jump to navigation

DIA yang SEMPURNA… 25 November, 2007

Posted by Ahmad Arafat in Islamic Thoughts.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia,
dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.
<
QS. Asy Syuura : 11 >

 

 

Saya ingin memulai tulisan ini dengan mengetengahkan asumsi atau pendapat sebagian orang yang meyakini bahwa Tuhan itu hanya memiliki satu sifat mutlak, tidak bisa memiliki dua sifat yang berlawanan. Mereka mengatakan bahwa Tuhan itu tidak pernah – dan tidak akan pernah – marah, karena Dia Maha Pemurah dan Pengampun. Mereka juga menafikan bahwa Dia tertawa dan bersedih. Mereka pun merasa janggal ketika menerima kabar bahwa Dia itu bisa berlari, punya jari, dan bersemayam. Mereka merasa risih dengan sifat-sifat dan nama-namaNya yang ”menyeramkan” : Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya, Maha Cepat AdzabNya, dan sejenisnya. Saya jelas tidak setuju dengan pandangan ini.

 

Namun, sebelumnya saya ingin menegaskan bahwa konteks sifat keTuhanan disini adalah yang berkonotasi positif. Hal ini berangkat dari keyakinan saya sebagai seorang muslim, bahwa sesungguhnya Dia itu Maha Baik, dan disifati dengan segala kebaikan. Artinya, kejelekan, cacat dan cela tidak bisa dialamatkan kepada Tuhan – dan ini mutlak adanya. Adapun sifat yang berlawanan yang saya sebutkan diatas adalah sifat yang menunjukkan kepada variasi keadaan/kondisi ataupun perbuatan.

 

Kembali ke masalah di atas. Saya melihat, sebetulnya orang-orang yang mengingkari beberapa sifat, nama dan perbuatan Tuhan bermaksud baik dan mengagungkanNya dengan berusaha menjauhkan Dia dari atribut yang jelek (negatif). Mereka menyangka bahwa derajat keTuhanan akan berkurang jika Dia memiliki atribut yang mereka pandang tidak pantas dimiliki olehNya – berdasarkan persepsi akal. Tapi jelas, ini tidak bisa dibenarkan. Maksud yang baik harus dicapai (dan dilaksanakan) dengan cara yang benar pula. Dan, apa yang mereka yakini dan sangkakan telah bertentangan dengan keadaanNya.

 

Siapakah yang lebih mengetahui tentang keadaan Tuhan, selain Dia – diriNya sendiri? Dan siapakah yang berhak mengabarkan tentang keadaanNya itu kalau bukan Dia juga? Dan sungguh Dia telah memberi berita tentang diriNya sendiri, lewat wahyu yang diturunkan, yang dibawa oleh malaikat yang dipercaya, kepada RasulNya yang disucikan, hingga tertulis dalam kitab suci. Maka jika demikian adanya, tiada pilihan lain bagi kita – ketika mendapati kabar tentang keadaan, sifat, nama dan perbuatan Tuhan dari kitab suci yang kita baca – selain tunduk, patuh seraya mengimaninya, bukan mengingkarinya. Agama adalah wahana risalah Tuhan. Dia menurunkan kabar dan kalamNya secara simultan dengan begitu terjaga. Ini adalah alasan pertama kesalahan golongan tersebut di atas; yakni bahwa keadaanNya harus merujuk pada pengabaranNya yang tertera dalam kitab suci yang murni – yang diriwayatkan secara teliti. Mereka telah melangkahi legitimasi agama yang lebih berhak menjelaskan perkara di atas.

 

Alasan kedua adalah mereka telah terjebak dalam upaya penyerupaan, penakwilan (interpretasi) bahkan pengingkaran sifat, nama dan perbuatan Ilahiyah, karena terlalu mengikuti akal dan persepsi mereka sendiri yang terbatas. Mampukah lobang yang kecil untuk menampung air laut? Mampukah otak manusia – yang lebih kecil dari otak hewan primata lainnya – meng-indera-Nya yang Maha Besar? Adalah kesalahan besar – teramat besar – bagi manusia yang dengan begitu sombongnya merasa pantas dan mampu untuk menjangkau (memahami) setiap aspek keDirian Sang Pencipta. Mereka bersandar pada otak (akal)nya untuk melakukan itu semua, sehingga seakan-akan akal mereka itulah yang menjadi tuhannya. Sungguh berani mereka menilai Tuhan dengan pandangan akal yang lemah. Bandingkanlah, apakah pantas seorang sahabat menilai sahabatnya sendiri lalu menganggap penilaiannya sudah benar? Harusnya kita berkata ”tidak”. Maka bagaimanakah menurut anda keadaan beberapa orang – makhluk ciptaan – yang merasa setara denganNya sehingga berani memberikan penilaian kepadaNya? Tidakkah mereka sadar akan siapa diri mereka sebenarnya? Mereka hanyalah makhluk ciptaan, hamba yang hina, manusia yang lemah. Mereka bukanlah yang pertama mengusung hal ini, dan mereka juga tak akan menjadi yang terakhir. Orang-orang bani Israil dulu pernah menunjukkan kelancangannya:


Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa,

kami tidak akan beriman kepadamu

sebelum kami melihat Allah dengan terang[1],

karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya[2]“.
<
QS. Al Baqarah : 55 >


Tidaklah seorang manusia berhasrat untuk mengetahui seluk beluk Tuhan, melainkan ia adalah seorang yang sombong lagi ingkar. Dan sifat mereka tak kurang dari kecongkakan Fir’aun:


Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku,

aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.

Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat[3]

kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi

supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa,

dan sesungguhnya aku benar-benar yakin

bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.”

< QS. Al Qashash : 38 >

Sungguh tak pantas bagi kita untuk mencoba menggapaiNya dengan apa yang kita tidak punyai. Tak akan pernah bisa manusia untuk mengilmuiNya sepenuhnya, bahkan untuk level nabi sekalipun, sebagaimana yang pernah terjadi pada Nabi Musa:


Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu
[4], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”
<
QS. Al A’raaf : 143 >

Sungguh demikianlah adanya. Tuhan itu mengetahui keadaan seluruh makhluk ciptaanNya, namun tak seorang pun makhlukNya yang mengetahui seluruh keadaan diriNya. Kasus-kasus di atas barulah berkenaan dengan sifat fisik (zat) Tuhan yang tak mungkin dijangkau oleh manusia. Apalagi dengan sifat nama dan kehendak perbuatanNya, maka kita tak akan pernah bisa memahaminya dengan benar dan sempurnya, kecuali menurut sebatas apa yang Dia kabarkan. Sehingga, adalah tidak valid bin mustahil, upaya untuk memahami dan menilai Tuhan Yang Maha Sempurna melalui pandangan manusia yang penuh cacat lagi terbatas. Sikap selamat yang seharusnya kita ikuti adalah mengimani setiap kabar yang menerangkan tentang diri Tuhan yang datang melalui wahyuNya, karena sekali lagi, hanya Dia sendirilah yang lebih mengetahui hakikat diriNya.

 

 

Masalah penyimpangan di atas nampaknya juga dipicu oleh keinginan manusia untuk mampu mengerti dan memahami makna setiap perbuatan Tuhan. Mereka selalu mencari-cari apa alasan Tuhan melakukan ini dan itu? Tak jarang pula mereka mencoba meraba masa depan yang ditentukan olehNya, meskipun hal tersebut tersembunyi adanya.

 

Mengapa demikian? Jawaban yang mungkin diajukan adalah bahwasanya mereka telah termakan godaan hawa nafsunya, atau mereka menentang takdirNya, atau mereka – sekali lagi - menggunakan akalnya untuk mencapai Sang Pencipta. Sungguh orang-orang yang terjebak dalam kesalahan yang demikian bukanlah hamba yang mengenal Tuhannya dengan baik.

 

Patut ditanyakan kepada mereka yang sakit jiwanya tersebut: Bukankah Dia – Allah – yang telah menciptakan alam semesta ini dan segala isinya, menciptakan ayah kita – Adam, lalu akhirnya menghidupkan kita?”. ”Bukankah Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu dan Maha Berkuasa untuk melakukan semua kehendakNya?”.


Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya

dan merekalah yang akan ditanyai.
< QS. Al Anbiyaa’ : 23 >

 

Sungguh benar Engkau ya Allah, dengan segala kalamMu. Sungguh bodoh manusia yang menyibukkan dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar perbuatanNya, namun lupa dan lalai untuk mengevaluasi perbuatan diri mereka sendiri. Sungguh kebodohan dan kesombonganlah yang membuat kita mengingkari perbuatanNya dan buta akan hikmahNya.

 

Tidak cukupkah kisah si Iblis menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal? Iblis adalah makhluk pembangkang pertama akibat mengandalkan akalnya. Ketika diperintahkan sujud kepada Nabi Adam, ia mempertanyakan perintah itu kepada Allah. Ia bertanya, mengapa Allah berbuat demikian? Mulailah akalnya mengeluarkan anggapan-anggapan. Ia melihat bahwa tanah – bahan penciptaan Adam – lebih rendah mutunya daripada api – bahan penciptaan si Iblis. Akibatnya, Iblis pun terjatuh pada penentangan terhadap titahNya. Andaikata Iblis tidak mencari-cari tahu alasan dan sebab-musabab perbuatan Tuhan, dan hanya tunduk pada perintahNya, tentu Iblis tidak akan menjadi penghuni neraka yang abadi.

 

Mari kita bandingkan dengan kejadian antara Nabi Musa dan Nabi Khidir alaihumassalam. Ketika Nabi Musa menemani Nabi Khidir dalam suatu perjalanan, kemudian Nabi Khidir melakukan hal-hal – yang dalam pandangan Nabi Musa – sangat aneh dan tidak masuk akal[5], maka Nabi Musa pun mengingkari dan memprotes perbuatan Nabi Khidir. Nabi Musa lupa bahwa Ia telah berjanji untuk tidak mengomentari setiap perbuatan Nabi Khidir, dan Ia lupa bahwa Khidir telah memperoleh ilmu dari sisi Allah. Maka ketika Khidir menjelaskan maksud setiap perbuatannya, barulah Musa mengerti dan menerima. Dan tidaklah beliau memahami makna perbuatan Khidir melainkan karena telah mendapatkan penjelasan darinya. Inilah contoh bahwa di antara sesama manusia pun, perbuatan seseorang tidak dapat sepenuhnya dipahami dan diterima oleh orang lain. Maka terlebih lagi antara hamba dan Tuhannya. Sungguh seorang hamba tak akan pernah mengetahui maksud perbuatan Rabbnya, kecuali setelah ia diberi hikmah untuk mengetahuinya.

 

Maka hendaklah orang-orang yang berilmu berusaha memahami perbuatan Allah tanpa harus mempertanyakan motifnya dan memaksakan akal untuk menjawabnya. Orang yang selamat adalah mereka yang menyerahkan perbuatanNya kepadaNya sendiri. Mereka menggunakan akal-mata bathin untuk berserah diri padaNya seraya mengakui bahwa Dialah Yang Maha Sempurna dan Maha Bijaksana. Mereka bersyukur jika Dia menyibakkan beberapa rahasia hikmahNya atas suatu perkara, namun jika tidak, mereka pun berdiam tenang karena telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Hal ini sungguh sangat penting, sebab dengan demikian, manusia akan dapat terhindar dari kekufuran kepadaNya, dan juga memberikan ketenangan serta mendatangkan keridhaan atas segala takdir peristiwa yang menimpa. Inilah indikator keimanan yang benar lagi kuat, dan solusi yang lebih selamat.

 

(Maka) Dialah Allah, Tuhan Yang Sempurna. Dialah yang mengetahui segala Yang Ghaib (tersembunyi) dan Yang Tampak, lagi Maha Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagiNya atas segala yang dilakukanNya, atas segala yang dikaruniakanNya, dan atas segala yang disempurnakanNya. Maha Suci Dia dengan segenap kekudusan dan keagunganNya. Maha Suci Dia yang menyifati Dirinya dengan segala kebaikan. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selainNya. Aku memohon ampun kepadaNya atas segala dosaku, dan kami berlindung kepadaNya dari berbagai kejahatan dan keburukan. Amin


Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar.
< QS. Al Waaqi
ah : 74 dan 96 >




~^*^~


[1] Maksudnya: melihat Allah dengan mata kepala.
[2] Karena permintaan yang semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai azab dari Tuhan.
[3] Maksudnya: membuat batu bata.
[4] Para mufassirin (ahli tafsir) ada yang mengartikan yang nampak oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah, dan ada pula yang menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah. Bagaimanapun juga penampakan Tuhan itu bukanlah penampakan [seperti halnya] makhluk, hanyalah penampakan yang sesuai sifat-sifat Tuhan yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.
[5] Perbuatan tersebut adalah : Nabi Khidir melubangi perahu yang mereka tumpangi, membunuh seorang anak kecil yang tak berdosa, dan membangun tembok rumah anak yatim. Kisahnya terdapat dalam Al Qur
an surah Al Kahfi.

Komentar»

No comments yet — be the first.