jump to navigation

KETIKA GILIRAN TAK LAGI BERSISA… 25 Nopember, 2007

Posted by Ahmad Arafat in Islamic Thoughts.
Tags: , , , , ,
trackback

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan
di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)

< QS. Ali – Imraan : 140 >


Hidup ini sejarah. Dan sejarah, seperti kata sebagian orang, selalu berulang. Ya, mungkin tidak berulang secara persis sama, akan tetapi esensinya selalu tidak berbeda. Dan itu adalah perjuangan (pilihan) untuk berada di salah satu keadaan dari dua status: menang/kalah, benar/salah, baik/buruk, kaya/miskin, dan, bahagia/celaka. Yang namanya manusia, seringkali bolak-balik di antara dua keadaan dimaksud. Kadang kita berbuat benar, tak jarang juga berlaku salah. Hari ini menang dijelang, esok hari kalah yang datang. Begitu banyaknya orang yang dulunya miskin, kini menjadi kaya raya, juga sebaliknya. Dan begitulah seterusnya, kehidupan manusia diwarnai perubahan, perubahan yang senantiasa berputar pada dua keadaan yang berbeda.


Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan [jalan kebajikan dan jalan kejahatan].
<
QS. Al Balad : 10 >


Kalau kita melihat lebih dalam, sejatinya manusia dihadapkan pada bi-polar (dua kutub) pilihan yang berlawanan. Dan manusia benar-benar bebas untuk memilih salah satu dari dua kutub pilihan tersebut – beserta konsekuensi logisnya.
Adapun nilai dari tiap-tiap pilihan tersebut sebetulnya tergantung pada persepsi masing-masing. Sebagai contoh, pejabat yang dihadapkan pada pilihan untuk melakukan korupsi atau tidak. Pejabat yang bersih tentunya memandang bahwa korupsi adalah perbuatan yang buruk, jahat dan tidak pantas dia lakukan – sehingga ia akan memilih untuk tidak melakukan korupsi. Sebaliknya, pejabat yang kotor akan menilai korupsi sebagai peluang dan jalan pintas untuk memeroleh keuntungan –  maka diapun tenggelam dalam perbuatan yang tercela. Dari sini, kita mengetahui pentingnya memiliki persepsi (pandangan) yang benar dalam menilai suatu masalah. Persepsi yang tepat akan menuntun kita mengambil sikap yang benar yang patut dipilih.

 

Kebanyakan orang terjebak pada kesalahan memilih bukan karena tidak melihat akibat (konsekuensi) dari perbuatannya. Akan tetapi, mereka keliru dalam menginterpretasikan nilai/sifat yang dimuat oleh beragam pilihan yang ada. Selain itu, ada juga orang yang salah memilih karena ingin segera memenuhi kebutuhannya, atau memuaskan keinginannya yang membara. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak memiliki prinsip dan orientasi kehidupan yang jelas.

 

Kembali ke bagian awal, bahwa kadangkala kita hanya bolak-balik dari satu keadaan ke keadaan yang lain, tanpa bisa –bermukim- pada kondisi tertentu –  yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, seringkali begitu mudahnya kita berubah, dari yang tadinya orang yang baik dan taat, menjadi orang yang nakal dan pembangkang. Atau, dalam kacamata personal yang lebih dalam, mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri, seberapa sering kita menjadi ”munafik” dengan menjadi orang yang baik dan jahat sekaligus? Beruntunglah orang-orang yang kisah hidupnya didominasi oleh kebaktian kepadaNya dan kebaikan pada makhlukNya. Sungguh, manusia itu benar-benar tempatnya salah dan lalai.

 

Apakah yang menyebabkan kita begitu sulitnya menjadi satu pribadi yang konsisten? Mengapa kehidupan kita lebih banyak berwarna ’abu-abu’ daripada berwarna tegas; hitam atau putih? Jawabannya mungkin tak akan anda temui disini. Tapi, apa yang ingin saya tekankan adalah pentingnya kita memiliki standar nilai, acuan prinsip dan orientasi hasil/tujuan dalam menghadapi berbagai pilihan.

 

Mungkin sudah kodratnya, yang namanya manusia itu selalu terombang-ambing di antara kebenaran dan kebathilan, kebaikan dan keburukan; dipengaruhi oleh bisikan-bisikan syaithan dan seruan-seruan malaikat. Namun, hal itu tidak berarti lantas membuat kita menjadi bimbang dan ragu dalam mengambil sikap dan menentukan pendirian. Di depan sudah saya singgung mengenai pentingnya persepsi yang tepat. Maka, yang berikutnya menjadi penting adalah berusaha sekuat tenaga untuk stick (tetap) berada pada pilihan keadaan yang terbaik, bagaimanapun dinamikanya. Hal ini senada dengan hadits Qudsi yang menceritakan keadaan seorang hamba yang berbuat salah, kemudian ia bertobat – dan diampuni, lalu ia berbuat salah lagi, kemudian ia kembali bertobat – maka ia diampuni, dan seterusnya. Ini menandaskan bahwa orang yang telah memegang prinsip akan selalu mengikuti prinsipnya, meskipun ia sering melanggar prinsip itu sendiri. Perumpamaannya seperti kereta yang ”keluar rel” yang selalu akan kembali ke atas ”relnya”, karena memiliki tujuan yang ingin dicapai. Kereta tersebut tahu, hanya dengan kembali dan berada di atas relnyalah yang akan mengantarkannya ke tujuannya.

 

Kini, sangat penting untuk diingat bahwa yang menentukan keadaan kita berikutnya adalah akhir-nya. Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu itu ada masa (batas)nya. Waspadalah jika kita berakhir pada keadaan yang salah-buruk-celaka. Disinilah pentingnya prinsip tadi, agar kita selalu mau berusaha terus berada pada koridor yang menyelamatkan, hingga ke akhirnya. Jadi, yang penting bukanlah keadaan kita yang berubah (bolak-balik) tersebut, akan tetapi bagaimana kita terus-menerus berjuang mencapai keadaan baik yang kita inginkan, seraya berusaha menetapi keadaan tersebut sampai waktu yang ditentukan. Saya ingin memberikan analogi: sebuah bandul yang pada awalnya disimpangkan ke kanan, kemudian bandul itu dilepas, maka diapun berayun (berosilasi) ke kiri dan ke kanan berulang kali. Sampai ketika waktu telah habis dan bandul tak lagi berayun, diharapkan bandul itu berada condong ke kanan (sebagamana posisi awalnya). Sehingga dengan demikian, dapat dikatakan, bahwa bandul itu telah berhenti/kembali pada tempatnya (baca: fitrahnya). Minimal, ia menduduki posisi netral (di tengah-tengah) yang seimbang. Bukan sebaliknya, menyimpang (ke kiri) jauh dari kedudukannya yang semula.

 

Inilah kehidupan. Kehidupan yang akan menjadi sejarah setiap pelakunya. Sejarah yang akan dipergilirkan di antara manusia. Pergiliran yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk mengajari hambaNya. Bahwa kehidupan ada sebagai ujian; manusia selalu diberi pilihan; dan di akhir zaman nanti hanya akan ada dua tempat kedudukan – surga atau neraka! Maka, bersikap ridhalah atas semua takdir yang ditetapkan; bertindak bijaklah terhadap setiap pergiliran keadaan; dan berusahalah mewujudkan impian kemenangan. Karena, waktulah yang akan memutuskan kehidupan, waktu pulalah yang menjadi penghenti pergiliran. Kelak, semuanya pasti, tak ada perubahan, hanya ada satu keadaan untuk satu nyawa, sepanjang masa. Oleh karenanya, pergunakanlah waktu anda sebaik mungkin untuk membawa diri anda ke status yang mulia. Karena, jika telah habis waktu, ketika giliran tak lagi tersisa untuk anda, yang dinantikan hanyalah keputusan dan balasanNya. Semoga hidup kita berakhir di saat kita mendapatkan giliran yang baik nan bahagia. Amin


Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
<
QS. Thaha : 132 >

 

 

NB. : Tulisan ini juga dimuat di Kota Santri dot com


Komentar»

No comments yet — be the first.