jump to navigation

BERMIMPI YANG TINGGI… 25 Nopember, 2007

Posted by Ahmad Arafat in Motivating Inspiration.
Tags: , , , , ,
trackback

Shoot for the moon.

Even if you miss, you will land among the stars”.

(Les Brown)

~

Arahkan sasaranmu ke bulan. Bahkan jika engkau meleset,

engkau akan mendarat di antara bintang-bintang”.

 

 

Mungkin ada yang bertanya-tanya, seberapa pentingnya kita memiliki cita-cita yang tinggi? Bukankah cita-cita yang terlalu tinggi hanya akan mengganggu pikiran kita, dan membuat kita merasa terbebani? Bukankah jauh lebih baik jika hanya memiliki mimpi sederhana, tetapi tak sulit untuk diwujudkan?

 

Well, saya akan memberikan sebuah ilustrasi. Ada dua buah kebun. Satu kebun yang sangat luas, satunya lagi kebun yang kecil dan sederhana. Isi dua kebun tersebut juga berbeda. Kebun yang kecil dipenuhi oleh berbagai pohon rindang yang berbuah lebat, bermacam tumbuhan dapat ditemui di dalamnya, sungguh menggiurkan bagi mereka yang ingin menghilangkan lapar dengan mudah. Sedangkan kebun yang lainnya, kebun yang sangat luas tersebut, tidak banyak memiliki pohon berbuah atau tumbuh-tumbuhan. Namun, di dalam kebun yang luas itu tersimpan banyak harta karun berupa emas permata juga logam berharga. Dan, kebun tersebut dijaga oleh beberapa binatang buas yang ganas. Nah, jika dua kebun tersebut kita hadapkan pada orang-orang, yang mana yang akan mereka pilih untuk dimasuki?

Orang-orang yang berkemauan rendah tentu akan mencari aman dan sudah merasa puas bisa berada di kebun kecil yang dipenuhi pepohonan tersebut –cukup untuk memberi mereka makanan berhari-hari. Nampaknya lebih banyak orang yang memilih kebun yang kecil tersebut, sehingga tak lama kemudian kebun itupun menjadi penuh sesak dengan orang-orang, lalu persediaan makanan di dalamnya menjadi menipis dan terus berkurang. Maka, orang-orang di dalam kebun kecil tersebut saling bersaing berebut makanan yang tersisa. Entah seberapa keras persaingan dan seberapa ganas perkelahian yang mungkin terjadi di dalam kebun kecil itu. Hanya hukum rimbalah yang berlaku; yang kuat bertahan, yang lemah tertawan.

Kemudian, adakah orang yang memilih kebun yang luas dan kaya namun berbahaya tersebut? Mungkin jumlahnya sedikit, tapi selalu ada orang-orang yang berkemauan tinggi untuk menjamah kebun luas tersebut. Mungkin kebun luas itu memiliki binatang buas yang menjaganya, akan tetapi luasnya kebun itu sendiri memberikan kesempatan bagi pendatangnya untuk menjelajah dengan leluasa. Bahkan, bisa jadi, karena orang-orang yang mendatangi kebun tersebut lebih sedikit, maka mereka justeru akan berkolaborasi, bekerja sama, saling membantu untuk mencapai tujuan mereka yang sama; mengambil harta karun yang berharga. Maka, mulailah orang-orang itu bekerja mencari apa yang mereka cari. Selang waktunya mungkin cukup lama, sebab mereka berada dalam kebun yang sangat luas. Pencariannya mungkin bisa menjadi sangat melelahkan, dan juga mendebarkan. Begitulah, pencarian harta karun itu penuh teka teki. Bahkan ketika mereka telah bekerja sama, bisa jadi, mereka harus berhadapan dengan sang binatang buas penjaga kebun itu. Namun, setelah berusaha dengan mantap, masing-masing orang yang memasuki kebun itu berhasil membawa pulang bagian dari harta karun yang sangat berharga itu. Merekapun kembali dengan perasaan senang karena berhasil mendapatkan apa yang selama ini mereka cari.

Itulah permisalan antara orang-orang yang memiliki cita-impian yang rendah dan mereka yang bercita-cita mulia. Demikianlah perbandingan keadaan antara orang-orang yang bekerja hanya demi kebutuhan yang sesaat, dan mereka yang berjuang demi sesuatu yang jauh lebih berharga dan bermakna. Dan, sungguh berbeda pulalah akhir dan akibat yang diperoleh oleh kedua jenis manusia tersebut.

Orang yang bercita-cita rendah, hanya demi memenuhi nafsunya, akan mendapati dirinya berada di tengah-tengah ‘padang gersang’ yang dipenuhi oleh manusia ‘berhati serigala’. Mereka akan saling bertarung demi memperebutkan persediaan yang meskipun banyak, namun terbatas. Ingat, hanya ada hukum rimba yang berlaku di antara mereka.

 

Sedangkan orang-orang yang bercita-cita tinggi lagi mulia, mereka berjuang demi memperoleh sesuatu yang lebih berharga dan demi memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Mereka kemudian mendapati dirinya berada dalam medan perjuangan yang sarat tantangan bersama orang-orang lain yang serupa. Mereka lalu bekerja sama, bersatu, saling membantu dan mendukung demi meraih tujuan mereka bersama. Tak ada hukum rimba yang berlaku, meskipun mereka sedang berada di tengah rimba yang tak tentu. Hukum yang berlaku di tengah-tengah mereka adalah hukum kooperatif, kolaboratif, dan konstruktif. Mereka terus berjuang tanpa gentar, apapun yang mungkin terjadi. Bahkan ketika tujuan mereka belum tercapai, atau hasil yang diperoleh belum sesuai dengan yang diharapkan, mereka tak kecewa dan berputus asa. Sebab, mereka tahu, mereka telah mendapatkan “hal lain” yang tak kalah berharganya: “kebersamaan”.


Komentar»

No comments yet — be the first.