jump to navigation

Melangkah dengan Pasti… 25 November, 2007

Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.
Tags: , ,
trackback

There is no one giant step that does it. It’s a lot of little steps”.

(Peter A. Cohen)

~

Tak ada satu langkah besar untuk melakukan sesuatu. (Tetapi) itu semua merupakan kumpulan dari banyak langkah-langkah kecil”

 

 

 

Pepatah Cina mengatakan bahwa langkah yang ke-1000 dimulai dengan langkah yang pertama, lalu diikuti langkah berikutnya. Apa maksud dari perkataan ini? Maksudnya ialah langkah yang besar jumlahnya (entah itu 1000, 10000, atau satu juta) tidak akan pernah tercapai jika kita tidak mau memulainya – dengan langkah yang pertama. Langkah yang pertama – meskipun sudah dilakukan – juga tak ada artinya jika tidak disusul dengan langkah-langkah berikutnya. Semuanya adalah sistem berantai yang saling berkaitan dan menentukan. Jika –misalnya– anda menjadikan 1000 langkah sebagai patokan (tujuan), maka anda membutuhkan benar-benar 1000 tahapan melangkah untuk sampai di tujuan tersebut. Meskipun anda telah melakukan 999 langkah, lalu berhenti, maka sungguh anda masih terhitung sebagai orang yang gagal mencapai tujuan anda sendiri.

 

Apa pelajaran yang bisa kita petik? Jika kita memandang kesuksesan/keberhasilan sebagai sebuah unisystem (sistem yang menyeluruh), maka kesuksesan tersebut merupakan akumulasi dan interaksi dari sub-system-sub-system yang ada. Keberhasilan yang terbesar sejatinya adalah kumpulan dari berbagai keberhasilan-keberhasilan kecil. Tak ada keberhasilan besar yang dapat dicapai dengan spontan atau tiba-tiba.

 

Mari kita melihat contoh, misalnya, pada sebuah perusahaan. Keberhasilan suatu perusahaan tentunya tak dapat dilihat secara global (menyeluruh) saja, namun harus ditinjau secara “differensial” (lokal) pada berbagai unit-unit kerja yang ada dibawahnya. Keberhasilan kerja di unit-unit kerja dalam perusahaan, itulah yang menjadi penentu kualitas keberhasilan kinerja perusahaan tersebut. Dengan kata lain, keberhasilan perusahaan adalah fungsi dari keberhasilan kolektif unit-unit kerjanya. Hal inilah yang memicu munculnya konsep semisal “Total Quality Management” untuk memberikan fokus yang menyeluruh dalam pengembangan aktivitas organisasi.

 

Dalam konteks individu juga demikian halnya. Keberhasilan puncak seseorang merupakan fungsi kolektif dari keberhasilan-keberhasilan kecil yang dicapainya. Seseorang dianggap benar-benar sukses jika berhasil meraih kesuksesan dalam berbagai dimensi kehidupannya. Seseorang yang sukses dalam lingkup keluarga, lingkungan masyarakat, dunia kerja, dan dalam bidang hidup lainnya adalah orang yang sukses tulen. Dari sinilah kita mengenal paradigma “integritas pribadi’, yakni di saat seseorang berhasil mengumpulkan kesuksesan-kesuksesan kecil yang mengantarkannya pada tingkatan kesuksesan yang lebih tinggi. Paradigma “integritas” menandaskan bahwa sebagai manusia multi-dimensional, kita dituntut untuk meraih kesuksesan semaksimal mungkin dalam tiap bidang yang kita terlibat di dalamnya.

 

Sayangnya, masih banyak orang yang berpandangan keliru. Mereka tidak menganggap bahwa kesuksesan di satu bidang berkaitan erat dengan kesuksesan pada bidang lainnya. Mereka tidak melihat urgensi dan keutamaan menjadi sukses secara komprehensif. Mereka cenderung menilai tiap kesuksesan sebagai substansi yang berdiri sendiri dan bebas dari pengaruh hal-hal lainnya. Alhasil, kita melihat orang-orang seperti itu adalah mereka yang seringkali menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan yang mereka inginkan. Mereka ingin langsung mencapai langkah yang ke-1000 tanpa mau meniti langkah-langkah ke-1, ke-2, dan seterusnya. Mereka selalu berfikiran bagaimana caranya untuk sampai ke puncak, tanpa harus lelah mendaki. Mereka selalu ingin “potong kompas” untuk segera meraih keinginannya. Kalaupun mereka ternyata berhasil meraih apa yang mereka inginkan, tak jarang itu terjadi akibat mengorbankan prinsip, norma-norma, nilai-nilai kehormatan dan harga diri, serta melalui cara-cara yang kotor dan licik. Hal ini banyak contohnya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Adapun orang yang cerdas adalah ia yang senantiasa sabar meniti jalan kesuksesannya dengan bertahap, penuh kehati-hatian dan pertimbangan yang matang. Ia tidak mengharapkan hasil yang instant, melainkan hasil yang melalui proses yang melelahkan, penuh perjuangan dan sarat cobaan. Namun, itu semua dijalaninya dengan teguh hati, karena ia sudah menyadari bahwa tak ada “jalan tol yang lurus” dalam mencapai kesuksesan yang ditujunya. Semuanya harus dilalui pada jalan yang berliku-liku, mendaki terjal, menurun curam, dan tak selalu mulus. Tapi di balik itu, ia sadar sepenuhnya, bahwa dengan cara itulah ia bisa menikmati perjuangannya, menggembleng dirinya sendiri, hingga akhirnya mencapai cita-citanya dengan berlapis-lapis kesuksesan. Sungguh mengesankan.


Komentar»

No comments yet — be the first.