Kembali ke permisalan pesawat terbang di atas: jika nafsu adalah “gaya dorong” pesawat, akal adalah “sistem kendali terbang”nya, maka hati adalah “sang pilot”nya. Dengan demikian, hati adalah penentu dan pengendali utama pada pesawat terbang tersebut. Hati – sebagai ‘pilot’ jasad – adalah unsur yang bertanggung jawab dalam menentukan keselamatan/kecelakaan sebuah “pesawat” diri. Bukan main vitalnya fungsi dan peranan sang raja itu.
Jika demikian adanya, apakah lantas kita meletakkan kedudukan “hati” di atas posisi “nafsu” dan “akal”? Sepintas bisa kita anggap demikian, mengingat kekhasan dan keutamaan hati. Namun, saya cenderung meletakkan ketiga komponen tersebut dengan peran dan fungsi tersendiri dalam suatu sistem dinamik-kompleks yang berproses dan memiliki siklus terbuka (open loop). Terjadi berbagai proses[2] antara nafsu, akal dan hati, dan proses itu dilengkapi dengan umpan-balik (feedback) -agar dapat mengantisipasi ‘gangguan’ dan perubahan. Adapun siklus disini dimaksudkan untuk menunjukkan kesinambungan kerja, interaksi serta saling keterkaitan antara satu pihak dengan yang lain. Saya katakan sebagai siklus terbuka sebab selalu ada kesempatan bagi “pihak luar” (faktor “X”) untuk “masuk” dan mengintervensi – atau minimal; berinteraksi – pada proses maupun unsur yang ada.
Terdapat pembagian tugas-kewenangan serta proporsi kekuasaan dan prioritas fungsi bagi tiap-tiap unsur nafsu-akal-hati tadi. Berangkat dari permisalan yang sudah saya berikan, kita melihat bahwa hati adalah unsur yang memiliki kewenangan yang paling besar, kekuasaan yang paling utama dan prioritas fungsi yang paling penting. Akal, berikutnya menjadi unsur yang kedua; disusul oleh nafsu pada prioritas dan kewenangan yang paling rendah. Inilah kondisi idealnya.
Masalah mulai muncul ketika ketiga unsur diri tersebut (nafsu-akal-hati, bisa juga disebut: body-mind-soul) tidak berfungsi sebagaimana mestinya atau tidak bekerja secara optimal. Bagaimanakah keadaan orang yang tidak lagi memiliki nafsu untuk makan? Bagaimanakah kondisi orang-orang yang tidak lagi waras (berakal)? Bagaimanakah status orang yang berbuat kejahatan? Itulah implikasi yang bisa terjadi ketika ketiganya tidak lagi normal (sehat). Masalah itu bisa bertambah parah lagi jika hubungan dan interaksi yang menjalin proses antar-unsur tadi terputus atau terpecah; bisa juga terjadi isolasi sepihak yang menjadikan suatu unsur resisten terhadap unsur lain; atau, terjadi perubahan komposisi penguasaan (kedudukan) dan wewenang serta prioritas masing-masing unsur.
Mungkin keterangan di atas masih sulit untuk dicerna. Saya akan memberi suatu contoh.
Ada seseorang yang sangat kelaparan, namun ia tidak memiliki makanan sedikitpun. Nafsunya mendorongnya untuk memenuhi hajatnya itu, maka akalpun bekerja untuk menunjukkan jalan pemenuhan yang memungkinkan. Akal lalu hadir memberikan alternatif pemenuhan kebutuhan makanan yang diinginkan. Alternatif tersebut adalah; mencuri makanan orang lain, menodong/merampas harta orang lain untuk membeli makanan, mengemis dengan mengharapkan belas-kasih orang lain, atau bekerja demi mendapatkan upah untuk membeli makanan. Kini, yang tersisa hanyalah pilihan mana yang akan dilakukan? Maka keduanya (nafsu dan akal) menyerahkan pilihan tersebut pada sang hati. Hatilah yang menimbang-nimbang, sampai akhirnya memutuskan pilihan yang akan dibuat. Hati yang terang lagi sehat tentunya akan memilih pilihan yang baik dan benar - yakni bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dengan terhormat. Adapun hati yang sakit lagi gelap, maka ia hanya berputar menjatuhkan pilihan pada alternatif-alternatif yang buruk lagi salah, lalu dilakukan secara kalap untuk memenuhi kebutuhannya dengan singkat.
Contoh tersebut di atas menekankan berharganya peranan dan fungsi hati. Hati yang “sehat” akan menjadi sebab keselamatan dan kebahagiaan – meskipun nafsu dan akal belum tentu “puas”. Sebaliknya, terlalu menurutkan nafsu ataupun akal – tanpa mengindahkan hati – akan membuat hati “sakit” atau “mati”, yang akan menjadi sebab kecelakaan dan kerugian. Nafsu senantiasa dicirikan dengan ketidak-puasan dan tuntutan untuk memenuhi keinginan yang membara. Akal selalu diwarnai keingin-tahuan yang sangat besar dan tanda tanya atas setiap perkara. Adalah hati, yang mengemban tugas untuk mengekang “nafsu” dan membatasi “akal”, tanpa melupakan hak keduanya. Semuanya harus diarahkan secara benar dan didaya-gunakan dengan tepat dalam rangka menjalani kehidupan. Inilah tugas berat yang dimiliki oleh hati sehingga menjadikannya unggul dan ‘lebih’ dari yang lainnya.
Sebenarnya Tuhan menganugerahkan kepada manusia ketiga unsur diri tersebut (akal, nafsu dan hati) sebagai alat untuk menjaga kehidupan manusia, mengelola keadaan di bumi, serta melestarikan penghambaan yang bersih hanya kepadaNya. Masing-masing dari ketiga unsur itu memiliki peran yang jelas, tegas dan krusial. Tak akan pernah bahagia orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai pemimpin bagi akal dan hatinya. Tiada pula akan tenang, diri yang mengangkat akalnya sebagai “dewa” di atas segala-galanya. Adalah hati, yang dijadikan olehNya tempat bersemayamnya segala keindahan rasa, kesucian jiwa dan kekuatan semangat (spirit). Hati adalah ”oase” jiwa. Ketika nafsu merengek manja untuk dipenuhi, di saat akal membujuk rayu untuk diikuti, maka di saat itulah seharusnya “sang raja” hati mengambil keputusan yang terbijak dan terbaik untuk semuanya.
Semoga Tuhan memberikan kita hati yang superior, akal yang ‘cukup’ jenius, dan nafsu yang serba komplit. Agar kehidupan yang senantiasa terfragmentasi ini dapat dijalani dengan khidmat dalam nuansa harmoni yang bermakna. Amin...
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran
bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”
~ QS. Ali ‘Imraan : 13 ~
^ ~ ^
[1] Dalam dunia dirgantara, sistem kendali terbang suatu pesawat udara (konvensional) terdiri dari Aileron – untuk bergerak putar (roll) pesawat, Elevator – untuk gerakan naik-turun (pitch) pesawat, dan Rudder – untuk gerakan belok (yaw) pesawat.
[2] Proses yang bisa terjadi pada domain nafsu, misalnya: rangsangan (stimulus), aktivasi, dan aksi. Proses pada domain akal, antara lain: berfikir (bernalar), analisis, sintesis, dan imajinasi (daya cipta). Sedangkan proses pada hati, contohnya: intuisi, inspirasi, motivasi, refleksi dan proyeksi.
DIA yang SEMPURNA… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Islamic Thoughts.Tags: Adam, Atribut, Fir'aun, Iblis, Khidir, Musa, Sempurna, Sifat, Tuhan
add a comment
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia,
dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.
< QS. Asy Syuura : 11 >
Saya ingin memulai tulisan ini dengan mengetengahkan asumsi atau pendapat sebagian orang yang meyakini bahwa Tuhan itu hanya memiliki satu sifat mutlak, tidak bisa memiliki dua sifat yang berlawanan. Mereka mengatakan bahwa Tuhan itu tidak pernah – dan tidak akan pernah – marah, karena Dia Maha Pemurah dan Pengampun. Mereka juga menafikan bahwa Dia tertawa dan bersedih. Mereka pun merasa janggal ketika menerima kabar bahwa Dia itu bisa berlari, punya jari, dan bersemayam. Mereka merasa risih dengan sifat-sifat dan nama-namaNya yang ”menyeramkan” : Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya, Maha Cepat AdzabNya, dan sejenisnya. Saya jelas tidak setuju dengan pandangan ini.
Namun, sebelumnya saya ingin menegaskan bahwa konteks sifat keTuhanan disini adalah yang berkonotasi positif. Hal ini berangkat dari keyakinan saya sebagai seorang muslim, bahwa sesungguhnya Dia itu Maha Baik, dan disifati dengan segala kebaikan. Artinya, kejelekan, cacat dan cela tidak bisa dialamatkan kepada Tuhan – dan ini mutlak adanya. Adapun sifat yang berlawanan yang saya sebutkan diatas adalah sifat yang menunjukkan kepada variasi keadaan/kondisi ataupun perbuatan.
Kembali ke masalah di atas. Saya melihat, sebetulnya orang-orang yang mengingkari beberapa sifat, nama dan perbuatan Tuhan bermaksud baik dan mengagungkanNya dengan berusaha menjauhkan Dia dari atribut yang jelek (negatif). Mereka menyangka bahwa derajat keTuhanan akan berkurang jika Dia memiliki atribut yang mereka pandang tidak pantas dimiliki olehNya – berdasarkan persepsi akal. Tapi jelas, ini tidak bisa dibenarkan. Maksud yang baik harus dicapai (dan dilaksanakan) dengan cara yang benar pula. Dan, apa yang mereka yakini dan sangkakan telah bertentangan dengan keadaanNya.
Siapakah yang lebih mengetahui tentang keadaan Tuhan, selain Dia – diriNya sendiri? Dan siapakah yang berhak mengabarkan tentang keadaanNya itu kalau bukan Dia juga? Dan sungguh Dia telah memberi berita tentang diriNya sendiri, lewat wahyu yang diturunkan, yang dibawa oleh malaikat yang dipercaya, kepada RasulNya yang disucikan, hingga tertulis dalam kitab suci. Maka jika demikian adanya, tiada pilihan lain bagi kita – ketika mendapati kabar tentang keadaan, sifat, nama dan perbuatan Tuhan dari kitab suci yang kita baca – selain tunduk, patuh seraya mengimaninya, bukan mengingkarinya. Agama adalah wahana risalah Tuhan. Dia menurunkan kabar dan kalamNya secara simultan dengan begitu terjaga. Ini adalah alasan pertama kesalahan golongan tersebut di atas; yakni bahwa keadaanNya harus merujuk pada pengabaranNya yang tertera dalam kitab suci yang murni – yang diriwayatkan secara teliti. Mereka telah melangkahi legitimasi agama yang lebih berhak menjelaskan perkara di atas.
Alasan kedua adalah mereka telah terjebak dalam upaya penyerupaan, penakwilan (interpretasi) bahkan pengingkaran sifat, nama dan perbuatan Ilahiyah, karena terlalu mengikuti akal dan persepsi mereka sendiri yang terbatas. Mampukah lobang yang kecil untuk menampung air laut? Mampukah otak manusia – yang lebih kecil dari otak hewan primata lainnya – meng-indera-Nya yang Maha Besar? Adalah kesalahan besar – teramat besar – bagi manusia yang dengan begitu sombongnya merasa pantas dan mampu untuk menjangkau (memahami) setiap aspek keDirian Sang Pencipta. Mereka bersandar pada otak (akal)nya untuk melakukan itu semua, sehingga seakan-akan akal mereka itulah yang menjadi tuhannya. Sungguh berani mereka menilai Tuhan dengan pandangan akal yang lemah. Bandingkanlah, apakah pantas seorang sahabat menilai sahabatnya sendiri lalu menganggap penilaiannya sudah benar? Harusnya kita berkata ”tidak”. Maka bagaimanakah menurut anda keadaan beberapa orang – makhluk ciptaan – yang merasa setara denganNya sehingga berani memberikan penilaian kepadaNya? Tidakkah mereka sadar akan siapa diri mereka sebenarnya? Mereka hanyalah makhluk ciptaan, hamba yang hina, manusia yang lemah. Mereka bukanlah yang pertama mengusung hal ini, dan mereka juga tak akan menjadi yang terakhir. Orang-orang bani Israil dulu pernah menunjukkan kelancangannya:
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa,
kami tidak akan beriman kepadamu
sebelum kami melihat Allah dengan terang[1],
karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya[2]“.
< QS. Al Baqarah : 55 >
Tidaklah seorang manusia berhasrat untuk mengetahui seluk beluk Tuhan, melainkan ia adalah seorang yang sombong lagi ingkar. Dan sifat mereka tak kurang dari kecongkakan Fir’aun:
Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku,
aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.
Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat[3]
kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi
supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa,
dan sesungguhnya aku benar-benar yakin
bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.”
< QS. Al Qashash : 38 >
Sungguh tak pantas bagi kita untuk mencoba menggapaiNya dengan apa yang kita tidak punyai. Tak akan pernah bisa manusia untuk mengilmuiNya sepenuhnya, bahkan untuk level nabi sekalipun, sebagaimana yang pernah terjadi pada Nabi Musa:
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[4], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”
< QS. Al A’raaf : 143 >
Sungguh demikianlah adanya. Tuhan itu mengetahui keadaan seluruh makhluk ciptaanNya, namun tak seorang pun makhlukNya yang mengetahui seluruh keadaan diriNya. Kasus-kasus di atas barulah berkenaan dengan sifat fisik (zat) Tuhan yang tak mungkin dijangkau oleh manusia. Apalagi dengan sifat nama dan kehendak perbuatanNya, maka kita tak akan pernah bisa memahaminya dengan benar dan sempurnya, kecuali menurut sebatas apa yang Dia kabarkan. Sehingga, adalah tidak valid bin mustahil, upaya untuk memahami dan menilai Tuhan Yang Maha Sempurna melalui pandangan manusia yang penuh cacat lagi terbatas. Sikap selamat yang seharusnya kita ikuti adalah mengimani setiap kabar yang menerangkan tentang diri Tuhan yang datang melalui wahyuNya, karena sekali lagi, hanya Dia sendirilah yang lebih mengetahui hakikat diriNya.
Masalah penyimpangan di atas nampaknya juga dipicu oleh keinginan manusia untuk mampu mengerti dan memahami makna setiap perbuatan Tuhan. Mereka selalu mencari-cari apa alasan Tuhan melakukan ini dan itu? Tak jarang pula mereka mencoba meraba masa depan yang ditentukan olehNya, meskipun hal tersebut tersembunyi adanya.
Mengapa demikian? Jawaban yang mungkin diajukan adalah bahwasanya mereka telah termakan godaan hawa nafsunya, atau mereka menentang takdirNya, atau mereka – sekali lagi - menggunakan akalnya untuk mencapai Sang Pencipta. Sungguh orang-orang yang terjebak dalam kesalahan yang demikian bukanlah hamba yang mengenal Tuhannya dengan baik.
Patut ditanyakan kepada mereka yang sakit jiwanya tersebut: “Bukankah Dia – Allah – yang telah menciptakan alam semesta ini dan segala isinya, menciptakan ayah kita – Adam, lalu akhirnya menghidupkan kita?”. ”Bukankah Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu dan Maha Berkuasa untuk melakukan semua kehendakNya?”.
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya
dan merekalah yang akan ditanyai.
< QS. Al Anbiyaa’ : 23 >
Sungguh benar Engkau ya Allah, dengan segala kalamMu. Sungguh bodoh manusia yang menyibukkan dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar perbuatanNya, namun lupa dan lalai untuk mengevaluasi perbuatan diri mereka sendiri. Sungguh kebodohan dan kesombonganlah yang membuat kita mengingkari perbuatanNya dan buta akan hikmahNya.
Tidak cukupkah kisah si Iblis menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal? Iblis adalah makhluk pembangkang pertama akibat mengandalkan akalnya. Ketika diperintahkan sujud kepada Nabi Adam, ia mempertanyakan perintah itu kepada Allah. Ia bertanya, mengapa Allah berbuat demikian? Mulailah akalnya mengeluarkan anggapan-anggapan. Ia melihat bahwa tanah – bahan penciptaan Adam – lebih rendah mutunya daripada api – bahan penciptaan si Iblis. Akibatnya, Iblis pun terjatuh pada penentangan terhadap titahNya. Andaikata Iblis tidak mencari-cari tahu alasan dan sebab-musabab perbuatan Tuhan, dan hanya tunduk pada perintahNya, tentu Iblis tidak akan menjadi penghuni neraka yang abadi.
Mari kita bandingkan dengan kejadian antara Nabi Musa dan Nabi Khidir ‘alaihumassalam. Ketika Nabi Musa menemani Nabi Khidir dalam suatu perjalanan, kemudian Nabi Khidir melakukan hal-hal – yang dalam pandangan Nabi Musa – sangat aneh dan tidak masuk akal[5], maka Nabi Musa pun mengingkari dan memprotes perbuatan Nabi Khidir. Nabi Musa lupa bahwa Ia telah berjanji untuk tidak mengomentari setiap perbuatan Nabi Khidir, dan Ia lupa bahwa Khidir telah memperoleh ilmu dari sisi Allah. Maka ketika Khidir menjelaskan maksud setiap perbuatannya, barulah Musa mengerti dan menerima. Dan tidaklah beliau memahami makna perbuatan Khidir melainkan karena telah mendapatkan penjelasan darinya. Inilah contoh bahwa di antara sesama manusia pun, perbuatan seseorang tidak dapat sepenuhnya dipahami dan diterima oleh orang lain. Maka terlebih lagi antara hamba dan Tuhannya. Sungguh seorang hamba tak akan pernah mengetahui maksud perbuatan Rabbnya, kecuali setelah ia diberi hikmah untuk mengetahuinya.
Maka hendaklah orang-orang yang berilmu berusaha memahami perbuatan Allah tanpa harus mempertanyakan motifnya dan memaksakan akal untuk menjawabnya. Orang yang selamat adalah mereka yang menyerahkan perbuatanNya kepadaNya sendiri. Mereka menggunakan akal-mata bathin untuk berserah diri padaNya seraya mengakui bahwa Dialah Yang Maha Sempurna dan Maha Bijaksana. Mereka bersyukur jika Dia menyibakkan beberapa rahasia hikmahNya atas suatu perkara, namun jika tidak, mereka pun berdiam tenang karena telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Hal ini sungguh sangat penting, sebab dengan demikian, manusia akan dapat terhindar dari kekufuran kepadaNya, dan juga memberikan ketenangan serta mendatangkan keridhaan atas segala takdir peristiwa yang menimpa. Inilah indikator keimanan yang benar lagi kuat, dan solusi yang lebih selamat.
(Maka) Dialah Allah, Tuhan Yang Sempurna. Dialah yang mengetahui segala Yang Ghaib (tersembunyi) dan Yang Tampak, lagi Maha Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagiNya atas segala yang dilakukanNya, atas segala yang dikaruniakanNya, dan atas segala yang disempurnakanNya. Maha Suci Dia dengan segenap kekudusan dan keagunganNya. Maha Suci Dia yang menyifati Dirinya dengan segala kebaikan. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selainNya. Aku memohon ampun kepadaNya atas segala dosaku, dan kami berlindung kepadaNya dari berbagai kejahatan dan keburukan. Amin
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar.
< QS. Al Waaqi’ah : 74 dan 96 >
~^*^~
[1] Maksudnya: melihat Allah dengan mata kepala.
[2] Karena permintaan yang semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai azab dari Tuhan.
[3] Maksudnya: membuat batu bata.
[4] Para mufassirin (ahli tafsir) ada yang mengartikan yang nampak oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah, dan ada pula yang menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah. Bagaimanapun juga penampakan Tuhan itu bukanlah penampakan [seperti halnya] makhluk, hanyalah penampakan yang sesuai sifat-sifat Tuhan yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.
[5] Perbuatan tersebut adalah : Nabi Khidir melubangi perahu yang mereka tumpangi, membunuh seorang anak kecil yang tak berdosa, dan membangun tembok rumah anak yatim. Kisahnya terdapat dalam Al Qur’an surah Al Kahfi.
KETIKA GILIRAN TAK LAGI BERSISA… 25 November, 2007
Posted by Ahmad Arafat in Islamic Thoughts.Tags: Giliran, Hidup, Kejayaan, Perbuatan, Polar, Sejarah
add a comment
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan
di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)
< QS. Ali – Imraan : 140 >
Hidup ini sejarah. Dan sejarah, seperti kata sebagian orang, selalu berulang. Ya, mungkin tidak berulang secara persis sama, akan tetapi esensinya selalu tidak berbeda. Dan itu adalah perjuangan (pilihan) untuk berada di salah satu keadaan dari dua status: menang/kalah, benar/salah, baik/buruk, kaya/miskin, dan, bahagia/celaka. Yang namanya manusia, seringkali bolak-balik di antara dua keadaan dimaksud. Kadang kita berbuat benar, tak jarang juga berlaku salah. Hari ini menang dijelang, esok hari kalah yang datang. Begitu banyaknya orang yang dulunya miskin, kini menjadi kaya raya, juga sebaliknya. Dan begitulah seterusnya, kehidupan manusia diwarnai perubahan, perubahan yang senantiasa berputar pada dua keadaan yang berbeda.
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan [jalan kebajikan dan jalan kejahatan].
< QS. Al Balad : 10 >
Kalau kita melihat lebih dalam, sejatinya manusia dihadapkan pada bi-polar (dua kutub) pilihan yang berlawanan. Dan manusia benar-benar bebas untuk memilih salah satu dari dua kutub pilihan tersebut – beserta konsekuensi logisnya. Adapun nilai dari tiap-tiap pilihan tersebut sebetulnya tergantung pada persepsi masing-masing. Sebagai contoh, pejabat yang dihadapkan pada pilihan untuk melakukan korupsi atau tidak. Pejabat yang bersih tentunya memandang bahwa korupsi adalah perbuatan yang buruk, jahat dan tidak pantas dia lakukan – sehingga ia akan memilih untuk tidak melakukan korupsi. Sebaliknya, pejabat yang kotor akan menilai korupsi sebagai peluang dan jalan pintas untuk memeroleh keuntungan – maka diapun tenggelam dalam perbuatan yang tercela. Dari sini, kita mengetahui pentingnya memiliki persepsi (pandangan) yang benar dalam menilai suatu masalah. Persepsi yang tepat akan menuntun kita mengambil sikap yang benar yang patut dipilih.
Kebanyakan orang terjebak pada kesalahan memilih bukan karena tidak melihat akibat (konsekuensi) dari perbuatannya. Akan tetapi, mereka keliru dalam menginterpretasikan nilai/sifat yang dimuat oleh beragam pilihan yang ada. Selain itu, ada juga orang yang salah memilih karena ingin segera memenuhi kebutuhannya, atau memuaskan keinginannya yang membara. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak memiliki prinsip dan orientasi kehidupan yang jelas.
Kembali ke bagian awal, bahwa kadangkala kita hanya bolak-balik dari satu keadaan ke keadaan yang lain, tanpa bisa –bermukim- pada kondisi tertentu – yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, seringkali begitu mudahnya kita berubah, dari yang tadinya orang yang baik dan taat, menjadi orang yang nakal dan pembangkang. Atau, dalam kacamata personal yang lebih dalam, mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri, seberapa sering kita menjadi ”munafik” dengan menjadi orang yang baik dan jahat sekaligus? Beruntunglah orang-orang yang kisah hidupnya didominasi oleh kebaktian kepadaNya dan kebaikan pada makhlukNya. Sungguh, manusia itu benar-benar tempatnya salah dan lalai.
Apakah yang menyebabkan kita begitu sulitnya menjadi satu pribadi yang konsisten? Mengapa kehidupan kita lebih banyak berwarna ’abu-abu’ daripada berwarna tegas; hitam atau putih? Jawabannya mungkin tak akan anda temui disini. Tapi, apa yang ingin saya tekankan adalah pentingnya kita memiliki standar nilai, acuan prinsip dan orientasi hasil/tujuan dalam menghadapi berbagai pilihan.
Mungkin sudah kodratnya, yang namanya manusia itu selalu terombang-ambing di antara kebenaran dan kebathilan, kebaikan dan keburukan; dipengaruhi oleh bisikan-bisikan syaithan dan seruan-seruan malaikat. Namun, hal itu tidak berarti lantas membuat kita menjadi bimbang dan ragu dalam mengambil sikap dan menentukan pendirian. Di depan sudah saya singgung mengenai pentingnya persepsi yang tepat. Maka, yang berikutnya menjadi penting adalah berusaha sekuat tenaga untuk stick (tetap) berada pada pilihan keadaan yang terbaik, bagaimanapun dinamikanya. Hal ini senada dengan hadits Qudsi yang menceritakan keadaan seorang hamba yang berbuat salah, kemudian ia bertobat – dan diampuni, lalu ia berbuat salah lagi, kemudian ia kembali bertobat – maka ia diampuni, dan seterusnya. Ini menandaskan bahwa orang yang telah memegang prinsip akan selalu mengikuti prinsipnya, meskipun ia sering melanggar prinsip itu sendiri. Perumpamaannya seperti kereta yang ”keluar rel” yang selalu akan kembali ke atas ”relnya”, karena memiliki tujuan yang ingin dicapai. Kereta tersebut tahu, hanya dengan kembali dan berada di atas relnyalah yang akan mengantarkannya ke tujuannya.
Kini, sangat penting untuk diingat bahwa yang menentukan keadaan kita berikutnya adalah akhir-nya. Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu itu ada masa (batas)nya. Waspadalah jika kita berakhir pada keadaan yang salah-buruk-celaka. Disinilah pentingnya prinsip tadi, agar kita selalu mau berusaha terus berada pada koridor yang menyelamatkan, hingga ke akhirnya. Jadi, yang penting bukanlah keadaan kita yang berubah (bolak-balik) tersebut, akan tetapi bagaimana kita terus-menerus berjuang mencapai keadaan baik yang kita inginkan, seraya berusaha menetapi keadaan tersebut sampai waktu yang ditentukan. Saya ingin memberikan analogi: sebuah bandul yang pada awalnya disimpangkan ke kanan, kemudian bandul itu dilepas, maka diapun berayun (berosilasi) ke kiri dan ke kanan berulang kali. Sampai ketika waktu telah habis dan bandul tak lagi berayun, diharapkan bandul itu berada condong ke kanan (sebagamana posisi awalnya). Sehingga dengan demikian, dapat dikatakan, bahwa bandul itu telah berhenti/kembali pada tempatnya (baca: fitrahnya). Minimal, ia menduduki posisi netral (di tengah-tengah) yang seimbang. Bukan sebaliknya, menyimpang (ke kiri) jauh dari kedudukannya yang semula.
Inilah kehidupan. Kehidupan yang akan menjadi sejarah setiap pelakunya. Sejarah yang akan dipergilirkan di antara manusia. Pergiliran yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk mengajari hambaNya. Bahwa kehidupan ada sebagai ujian; manusia selalu diberi pilihan; dan di akhir zaman nanti hanya akan ada dua tempat kedudukan – surga atau neraka! Maka, bersikap ridhalah atas semua takdir yang ditetapkan; bertindak bijaklah terhadap setiap pergiliran keadaan; dan berusahalah mewujudkan impian kemenangan. Karena, waktulah yang akan memutuskan kehidupan, waktu pulalah yang menjadi penghenti pergiliran. Kelak, semuanya pasti, tak ada perubahan, hanya ada satu keadaan untuk satu nyawa, sepanjang masa. Oleh karenanya, pergunakanlah waktu anda sebaik mungkin untuk membawa diri anda ke status yang mulia. Karena, jika telah habis waktu, ketika giliran tak lagi tersisa untuk anda, yang dinantikan hanyalah keputusan dan balasanNya. Semoga hidup kita berakhir di saat kita mendapatkan giliran yang baik nan bahagia. Amin…
Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
< QS. Thaha : 132 >
NB. : Tulisan ini juga dimuat di Kota Santri dot com