jump to navigation

Karya Ketekunan… 25 November, 2007

Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.
Tags: , , , ,
trackback

Great works are performed not by strength but by perseverance”.

(Samuel Johnson)

~

Maha karya-Maha karya diwujudkan bukan oleh kekuatan,

tetapi oleh ketekunan”.

 

Dahulu ada seorang pelajar yang pergi untuk menuntut ilmu. Pelajar itu adalah seorang lelaki yang sudah berumur. Ia mendatangi tempat-tempat belajar untuk memeroleh ilmu yang ia inginkan. Setelah berselang masa, ia mendapati dirinya tidak cukup “cerdas” untuk mampu menyerap semua pelajaran yang ia ikuti. Ia merasa tidak mampu untuk mengikuti pelajaran di sekolahnya. Ia menjadi frustasi, merasa depresi lalu memutuskan untuk berhenti dari aktivitas belajarnya.

 

Ia pun beranjak pergi. Ia ingin lari membawa kegagalannya. Ia berjalan tak tentu membawa dirinya sendiri. Di tengah perjalanan, langit menurunkan sang hujan membasahi bumi. Lelaki itu terpaksa menghentikan perjalanannya, lalu berteduh di bawah atap sebuah rumah. Selama hujan terus mengguyur tempat tersebut, lelaki itu menangkap sebuah fenomena yang mengesankan…

Dari atas atap rumah tempat ia berteduh, mengalirlah air hujan dari pancoran yang jatuh ke tanah. Salah satu air hujan yang melalui pancoran tersebut jatuh tepat mengenai sebuah batu yang cukup besar dan keras. Tetesan air hujan tersebut terus mengalir dan jatuh pada batu itu. Lama kelamaan, tetesan air hujan yang terus menerpanya membuat lubang di atas batu tersebut yang semakin lama semakin membesar dan dalam. “Sungguh menakjubkan”, pikir sang lelaki, “batu yang keras dan besar ini saja bisa bocor, takluk oleh tetesan demi tetesan air yang menimpanya”.

Ia kemudian mengambil i’tibar (pelajaran berharga) dari fenomena tersebut. Ia membandingkan keadaan sang batu yang keras itu –yang menjadi bolong diterobos tetesan air hujan yang berulang-ulang– dengan keadaan dirinya yang dianggapnya bebal. Batu yang besar dan keras saja bisa terlobangi oleh tetesan air yang kecil dan ringan. “Mengapa aku tidak melakukan hal yang semisalnya? Meskipun otakku sulit menyerap pelajaran, namun jika aku belajar terus-menerus, dari waktu ke waktu, tentu pelajaran tersebut akan menempel di ingatanku”. Maka, lelaki itu kemudian kembali ke jalannya, menjadi penuntut ilmu yang tekun. Lelaki itu terus belajar dengan giat dan rajin, hingga ia tercatat sebagai salah seorang ulama yang masyhur. Lelaki tersebut kemudian dikenal dengan nama ibnu Hajar (“si anak batu”) al-Atsqolani, seorang ulama papan atas dalam khazanah sejarah Islam.

Komentar»

No comments yet — be the first.